
Memilih untuk beristirahat di hotel, ternyata juga tidak bisa membuat Arkha merasa lebih tenang. Justru pikirannya semakin kacau ketika ia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Hingga waktu sudah menjelang subuh, Arkha memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
Pukul 05.15 WIB, Arkha tiba di kediaman Leonardo. Melihat mobil datang, petugas keamanan di rumah itupun langsung membukakan pintu gerbang karena sudah paham dengan mobil tersebut.
''Selamat pagi, Tuan.'' sapa satpam itu.
''Hmm.'' jawab Arkha.
Arkha pun langsung melajukan mobilnya menuju depan rumah karena garasi masih di tutup dan nanti mobil itupun akan di pakai. Aktivitas di rumah itu sudah mulai terlihat, terutama para asisten rumah tangga. Arkha yang sudah biasa dengan keangkuhannya itu pun tak peduli pada mereka. Ia melangkah dengan cuek tanpa menoleh-noleh.
''Lho, kok pagi-pagi sekali kamu pulangnya, Ar?'' tegur Lidya yang baru saja keluar dari kamarnya.
Arkha langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara mamanya.
''Iya, Ma. Aku ke kamar dulu ya, capek banget.'' jawab Arkha.
''Iya.''
Masih sepagi ini, Arkha tidak mau membahas mengenai tujuannya yang sudah ia sepakati bersama Vina. Ia pun ingin tarik nafas dulu setelah melewati harinya kemarin tanpa beraktivitas di kantor.
''Mata super ngantuk, tapi, susah sekali di ajak tidur.'' gerutu Arkha yang sudah berada di dalam kamarnya itu.
Berusaha untuk memejamkan matanya meskipun sebentar, ternyata tidak bisa juga. Akhirnya Arkha memilih untuk mandi dulu agar badannya lebih segar.
__ADS_1
Pukul 06.15 WIB, Arkha keluar dari kamar. Ia langsung menuju ke kamar keponakannya. Ia melihat pria kecil itu sudah rapi.
''Loh, Om Arkha kok sudah pulang?'' tanya Mikha senang.
''Iya, Om Arkha baru pulang tadi pas kamu masih tidur.'' jawab Arkha sembari mengusap lembut rambut Mikha.
''Ohhh, pantas aku nggak lihat Om Arkha pulang.'' balas Mikha.
Arkha pun tersenyum tipis.
''Ayo sarapan dulu.'' ajak Lidya.
Kedua pria itu langsung mengangguk. Mereka hanya sarapan bertiga, karena tuan Leon masih berada di luar negeri.
Di tempat lain
Gian mengangguk lesu, ia sedang malas untuk berbicara. Sejak tadi malam ia belum tidur sama sekali. Pikirannya terus menerus dipenuhi oleh Vina, ia khawatir dan juga kecewa. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah mendapatkan ancaman dari anak buah Arkha.
''Tapi, mendadak banget sih? sebelum izin pulang 'kan nggak ada bilang apa-apa, malah semangat banget dia mau bawain kita oleh-oleh.''
''Iya.'' jawab Gian singkat.
Tidak seperti biasanya Gian bersikap seperti itu. Untung saja ia sudah mahir dalam urusan perdapuran, sehingga tidak ada yang kelebihan rasa.
Hari ini suasana hati Gian sangat mendung, sesuai dengan cuaca bumi yang sudah di kelilingi oleh awan hitam.
__ADS_1
''Sebentar ya.'' ujar Gian.
Gian meninggalkan dapur setelah berpamitan, ia hendak menghubungi pak Yanto.
''Ada apa, Le?'' tanya pak Yanto setelah menjawab panggilan masuk.
''Maaf Paklik, aku nelpon pagi-pagi sekali.'' ucap Gian.
''Sepertinya ada hal yang sangat penting?'' tebak pak Yanto dari seberang sana.
''Iya Paklik, ada yang mau ku tanyakan.'' balas Gian.
''Apa itu?'' tanya pak Yanto.
''Apa Paklik tidak mendengar berita apapun mengenai si Arkha itu?'' tanya Arkha.
''Tuan Arkha? kenapa memangnya?'' tanya balik pak Yanto.
Gian menarik nafas panjang karena dadanya sudah terasa sesak.
''Dia benar-benar akan menikahi Vina, Paklik.'' tutur Gian merasa sakit hati ketika mengatakan hal itu.
Pak Yanto yang masih menyeruput kopi hitamnya pun langsung tersedak. Meskipun bukan hal baru yang ia dengar, tetapi berita ini sangat mengejutkannya.
''Apa kamu sedang ngelindur to, Le?'' tanya pak Yanto yang masih merasa ragu jika keputusan menikah akan terungkap secepat ini.
__ADS_1
''Aku sadar, Paklik, bahkan Vina tidak kembali ke sini karena sekarang sudah berada di tangan b4jingan itu.'' tutur Gian.
''APA?!'' pekik pak Yanto kaget.