(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 43 : Janji Pernikahan


__ADS_3

Arkha dan Dicky sudah duduk di sofa ruang tamu. Arkha mengedarkan pandangannya di ruang tamu yang sederhana itu. Rumah permanen yang umum di pedesaan. Ada beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding.


Sebelumnya ibu Vina langsung masuk ke belakang, ia membuatkan teh dan juga menyuguhkan roti kering yang kebetulan masih ada.


''Silahkan di minum, Tuan ... maaf hanya hidangan orang kampung.'' ucap ibunya Vina.


''Terima kasih, Bu.'' balas Arkha yang terlihat sangat manis itu.


Wanita paruh baya itu pun kembali duduk di sebelah suaminya setelah mengembalikan nampan.


''Maaf, Tuan ... jujur kami sangat kaget anda datang kemari, sedangkan Vina 'kan sudah perjalanan menuju ke sana.'' ujar bapak Vina.


''Iya, Tuan, Vina juga tidak berbicara apa-apa sebelumnya. Apa putri saya memiliki masalah di sana?'' timpal ibu Vina.


Arkha sedikit terkejut karena Vina tidak ada di rumah, ia menoleh ke arah Dicky.


''Jangan-jangan anak itu tidak cerita sama keluarganya kalau selama ini dia sudah keluar dari rumah kita?'' tebak Arkha dalam hati.


Begitu juga dengan hati dan pikiran Dicky, ia yang sebelumnya diberi perintah untuk mencari tau keberadaan Vina di tempat kerjanya yang baru pun terlihat terkejut karena Vina sudah kembali ke kota.


Saat Dicky mendatangi rumah makan milik Gian, ia menyamar sebagai pembeli biasa. Dengan gayanya yang disertai candaan, ia menanyakan sosok Vina yang tidak terlihat. Karena pertanyaan itu terdengar biasa saja, salah satu pekerja Gian pun menjawab kalau Vina sedang izin pulang kampung.


''Tidak, Pak, Bu. Vina tidak membuat masalah apapun. Di sini saya memiliki tujuan lain mengenai hal pribadi.'' ujar Arkha.


Dalam hati, Arkha sudah merutuki dirinya sendiri. Ntah sedang kerasukan jin apa dirinya saat ini. Semua ini demi Mikha, keponakannya tersayang yang semakin membuatnya waspada. Arkha khawatir, jika terus menerus dalam penolakan dari orang-orang terdekatnya, Mikha akan nekat. Ia sendiri tidak bisa menjaga Mikha 24 jam, mamanya pun juga demikian, kapanpun bisa saja lengah. Ini adalah keputusan yang final, Vina atau bukan, sama saja permintaan Mikha tetaplah merujuk pada Vina. Dan inilah upaya yang dilakukan oleh Arkha demi membuat senyum yang lebar keponakannya.


''Maaf Tuan, maksudnya bagaimana ya?'' tanya bapak Vina.


''Begini Pak, Bu ... memang selama ini saya tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan Vina. Hubungan kami seperti biasa, saya Om-nya Mikha, sementara Vina pengasuhnya.'' ujar Arkha.


''Jujur, sampai saat ini saya belum bisa menentukan pernikahan karena saya tidak memiliki hubungan dengan wanita manapun. Saya hanya mau menikah dengan siapapun wanita itu, asalkan ada restu dari Mikha, keponakan saya.''


''Ternyata ponakan saya mengatakan kalau dia mau saya dan Vina yang menjadi papa mamanya.'' pungkas Arkha.


Pasangan suami istri itu langsung saling menatap satu sama lain. Mereka sudah pasti terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arkha.


''Ttt-tapi, Tuan, eeee.. itu, anu.''


Pria itu menjadi gugup dan bergetar ketika bersuara. Bahkan Dicky hampir tergelak.


''Saya harap Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir. Saya selama ini juga kerap memperhatikan putri anda, Vina sangat menyayangi Mikha, dia juga sangat keibuan sekali. Saya yakin, dia wanita yang cocok untuk mendampingi sisa hidup saya.''


Dicky yang tadinya menunduk karena tengah menyimak pun langsung menoleh ke arah Arkha.


''Apakah orang yang di samping saya ini sedang kerasukan roh halus?'' bathin Dicky bertanya-tanya.

__ADS_1


''Tapi, bagaimana dengan anak saya? dia pasti akan terkejut dan tidak percaya. Mana mungkin pernikahan akan dilaksanakan, sementara keluarga kami dan keluarga anda sangat jauh berbeda, Tuan. Kami cukup sadar diri untuk itu semua.'' tutur ibunya Vina.


Arkha kembali menampilkan senyum ramahnya,, seakan-akan ia sudah menjamin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.


''Saya mohon kepada Bapak dan Ibu, jika kalian mengizinkan saya menikahi putri anda, untuk urusan bagaimana tanggapan Vina, biarkan saya yang mengupayakan di sana. Saya tidak akan memaksa, tapi, saya juga membutuhkan responnya, Pak, Bu. Kalaupun Vina menolak, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikan pengertian kepada Mikha.'' jelas Arkha.


Pria dan wanita itu kembali saling menatap.


