
Beberapa waktu kemudian
Cukup lama Arkha sudah berada di tanah air. Aktivitas kerja dan pergaulannya berjalan lancar tanpa hambatan. Apalagi kedua orangtuanya juga masih sangat mempercayainya.
Mikha sudah memasuki masa liburan sekolah. Awal liburan ia menginap di rumah kakek nenek dari ibunya beberapa hari, tentu saja bersama Vina. Saat ini sudah di antar kembali ke kediaman Leonardo.
''Mikha pasti happy.'' ujar Lidya.
''Sangat happy, Omaa.'' seru Mikha.
Kakek dan neneknya senang melihat Mikha yang full senyum seperti ini. Setidaknya luka lama kehilangan kedua orang tuanya bisa teralihkan ketika melihat senyum ketulusan yang tergambar dalam diri Mikha.
Terkadang, senyum dan tawa dari anak sekecil Mikhael ini berhasil membuat keluarganya terenyuh. Dibalik senyumnya yang tulus, tersimpan kesedihan yang tidak diungkapkan. Anak sekecil itu harus melanjutkan hidup tanpa kedua orangtuanya. Tapi, semua itu sudah takdir dari yang Maha Kuasa, manusia tidak bisa menyalahkan apapun. Masih banyak yang patut Mikha syukuri, ia tumbuh di tengah keluarga yang mampu.
Mikha bersama Vina masuk ke dalam ruangannya untuk mencari mainan yang akan di pakai.
''Mikha anak yang kuat.'' ujar mama Lidya pada besannya.
''Benar jeng, kalau melihat Mikha tidur, rasanya langsung teringat anak-anak kita yang sudah tiada ya.'' balas besan mama Lidya.
Lidya tersenyum tipis.
''Aku hanya memikirkan bagaimana nanti kalau Mikha bertambah besar, dan melihat teman-teman lainnya bersama kedua orangtuanya.'' tutur Lidya dengan suara bergetar.
''Ya, jeng. Benar apa yang kamu bilang.''
Kedua wanita itu akhirnya sama-sama diam sejenak memikirkan nasib kedepannya untuk Mikhael.
Hari ini, mama Lidya tidak melakukan aktivitasnya karena kedatangan besan yang mengantarkan cucu mereka yang baru pulang sore hari.
Hal itu dimanfaatkan untuk bermain dengan cucu kesayangannya itu.
Setelah mengobrol dan menikmati hidangan yang disediakan oleh keluarga Leonardo, besannya pun pulang ke rumah. Waktunya oma Lidya bermain dengan cucunya.
Mikha sangat aktif berlarian kesana kemari. Neneknya yang sudah tidak muda lagi tentu saja membuat punggung, pinggang, serta kakinya cepat merasa lelah.
''Aduuhh kaki Oma sakit semua.'' serunya sehingga membuat sang cucu berhenti.
Lidya langsung terduduk dengan meluruskan kakinya.
''Oma ... mau Mikha pijit?'' ujar Mikha dengan polosnya menawarkan diri.
''Memangnya Mikha bisa mijit Oma?'' tanya Lidya ingin tertawa karena gemas dengan cucunya itu.
''Bisa, Oma.'' jawab Mikha yakin.
__ADS_1
"Ya sudah, coba pijit Oma disini ya.'' balas Lidya menunjukkan pada betisnya.
Tangan kecil Mikhael pun langsung memijit betis omanya. Pergerakannya sudah seperti orang dewasa, tetapi justru malah di rasa geli.
''Mikha pinter sekali, haha.'' puji Lidya yang tidak bisa menahan tawanya karena geli.
''Sepertinya sudah cukup sayang.'' ujar omanya yang semakin geli.
Tangan kecil Mikha menyudahi pijitannya.
''Omaa ... kenapa om Arkha nggak tinggal disini aja? 'kan biar rame-rame disini sama kita.'' tanya Mikha dengan bibir cemberut.
Wanita itu mengusap lembut puncak kepala Mikha.
''Om Arkha masih ingin belajar mandiri dulu ya sayang.'' jawab Lidya.
