
Setelah berpikir-pikir, mempertimbangkan lagi dari berbagai sisi, berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri. Akhirnya Vina membuat keputusan besar setelah menarik nafasnya dalam-dalam. Ia membaca basmallah di dalam hatinya.
''Baiklah, saya bersedia menikah dengan anda, tapi,-''
Arkha sedikit tersenyum, tapi, perkataan Vina yang terpotong membuatnya penasaran.
''Tapi, apa?'' tanya Arkha.
''Kamu minta mahar apa? berapa? minta belikan apa? saya turuti semuanya.'' sambung Arkha.
Vina menarik nafas panjang lagi.
''Bukan itu, Tuan. Tapi, bagaimana dengan nyonya Lidya? dan juga tuan Leon?'' tanya Vina.
Arkha kembali terdiam, ia membuat keputusan itu sendiri, dan memang tengah dipusingkan dengan hal ini. Ia harus siap-siap menerima penolakan dari kedua orangtuanya. Sementara ia tak ingin pernikahannya dengan Vina akan gagal. Sikapnya kini juga sudah hal besar yang ia lakukan. Kalau bukan demi Mikha, ia malas berbicara seperti ini dengan Vina.
''Saya sedang mengupayakan restu dari mereka. Jadi, tolong kita bekerjasama agar rencana ini tidak gagal.'' pinta Arkha.
''Bekerjasama bagaimana?'' balas Vina.
__ADS_1
''Begini Vin, mama itu tetap meminta saya untuk menikah dengan anak dari rekan bisnisnya. Tapi, saya tidak mau. Nah, karena ini permintaan yang disertai paksaan dari Mikha, saya mau tidak mau harus menikah dengan kamu. Sedangkan kalau saya menikah dengan perempuan itu, saya tidak yakin dia bisa di terima sama Mikha. Itu hanya membuat mama bahagia, tidak dengan Mikha yang akan semakin terluka.'' terang Arkha.
''Kita harus bekerjasama, Vina. Kita pura-pura selama ini sama-sama menyimpan cinta. Kita tunjukkan di depan mereka kalau kita saling jatuh cinta. Kita tunjukkan bahwa kita memang benar-benar ingin menikah.'' pinta Arkha.
Vina langsung mengernyitkan keningnya. Gerakan kepalanya yang mundur menandakan bahwa ia sangat shock. Bahkan ia sampai tidak bisa menjawab apa-apa.
''Demi Mikha, saya mohon.'' ujar Arkha.
Vina masih terlihat shock, ia masih diam.
''Kalau kita tetap seperti dulu dan tiba-tiba mau menikah, yang ada mama akan terus-menerus memaksa saya untuk menikah dengan anak rekan bisnisnya itu.'' sambung Arkha.
''Aku tidak mau menikah hanya untuk sementara.'' bathin Vina.
Vina menatap Arkha.
''Kalau pernikahan itu tetap dilanjutkan, aku harus bisa membuatnya jatuh cinta padaku dengan seiring berjalannya waktu.'' bathin Vina lagi.
Vina mengangguk-angguk kecil saat menunduk. Meskipun itu adalah hal sulit bagi dirinya, tapi, ia akan mengupayakan agar tidak terjadi perceraian setelah adanya pernikahan, kecuali perceraian karena kematian.
__ADS_1
''Woy!''
''VINA!''
Arkha melambai-lambaikan tangannya di depan mata Vina.
''Eh, iya, maaf, Tuan. Saya sedang memikirkan semua ini.'' ujar Vina.
''Hm, terus gimana? sudah dapat kesimpulan yang yakin dan mantap?'' tanya Arkha yang sudah tidak sabaran.
Dengan ragu, Vina akhirnya mengangguk.
''Saya hanya bisa bismillahirrahmanirrahim, semoga jalan ini memang jalan yang sudah di ridhoi oleh Allah, Tuan.'' jawab Vina dengan sedikit senyum di sudut bibirnya.
Arkha langsung nyengir tanpa bersuara.
''Kenapa dia serius sekali?'' bathin Arkha heran.
Arkha melirik ke arah Vina sekilas, gadis itu tengah menunduk dalam.
__ADS_1
Sementara yang Vina pikirkan saat ini sudah bercampur aduk. Terutama mengenai masa depannya yang tiba-tiba akan berubah status menjadi seorang istri dari Arkha, seseorang yang ia benci selama ini.