(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 49 : Berpura-pura Juga Butuh Tenaga


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya


Lidya di buat cemas karena Arkha tidak menjawab teleponnya. Mikha juga menanyakan terus, tetapi Lidya belum mendapatkan informasi tentang putranya itu.


''Oma yang buat om Arkha tidak betah tinggal di rumah.'' protes Mikha.


''Bukan Oma yang salah, dasarnya om Arkha saja yang bandel.'' bantah Lidya.


Ting


Di tengah perdebatan antara nenek dan cucu itu, ponsel Lidya menerima pesan masuk. Ia segera membuka ponselnya, tertulis pesan masuk dari ''MY SON''.


...''Aku sedang ada urusan mendadak ke luar kota sama Dicky. Kalau sudah selesai aku pasti pulang ke rumah. Tapi, melihat urusan yang banyak, sepertinya aku bakal nginap, Ma. Sampaikan pesan ini ke Mikha''...


Pesan itu yang Arkha kirimkan untuk mamanya, ia tidak ingin kebingungan orang rumah membuat masalah besar karena mencarinya.


''Ternyata om Arkha sedang ada pekerjaan ke luar kota, sayang.'' ujar Lidya pada cucunya itu.


''Oohhhh. Tapi, kok tadi nggak bilang-bilang dulu sama aku?'' tanya Mikha.


''Kata om Arkha, perginya mendadak sama om Dicky.'' jawab Lidya.


"Terus, pulangnya kapan, Oma?'' tanya Mikha.


''Sepertinya besok, sayang. Karena om Arkha bilang masih banyak pekerjaan di sana.'' terang Lidya.


Bibir Mikhael kembali membulat. Ia sudah tidak bertanya-tanya lagi mengenai keberadaan Arkha. Yang pasti ia tidak akan menanyakan Arkha untuk hari ini, hingga sampai esok hari.


..


Back to Arkha & Vina

__ADS_1


''Tuan, sejujurnya ada hal penting yang harus saya katakan sekarang.'' ujar Vina dengan menatap wajah Arkha dengan serius.


Tatapan mata Vina membuat Arkha menjadi deg-degan.


''A-apa?'' tanya Arkha yang tiba-tiba menjadi gugup. Di dalam hatinya ia sudah merutuki dirinya sendiri.


''Bod*h!! bisa-bisanya malah gugup sendiri!'' omel Arkha dalam hati.


Vina mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat supaya tawa itu masih bisa ia tahan.


"Hahaha, ternyata bisa gugup juga orang ini." tawa Vina dalam hati.


''Kamu mau bicara apa?!'' tanya Arkha yang sudah terlanjur malu, untung saja sudah tidak terdengar gugup lagi.


Vina merubah raut wajahnya menjadi seolah-olah sangat memelas, ia menunduk lalu mengusap perutnya. Arkha pun menatap Vina dengan hati yang pastinya kesal, karena merasa di kerjai.


''Jujuur, saya sangat lapar, Tuan.'' ungkap Vina


Vina yang menunduk pun langsung reflek menatap Arkha.


''Bagaimana anda bisa menanyakan hal itu tanpa merasa bersalah sedikitpun, Tuan?'' tanya Vina yang juga dengan nada tinggi.


''Ini sudah jam berapa, Tuan??? dan, sudah dari kapan saya berada di sini?''


Spontan Arkha melirik pergelangan tangannya, ia melihat waktu sudah bergeser di hari berikutnya, alias dinihari. Tidak terasa, kegiatannya hari ini benar-benar berbeda, sampai menghabiskan waktu yang tidak sedikit.


''Saya sudah melewatkan jam makan malam saya, untungnya saya ini masih hidup.'' sambung Vina.


''Ssttt diam! jangan berisik!'' protes Arkha yang sedang mencari nomor di ponselnya.


Vina melotot, bisa-bisanya malah Arkha memprotesnya, sedangkan rasa lapar ini juga atas perbuatan pria itu yang seenaknya sendiri. Yang sewajarnya melakukan protes juga Vina.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, staf hotel tempat Vina di culik mengantarkan makan malamnya.


''Cepat makan, habiskan semua itu!'' suruh Arkha setelah petugas hotel meninggalkan kamar tersebut.


Vina terbelalak dan juga meneguk air liurnya sendiri. Makanan yang disajikan terlihat sangat lezat. Tapi, itu sangat banyak untuk dirinya. Bahkan ia ragu untuk mampu menghabiskan atau tidak.


''Ini untuk makan malam saya dan anda 'kan, Tuan?'' tanya Vina.


''Kamu aja, saya masih kenyang.'' jawab Arkha.


''Yang benar saja, Tuan? ini banyak sekali.'' jawab Vina.


''Biar kamu nggak m*ti kelaparan!'' jawab Arkha dengan santai.


Jika orang yang dihadapannya bukan Arkha, andai saja teman mainnya, sudah pasti orang itu akan Vina tampol.


''Cepat habiskan!'' suruh Arkha.


Vina tak menjawab, ia langsung melahap makanan yang sudah tersaji untuknya. Ia tak mempedulikan keberadaan Arkha yang pasti juga tidak peduli dengannya.


Meskipun pandangan pertama di penuhi keraguan tidak bisa menghabiskan makanan itu, ternyata Vina mampu menghabiskannya. Ia sendiri pun tidak menyangka. Meskipun ia sering makan dalam porsi banyak, tapi, tidak sebanyak yang sekarang ada di hadapannya itu.


Arkha langsung menelan salivanya sendiri ketika melihat Vina benar-benar mampu makan dalam porsi yang banyak. Tapi, ia juga heran kemana larinya makanan itu karena tubuh Vina tidak gemuk.


''Karena berpura-pura juga butuh tenaga, Tuan. Saya harus kenyang supaya tetap sehat, 'kan?''


''Sayang sekali kalau tidak dihabiskan.'' ujar Vina yang menyadari ekspresi Arkha keheranan.


''Terserah kamu.'' balas Arkha.


Vina tersenyum sendiri sembari merapikan meja.

__ADS_1


__ADS_2