
Setelah mendengar kabar bahagia dari Arkha, Mikha sangat semangat. Ia menghubungi neneknya tanpa sepengetahuan Lidya. Lidya pun tengah di kamarnya sendiri. Saat ini Mikha sudah dipegangi ponsel sendiri, karena untuk sewaktu-waktu jika ditinggal. Tapi, tentu saja isi ponselnya sudah dalam pengawasan ketat.
''Iya Mikha? ada apa, nak?'' tanya neneknya setelah menjawab telepon dari sang cucu.
''Neneeeek! kenapa Nenek sama kakek tidak bilang sama Mikha kalau om Arkha sama mbak Vina mau menikah?''
''Oma dan opa juga sama, om Arkha bilang ini kejutan.'' ujar Mikha.
Nenek Mikha pun di sana langsung menggaruk kepalanya karena belum mengetahui apapun soal ini. Ia sangat terkejut, tetapi berusaha menutupi. Ia sudah paham bahwa pasti ada hal yang terpaksa dilakukan sehingga pernikahan itu akan berlangsung.
''Ohhh, ituu? 'kan kami tau kalau Mikha suka sekali sama kejutan, iya 'kan?'' balasnya.
''Hihihi, iya benar.'' jawab Mikha sembari cengengesan.
''Terus, gimana? Mikha senang apa tidak?'' tanya neneknya.
''Tentu saja Mikha senang, Nek. Nanti sore om Arkha bilang mau ajak aku ketemu sama mbak Vina.'' terang Mikha.
Obrolan itu tak berlangsung lama, Mikha lebih dulu memutuskan sambungan telepon.
''Semoga kamu benar-benar bisa mencintai gadis itu, nak Arkha.'' bathin nenek Mikha.
Keluarga mendiang mamanya Mikha menyukai Vina. Ia tau bahwa Arkha dan Mikha sangatlah dekat, tidak mungkin mereka akan hidup berjauhan sekalipun saat Arkha menikah nanti. Mereka berharap, yang menjadi pasangan Arkha kelak adalah wanita yang benar-benar memiliki jiwa keibuan. Selama ini mendengar harapan keluarga besannya membuat mereka geleng kepala.
...
Sesuai janjinya, Arkha menjemput Mikha untuk membawanya bertemu dengan Vina hari ini. Karena mulai besok, Arkha sudah harus memasang topengnya kembali ketika bertemu dengan orangtua Vina.
''Mikha sudah mandi?'' tanya Arkha.
''Sudah dong, Om. Mikha sudah kangen sekali sama mbak Vina.'' jawab Mikha jujur.
Arkha mengusap rambut Mikha.
''Sebentar lagi ketemu ya, sayang.''
''Om Arkha siap-siap dulu, bau keringat nih.'' ujar Arkha sembari mencium ketiaknya sendiri.
''Hehehe, iya Om Arkha belum mandi, nanti mbak Vina takut.'' balas Mikha.
Arkha hanya nyengir, lalu meninggalkan Mikha yang masih di temani salah satu ART.
__ADS_1
Saat berjalan menuju kamarnya, Arkha berpapasan dengan Lidya. Lidya menatap putranya itu dengan tatapan kecewa, tapi, ia hanya bisa diam sembari menahan rasa kecewanya itu. Tanpa bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
Arkha menyimpulkan senyumnya, lalu masuk ke dalam kamar. Ia membersihkan badannya tidak pakai lama dan mengganti pakaiannya yang lebih simpel, hanya memakai kaos dan celana pendek.
Sepuluh menit kemudian, Arkha dan Mikha sudah berada di dalam mobil. Mikha tak henti-hentinya berbicara. Keceriwisannya itu tidak berubah. Hal itu semakin membuat Arkha yakin bahwa keputusan ini sudah sangat tepat.
''Mbak Vina tinggal di hotel ini, Om?'' tanya Mikha sembari menoleh ke arah Arkha setelah Arkha menghentikan mobilnya ke sebuah hotel.
