(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 36 : Selalu Bertahan Di Sini


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


Mikhael sudah tumbuh menjadi murid TK, usianya saat ini sudah 6 tahun. Tidak mudah mendampingi tumbuh kembangnya. Setelah keluarnya Vina dari keluarga Leonardo, pengasuh Mikha mengalami pergantian beberapa kali karena tidak mampu menghadapi emosional Mikhael dan juga amarah Lidya yang selalu mengomel saat pengasuh Mikha tidak berhasil membujuk cucunya untuk lebih tenang. Paling lama hanya bertahan 3 bulan saja.


Pada akhirnya, Lidya membawa Mikha ke luar negeri agar cucunya itu bisa lupa dengan Vina. Mereka tinggal di sana, sementara di tanah air sudah di handle oleh Arkha. Meskipun awalnya dari pihak besan keluarga Leonardo menyayangkan karena jarak yang jauh sehingga sulit untuk bertemu. Tapi, kondisi keuangan itu membuat keluarga Leonardo tidak bisa di bantah.


Ego keluarga Leonardo begitu tinggi, mereka bahkan tidak memikirkan kondisi kesehatan Mikhael yang sering sakit pasca Vina sudah tidak berada di sana. Dan pada saat sakit, nama yang di cari selalu Vina, bukan Lidya, Arkha, tuan Leon, apalagi mbaknya yang baru.


Meskipun begitu, mereka tak sekalipun mencari keberadaan Vina, yang ada Lidya semakin. Bahkan Arkha juga tidak memberi tahu kepada kedua orangtuanya mengenai apa yang pernah ia lihat beberapa tahun yang lalu. Baginya itu tidak penting, ia cukup tau saja.


Esok hari mulai libur panjang, Arkha yang masih sibuk tidak bisa berkunjung ke luar negeri. Lidya yang juga ingin mengontrol butiknya secara langsung dan rindu terhadap putranya pun akhirnya memutuskan untuk berlibur ke tanah air, sekalian mengunjungi besannya yang sudah lama tidak berjumpa.


Di tempat lain


Vina tidak pindah-pindah lagi, sejak hari itu ia sudah menetap bekerja di rumah makan milik Gian. Vina juga setiap tahun bisa pulang kampung.


''Besok berangkat jam berapa, Vin?'' tanya Gian.


''Dari sini sore, Mas.'' jawab Vina.


Ratna dan Hadi sudah tidak bekerja di sana, mereka sudah diberikan kepercayaan bayi kembar laki-laki sehingga tidak bisa jika bekerja di rumah makan yang ramai.


Sebagai pengganti, saudara Gian yang lain datang kemari untuk membantu di bagian dapur.


''Jangan lama-lama lho ya.'' pinta Gian.


''Siaap Bos, sesuai izin, hehe''


Vina akan pulang kampung selama 4 hari karena ada acara keluarga. Sepupunya yang cukup dekat dengannya akan menikah dua hari lagi. Vina sudah berjanji pada sepupunya itu, ia akan hadir kalau dia menikah.

__ADS_1


''Siap-siap pertanyaan kapan nyusul, Vin, haha'' ledek Gian.


Vina tidak mau ambil pusing, ia tidak mau terburu-buru menentukan pernikahan hanya karena desakan dari orang lain.


''Ah, soal itu mah gampang banget, cuekin aja.'' jawab Vina.


Gian tersenyum lebar.


''Memangnya kamu belum ada rencana mau menikah, Vin?'' tanya Gian.


Vina langsung menatap ke atas sembari berpikir.


''Emmm, kayaknya belum deh, Mas. Soalnya aku masih takut belum bisa jadi istri yang baik, belum bisa jadi menantu yang baik, takut punya mertua galak, dan buanyak hal lainnya.'' terang Vina.


Gian terkekeh kecil.


''Dan satu lagi!'' seru Vina.


''Takut punya suami yang bermuka dua, di depan keluarga kelihatan baik banget, tapi, nyatanya tukang selingkuh, suka jajan di luar, hihh!'' Vina langsung terbayangkan wajah Arkha yang sombong itu sehingga membuatnya bisa semakin terpancing emosi.


Gian terkekeh lagi, kali ini suaranya lebih besar.


Setelah terbayangkan Arkha, Vina langsung terdiam. Ia teringat Mikha.


Pak Yanto sudah beberapa kali memberikan informasi padanya mengenai kondisi Mikha. Vina sampai menangis saat pak Yanto bercerita. Karena saat pak Yanto bercerita pada Vina, Gian selalu berada di sebelahnya, sehingga ia juga tau.


''Sudah satu bulan pak Yanto nggak main kesini ya, Mas?'' tanya Vina.


''Mungkin lagi sibuk, Vin.'' jawab Gian.

__ADS_1


Vina menghela nafas panjang.


''Apa semua orang kaya seperti itu ya, Mas?'' tanya Vina lagi.


''Sudah pasti tidak, Vin.'' jawab Gian.


''Aku tuh kangen banget sama Mikha.'' lirih Vina.


''Yang sabar ya, Vin ... mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Do'akan saja supaya Mikha itu tidak mudah sakit-sakit lagi. Kamu juga bisa betah bantu-bantu di sini.'' ujar Gian.


Vina tersenyum tipis sembari mengangguk saat menoleh ke arah Gian.


''Suatu hari nanti akan tiba waktunya aku nggak di sini lagi, Mas.'' ujar Vina.


''Tapi, aku nggak akan pernah lupa sama pak Yanto dan juga Mas Gian. Kalian benar-benar menjadi pahlawanku.'' sambung Vina.


Jawaban Vina membuat kedua alis Gian hampir bertautan.


''Kamu sudah kepikiran untuk berhenti dari sini, Vin?'' tanya Gian.


''Yaaa, gimana ya ... aku juga ingin hidup tidak bergantung pada usaha orang lain terus, Mas.'' jawab Vina.


Jawaban Vina terdengar masuk akal. Tapi, ada hal lain yang diharapkan oleh Gian.


''Aku penginnya kamu selalu bertahan di sini, Vin.'' pinta Gian.


Vina terdiam sembari mencerna. Meskipun selama ini tidak ada ungkapan apapun, sikap Gian pada Vina memang begitu hangat. Ia selalu memberikan kenyamanan pada Vina agar tidak merasa bosan untuk bekerja di rumah makannya.


''Sepertinya sudah mau Maghrib, Mas. Aku mau ke kamar dulu.'' pamit Vina.

__ADS_1


Mereka tengah bersantai di halaman bagian pinggir, di sana terdapat pohon dan dibawahnya dibuatkan kursi dari kayu sehingga nyaman di pakai untuk mengobrol seperti ini.


''Ohh, iya.'' jawab Gian.


__ADS_2