
Vina pun menjadi kasian ketika membayangkan Gian. Pria itu sudah sangat baik padanya, ia berjanji tidak akan membuatnya kecewa. Justru sekarang harus terlibat kembali dalam keluarga Leonardo.
''Anda jangan sakiti mas Gian.'' pinta Vina.
Arkha tersenyum sinis si sudut bibirnya.
''Ck! kalian pacaran ya?'' tebaknya.
''Bukan.'' jawab Vina cepat.
Arkha kembali tersenyum sinis.
''Kita akan menikah minggu depan.'' ujar Arkha dengan entengnya.
''APA?!'' pekik Vina.
''Biasa aja dong, nggak usah melotot terus!'' protes Arkha.
Vina menghela nafas geram.
''Saya tidak mau menikah dengan anda. Anda juga tidak mau 'kan menikah dengan saya?'' balas Vina.
Arkha menyandarkan kepalanya di sandaran sofa itu. Hari ini ia tidak istirahat sama sekali sehingga membuat kepalanya terasa sangat pusing. Di tambah dengan teriakan-teriakan Vina yang membuat pekak telinganya.
__ADS_1
''Dengarkan saya!''
''Setelah kamu keluar dari rumah, tidak ada pengasuh Mikha yang bisa bertahan lama. Berkali-kali sudah ganti, tidak ada yang cocok dengan perubahan sikap Mikha yang kerap marah-marah.''
''Asal kamu tau, setelah itu, mama, papa, dan Mikha pindah ke luar negeri. Kami berharap Mikha bisa melupakan kamu. Tapi, upaya itu gagal.''
''Memang, setelah beberapa waktu di sana, sepertinya Mikha sudah betah. Dia juga nggak pernah lagi membahas kamu. Dia berhasil membuat kami semua lega.''
''Kami masih mengupayakan agar kita tidak menikah. Dengan siapapun saya tidak mau menikah, saya tidak ingin memiliki hubungan yang terikat. Apalagi menikah hanya untuk kepentingan bisnis.''
''Tapii,-''
Arkha menghela nafas panjang sembari menekan pelipisnya.
''Mikha kembali mengungkapkan permintaan itu lagi, kemarin. Dia sedang berlibur di Indonesia sama mama.''
''Asal kamu tau, ternyata selama ini dia menyembunyikan kesedihannya, dia juga di bully sama teman-teman sekolahnya karena tidak memiliki daddy dan mommy.''
''Dia minta, kalau saya tidak menikah dengan kamu, dia minta carikan wanita lain yang sama persis dengan kamu.''
Huufftttt
''Bukankah itu sama saja maunya ya kamu.'' pungkas Arkha.
__ADS_1
Awalnya Vina terdiam mencerna, tapi, beberapa detik kemudian, ia meragukan kalimat itu. Kenakalan Arkha kembali terngiang-ngiang di dalam benaknya.
''Hahaha, anda pasti sedang mengerjai saya 'kan?''
''Saya tau, anda pasti sudah kehabisan stock wanita di sana. Anda tidak bisa main-main sama saya.'' tuduh Vina.
''Hey! siapa juga yang mau nyentuh kamu? jangan kepedean!''
''Ini hanya demi Mikha! saya mohon sama kamu, Vina.''
''Tidak ada hal lain yang membahagiakan hati Mikha kecuali pernikahan kita.''
Sikap itu sangat bertolak belakang dengan Arkha yang selama ini Vina kenali. Sorot matanya menunjukkan ketulusan dan penuh harap. Tulus untuk mewujudkan harapan sang ponakan, bukan pernikahannya.
''Oke, supaya kamu lebih percaya dengan apa yang sudah saya katakan. Saya sudah merekam suara Mikha.'' ujar Arkha yang langsung mengeluarkan ponselnya.
Kemarin ketika baru tiba di rumah, Arkha yang hendak masuk ke dalam kamar pun sudah mengaktifkan aplikasi perekam suara.
Vina mendengarkan suara Mikha dengan seksama. Ada yang lebih membuat Vina terkejut sekaligus ingin menangis adalah ketika Mikha ingin ikut ke surga seperti kedua orangtuanya. Suara itu terdengar sangat pilu. Ia hidup dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tetapi juga egois.
Vina membayangkan kedewasaan Mikhael yang sudah terbentuk karena keadaan. Anak kecil itu harus bisa menahan rasa sedih dan amarahnya. Vina yang bersama Mikha sejak bayi pun langsung ikut meratap.
''Ya Allah, Mikhaa.'' lirih Vina.
__ADS_1