
Lidya harus memperbanyak stok sabarnya. Ia harus menerima proses sang cucu untuk tidak tergantung dan menyebut nama Vina lagi.
''Mikha sayang, mulai sekarang, kalau ada apa-apa ... kalau Mikha mau apaa aja, bilang sama Oma ya.'' ujar Lidya.
Bibir kecil Mikha kembali merengut, tapi, ia hanya menunduk diam.
Hingga waktu terus berjalan menuju waktunya tidur malam, Mikhael pun langsung merebahkan tubuhnya di kamarnya. Arkha pun belum kembali ke apartemennya, ia berencana akan kembali kesana setelah Mikha sudah terlelap.
''Sepertinya Mikha sudah tidur, Ma.'' ujar Arkha.
Lidya memastikan.
''Oh, iya, sudah tidur.'' jawab Lidya.
Arkha yang sudah kepikiran ke tempat lain pun langsung berpamitan pada Lidya.
Satu minggu kemudian
Kediaman Leonardo akan kedatangan calon pengasuh Mikha yang baru. Dari biodata yang keluarga Leonardo terima, perempuan itu masih berstatus gadis, saat ini berusia 23 tahun. Selain usianya yang lebih dewasa dari Vina, ia juga sudah memiliki pengalaman bekerja di hal yang sama. Tepatnya di daerah Balikpapan, Kalimantan Timur.
''Namanya Nita, ya?'' tanya Lidya.
Gadis itu di jemput langsung oleh tuan Leon dan juga Lidya. Mikha sedang di rumah bersama dengan Arkha.
''Iya.'' jawab gadis itu yang diikuti anggukan kepala.
__ADS_1
''Saya berharap kamu bisa sabar dan telaten ya untuk mendampingi kegiatan-kegiatan cucu saya.'' pinta Lidya.
"Baik Nyonya.'' jawab Nita.
''Saya mengambil kamu karena saya baca dari data yang kami terima, kamu sudah memiliki pengalaman yang cukup."
Nita mengangguk lagi.
"Saya tidak bermaksud membanding-bandingkan antara kamu dengan mbaknya yang lama. Tapi, karena sejak kecil, cucu saya sudah bersama mbaknya yang lama, dia sudah sangat lengket sekali, bahkan saya kalah.''
''Saya hanya berharap, kamu bisa mendampingi dengan cara kamu, dengan cara yang baik. Jangan sampai mempengaruhi cucu saya dengan kata-kata dan tindakan yang tidak baik.'' terang Lidya panjang lebar.
"Baik, Nyonya.'' jawab Nita.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah tiba di kediaman Leonardo. Seorang pria yang merupakan pekerja di kediaman Leonardo pun langsung mendekati mobil. Pria itu mengambil dua tas milik Nita.
''Sama-sama.'' jawabnya sambil tersenyum tipis.
''Langsung di bawa ke kamarnya aja ya, Pak.'' pinta tuan Leon.
''Baik, Tuan.''
Nita mengikuti langkah bos barunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Bukan pandangan pertama bagi Nita melihat rumah yang bagus dengan pajangan-pajangan mewah. Sehingga ia tampak biasa saja.
__ADS_1
''Omaaa ... Opaaaa!'' seru Mikha sembari berlarian dengan membawa mainan di tangannya.
''Hallo, sayang.'' balas tuan Leon dan Lidya bersamaan.
Nita tersenyum saat saling bertatap muka dengan Mikha, calon anak yang akan menjadi sumber penghasilannya itu. CandaağŸ¤
Mikha tersenyum sembari melambaikan tangan pada Nita.
''Ini Mbak Nita, salim dulu.'' ujar Lidya.
Mikha langsung mengulurkan tangannya. Kesan pertama masih terlihat aman. Mikha menyambut kedatangan Nita dengan ramah.
''Mbak Nita mau tidur disini ya?'' tanya Mikha dengan polos.
''Iya Mikha, boleh 'kan?'' balas Nita.
''Hehehe, boleh kok, Mbak.'' jawab Mikha.
Hari pertama yang juga sudah malam hari, Lidya memberikan waktu pada Nita untuk beristirahat terlebih dahulu. Memberikan waktu pada gadis itu untuk saling mengenal satu sama lain dengan para pekerja yang lain.
''Kamu bisa ngobrol-ngobrol dulu sama yang lainnya. Jam segini biasanya mereka masih ngumpul di belakang.'' ujar Lidya.
''Baik Nyonya.'' jawab Nita.
"Tadi saya sudah sampaikan ke mereka untuk menyiapkan makan malam kamu." ujar Lidya lagi.
__ADS_1
"Baik Nyonya, terima kasih." balas Nita.
Lidya mengangguk. Kemudian ia mengajak cucunya untuk tidur.