''Iya.'' jawab Arkha yang diikuti dengan senyuman.
Dua pria tampan beda usia itu berjalan beriringan. Arkha tidak menggendong Mikha lagi karena keponakannya itu juga sudah tidak mau diperlakukan seperti anak kecil.
Sebelum menemui Vina, Arkha membicarakan sesuatu pada Mikha, dan Mikha terlihat mengangguk-angguk.
''Tuan Arkha.''
Vina pun langsung bergegas menuju pintu saat melihat kedatangan Arkha.
''Ada yang mau ketemu sama kamu.'' ujar Arkha.
''Ha? siapa, Tuan?'' tanya Vina.
Jantung Vina gemetaran, ia berpikir yang akan bertemu dengannya adalah Lidya ataupun tuan Leon.
''MBAK VINAAAA!''
''MIKHAAAAAA!''
Vina langsung jongkok sembari memeluk Mikha dengan sangat erat. Vina menangis di dalam pelukan itu. Hanya Mikha yang ia yakini bisa menyayanginya dengan tulus.
''Mikha sudah gede, Mbak Vina kangen.'' ujar Vina.
''Mikha juga kangen sama Mbak Vina, tapi, Mbak Vina yang meninggalkan Mikha.'' protes Mikha.
Vina menghela napas panjang, sudah pasti cerita dan fakta menjadi berbeda.
''Mbak Vina minta maaf ya.'' ucap Vina.
''Okay, Mikha maafin.'' balas Mikha.
''Ayo duduk.'' ajak Vina sembari menggandeng tangan Mikha.
__ADS_1
''Mari, Tuan.'' sambung Vina untuk Arkha.
Begitu bertemu, Mikha tidak mau jauh-jauh dari Vina. Arkha semakin seperti obat nyamuk.
''Ini sebenarnya yang mau nikah itu gue sama anak kampung itu atau Mikha sama dia sih?'' bathin Arkha.
Karena tinggal di hotel, Vina tidak mengolah makanan apapun, ia tinggal menerima saja apa yang diantarkan untuknya.
''Pokoknya Mikha happy sekali, nanti Mikha mau minta pindah sekolah ke Indonesia ya, Om?'' tanya Mikha yang akhirnya mengingat keberadaan om-nya disini.
''Nanti bicara sama opa dan oma ya kalau soal sekolah.'' jawab Arkha.
''Iya, Om.'' jawab Mikha.
Setelah shalat Maghrib, Arkha mengajak Mikha dan juga Vina ke tempat bermain. Vina bisa tersenyum senang, meskipun ia tau Arkha terpaksa mau melaksanakan shalat. Baginya tidak masalah, nanti lama-lama akan terbiasa.
Baru turun dari mobil, Mikha langsung berdiri ditengah-tengah Arkha dan Vina. Ia juga menggenggam tangan mereka dan menatapnya satu persatu.
''Kata orang dewasa itu, kalau laki-laki dan perempuan menikah namanya jodoh.'' ujar Mikha.
Arkha dan Vina masih diam mencerna apa yang dikatakan Mikha.
''Dan, Mikha senang karena Mbak Vina merupakan jodoh untuk Om Arkha.'' pungkasnya lalu mengajak Arkha dan Vina yang masih terbengong-bengong itu melanjutkan langkahnya.
Hehehe
Arkha dan Vina serempak nyengir.
Menikah?
Bagaimana menjalani hari-hari setelah pernikahan itu?
Dunia pernikahan seperti apa yang akan ku jalani?
Apa aku benar-benar mampu membuatnya bisa tertarik padaku?
Vina, kamu pasti bisa!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih banyak atas kunjungan dan dukungannya di novel ini. Kelanjutan ceritanya akan author buatkan judul baru ya, judulnya ''Dunia Pernikahan Arkha & Ervina".
__ADS_1
Cerita di mulai dari pernikahan mereka ya❤️
Jangan lupa untuk ikuti author, supaya tidak ketinggalan karya baru dari Cimai ya👍 terima kasih🥰