
''Ada beberapa hal yang ingin saya bahas lagi, Tuan.'' ujar Vina yang sedikit ragu untuk mengatakannya.
''Apa lagi?'' tanya Arkha balik.
''Kata anda tadi, Mikha dan nyonya Lidya sudah pindah ke luar negeri. Nah, kalau kita jadi menikah, apakah mereka akan pindah ke sini atau tetap melanjutkan hidup di sana?'' tanya Vina.
Arkha langsung menatap ke atas, ia belum memikirkan tentang hal itu. Yang ada dibenaknya hanyalah berhasil menikahi gadis itu untuk membahagiakan Mikhael.
''Soal itu, nanti tunggu permintaan dari Mikha saja.'' jawab Arkha.
Vina mengangguk kecil.
''Ada lagi Tuan.'' lanjut Vina.
Arkha menoleh tanpa bersuara.
''Kalau seandainya nanti Mikha ingin kembali tinggal di Indonesia, bisa kah anda membawa saya dan Mikha ke rumah yang memberikan kenyamanan. Nyaman yang saya maksud bukan rumah mewah seperti milik keluarga anda saat ini. Tapi, saya berharap kepura-puraan kita tidak mudah kebongkar. Juga tidak ada seseorang yang berupaya membuat pernikahan kita hancur karena masih kekeh supaya anda bisa menikah dengan wanita lain.'' pinta Vina yang sembari memikirkan Lidya.
Arkha terdiam sejenak.
''Ya, saya juga tidak mau tinggal di rumah itu. Kalau nanti Mikha benar-benar ingin pindah ke sini, saya akan membawa kalian tinggal di apartemen saja.'' jawab Arkha.
__ADS_1
Vina sedikit tersenyum. Sudah banyak terjadi mertua yang kejam terhadap menantunya. Apalagi mertua yang tidak merestui hubungan sang anak. Apalagi hal ini sudah pasti di tentang keras oleh orangtua Arkha, karena putranya sudah diharapkan dapat berjodoh dengan putri rekan bisnisnya.
''Tetap di apartemen anda yang waktu itu?'' tanya Vina hati-hati.
Arkha kembali menoleh.
''Kenapa memangnya?'' tanyanya dengan nada ketus.
''Maaf Tuan, saya berharap Mikha di bawa ke tempat yang tidak pernah digunakan untuk bermaksiat. Maaf.'' ucap Vina yang tidak berani menatap Arkha. Tapi, semua itu harus ia katakan sekarang juga.
Arkha menyunggingkan sudut bibirnya.
''Kenapa kamu jadi mengatur hidup saya?'' tanya Arkha.
''Kalau anda benar-benar peduli dengannya, saya mohon jangan sia-siakan langkah ini. Saya mohon anda harus menjaga hidup bebas yang sudah melekat pada diri anda itu, Tuan. Tolong beri contoh yang baik untuk Mikha.''
Arkha langsung merasa tertohok dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Bahkan Arkha sampai tidak bisa menjawab.
''Ya, nanti saya pikirkan lagi. Yang penting kamu sudah janji.'' ujar Arkha setelah beberapa saat terdiam.
Arkha melirik pergelangan tangannya, tak terasa waktu sudah semakin dinihari.
__ADS_1
''Saya akan pulang, dan kamu jangan pergi kemana-mana, apalagi sampai berani kabur dari sini!'' ancam Arkha sembari beranjak.
''Terus bagaimana dengan bos saya yang sekarang, Tuan?'' tanya Vina.
''Saya juga harus pamit dulu darinya. Lagian, masa iya saya tinggal di sini.'' protes Vina yang ikut beranjak dari sofa.
''Semua sudah saya urus! dan untuk kamu harus tetap di sini, soal makan dan pakaian, nanti akan ada seseorang yang datang atas perintah saya.'' terang Arkha.
''Saya pergi dulu.''
Vina membungkukkan badannya untuk merespon Arkha yang berpamitan.
''AARRRGHHH!!''
Vina mengacak-acak rambutnya sendiri setelah Arkha menghilang dari balik pintu. Gadis itu terjebak dalam situasi yang membingungkan.
''APA?!! Sudah jam 2 lebih???'' pekik Vina yang tidak menyangka.
Sama halnya dengan Vina, setelah keluar dari kamar hotel itu, Arkha langsung memukul-mukul kepalanya sendiri. Saat ini ia harus menghadap kedua orangtuanya untuk mengungkapkan rencananya yang akan menikah dengan Vina pada Minggu depan.
Sudah tak bisa ia bayangkan, tuan Leon dan nyonya Lidya sudah pasti akan terkejut dan juga marah. Harapan mereka untuk memiliki besan dari rekan bisnisnya pun harus gagal.
__ADS_1
''G1la anak kampung itu pikirannya luas juga.'' gumam Arkha.
Satu hari belum istirahat, Arkha memutuskan untuk menginap di hotel itu juga. Ia sudah memesan kamar yang berdampingan dengan kamar Vina.