''Memangnya om Arkha penakut ya, Oma?'' tanya Mikha dengan polosnya.
Lidya dan Vina langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Mikha.
''Iya, om Arkha penakut, jadi harus belajar tinggal sendiri dulu.'' balas oma yang mulai beralasan sekenanya.
''Wahh, cucuku memang benar-benar cerdas.'' ujar oma lirih kepada Vina.
Vina mengangguk.
''Oma ... Mikha mau nginap di apartemennya om Alkha, boleh?''
''Hah?!''
Oma dan Vina langsung kompak menoleh.
''Om Arkha 'kan juga sering kesini, sayang.'' balas oma.
''Kalau di rumah terus 'kan bosen, Oma. Mikha mau nginap disana sebentar aja.'' pinta Mikhael.
Lidya langsung menoleh ke arah Vina. Vina tidak bisa menjawab apapun karena keputusannya juga tetap milik yang menggajinya.
''Ya sudah, nanti kalau om Arkha datang kesini, Mikha coba bilang sendiri ya.'' ujar Lidya.
''Iya, Oma.'' jawab Mikha.
°°
Arkha menyisir rambutnya sebentar lalu cepat menyambar kunci mobil yang di atas kasur. Ia akan mengunjungi ponakannya yang sedang menikmati hari libur sekolah.
__ADS_1
Setelah melewati jalan yang padat, Arkha tiba di kediaman orangtuanya. Ia melihat Mikha masih bermain sepeda roda tiga di halaman rumah.
''Selamat pagi Mikhael kesayangan Om Arkha.'' seru Arkha menyapa keponakannya itu.
Vina yang masih mendorong sepeda tersebut juga langsung menghentikan gerakannya.
''Om Arkhaaaa!'' seru Mikha antusias.
Arkha segera mendekati keponakannya itu. Memberikan kecupan manis di keningnya.
Vina mundur satu langkah untuk memberikan ruang mereka melakukan interaksi.
''Masih maem ya?'' tanya Arkha.
''Iya, Oom.'' jawab Mikhael.
Arkha mendongak menatap Vina.
''Sini, biar saya yang menyuapi.'' ujar Arkha.
''Tapi, Tuan-'' balas Vina.
Arkha tetap menyodorkan tangannya untuk siap menerima piring kecil yang masih berada di tangan Vina.
Dengan ragu Vina memberikan piring itu kepada Arkha yang terus memaksa. Ia tidak enak karena sadar bahwa itu pekerjaannya. Tapi, Arkha sudah memberikan tatapan mata yang tajam.
''Kamu kerjakan yang lain saja. Masak kek, apa mandi sana, bau asem tuh badanmu.'' celetuk Arkha.
Vina langsung reflek mencium ketiaknya sendiri untuk memastikan.
''Orang sudah mandi!'' gumam Vina menahan rasa kesalnya.
Namun, sedetik kemudian ia berpura-pura biasa saja karena hendak berbicara dengan Mikha.
''Mikha, om Arkha mau lanjutkan suapin Mikha. Jadi, Mbak Vina mau bantu bersih-bersih dulu ya.'' ujar Vina.
''Iya, Mbak Ina.'' balas Mikha.
Vina tersenyum lalu berdiri tegak sebelum meninggalkan dua pria itu.
''Titip ya, Tuan.'' ucap Vina lirih dan langsung berjalan cepat.
''Memangnya keponakanku barang!'' bathin Arkha kesal.
Vina meninggalkan halaman rumah, dan yang menyuapi Mikhael beralih pada Arkha yang memang meminta. Arkha membawa Mikhael untuk mengelilingi halaman rumah dengan menaiki sepeda roda tiga. Arkha terlihat sangat telaten momong ponakannya itu agar menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Suapan terakhir, nih." ujar Arkha terlihat sangat senang karena Mikha menghabiskan makanannya.
Karena baru saja menyuapi, Arkha menahan Mikha agar tidak lanjut mengayuh sepedanya. Arkha membiarkan Mikha untuk menelan makanannya terlebih dahulu.