''Saya tidak pernah mengatur-atur jodoh anak saya, semua itu terserah pilihan mereka, Tuan. Tapiii, apa anda benar-benar bisa tulus menikahi putri kami dan tidak akan pernah menyakitinya?''


Sebagai seorang ayah, tentu saja ia tak ingin anaknya jatuh pada pria yang salah. Apalagi cerita tentang orang kaya yang tidak bisa setia sudah menyebar kemana-mana.


''Saya akan selalu mengingat janji pernikahan ini, Pak, Bu.'' balas Arkha.


Bapak dan ibu Vina kembali terdiam saling menatap. Untuk sesuatu hal yang tiba-tiba seperti ini masih menjadikan kewaspadaan.


''Begini Tuan, maaf kalau kami banyak permintaan.'' ucap bapak Vina.


''Iya Pak, silahkan.'' balas Arkha.


''Seandainya nanti Vina menerima, kami tidak ingin pernikahan itu dilangsungkan secara siri, pernikahan itu harus benar-benar resmi secara agama maupun sah secara hukum negara.'' pinta bapak dengan tegas, ia tidak mau anaknya menjadi korban permainan orang kaya.


Arkha sedikit terkejut dengan permintaan itu, niat awalnya memang untuk menikah siri saja. Tapi, demi Mikha, akhirnya ia mengangguk.


''Baik Pak, pasti pernikahan itu dilangsungkan secara resmi, sah agama dan negara.'' jawab Arkha meyakinkan.


Bapak dan ibu Vina bernafas lega mendengar jawaban Arkha.


"Baik Tuan, kalau begitu terserah anda." jawab bapak Vina.


Arkha mengangguk dan tersenyum.


''Boleh saya menyimpan nomor ponsel Bapak atau Ibu?'' izin Arkha dengan sangat sopan.


''Oh, iya, boleh, Tuan.'' jawab bapak sembari mengeluarkan ponselnya.


Ponsel android yang dibelikan oleh Vina setahun yang lalu. Pria itu masih terlihat kaku saat memegang ponselnya.


''Maaf, Tuan, saya masih bingung ini bagaimana caranya, hehe.'' ucapnya.


Dicky hampir saja tertawa, untung ia bisa menahan.


''Boleh saya bantu, Pak?'' tawar Dicky.


''Oh, iya monggo, Tuan.'' balas bapak sambil menyerahkan ponselnya ke Dicky.

__ADS_1


Dicky mengetikkan nomor ponsel Arkha, ia langsung melakukan panggilan. Setelah ponsel Arkha berdering, Dicky mengakhiri. Nama kontak Arkha diberi nama sesuai dengan nama Arkha oleh Dicky.


''Sudah, Pak.''


''Terima kasih.'' ucap bapak.


Bapak kembali memasukkan ponselnya ke saku baju.


''Emm, kira-kira Vina tadi berangkat dari sini jam berapa ya, Pak?'' tanya Arkha yang memiliki suatu rencana.


''Kurang lebih sekitar jam satu siang, Tuan. Mungkin sekarang sudah ada di kapal mau nyeberang.'' jawab pria itu.


Arkha mengangguk-angguk paham.


''Dari sini biasanya naik bus ya?'' tanya Arkha lagi.


''Iya, Tuan, bus X itu.'' jawabnya.


Arkha melirik jam di pergelangan tangannya. Sepertinya sudah cukup untuk mendapatkan apa yang ia mau. Meskipun tidak bertemu dengan Vina sekarang, sepertinya justru ini lebih baik.


''Pak, Bu ... sekali lagi saya mohon maaf karena kedatangan kami mungkin membuat kalian kaget. Tapi, itu tujuan saya kemari benar-benar tulus. Usia saya yang terus bertambah, tapi, saya sulit untuk menentukan tujuan masalah pribadi. Dan, keponakan saya adalah orang yang sangat penting dalam hidup saya, kebahagiaan dia adalah kebahagiaan saya juga. Saya hanya bisa menikah atas restunya.'' ujar Arkha.


Dicky kembali melirik bosnya itu. Ia langsung berpikir apakah selama ini bosnya itu juga mengikuti kelas akting sehingga tampak natural.


''Kasian sekali gadis itu dan keluarganya, mereka akan masuk ke dalam perangkap manusia buaya cap gajah terbang ini.'' bathin Dicky.


Arkha menyenggol lengan Dicky. Pria itu langsung duduk tegak.


"Saya ucapkan banyak terima kasih karena sudah menyambut kedatangan kami dengan baik. Mohon do'anya yang terbaik, Pak, Bu." ucap Arkha.


"Saya juga berterima kasih, Tuan, anda datang jauh-jauh dari kota hanya untuk tujuan itu." balas bapaknya Vina.


Arkha mengangguk.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak ... besok pagi kami harus sudah ada di kantor." ujar Arkha.


"Oh, iya, Tuan, tidak apa-apa."


"Saya akan menawarkan menginap di sini, tapi, rumahnya berantakan, hehe.'' timpal ibu.


Arkha tersenyum sembari beranjak.


"Saya akan menghubungi Bapak nanti." ujar Arkha.


"Iya, Tuan."

__ADS_1


Mereka pun saling jabat tangan, Arkha meninggalkan rumah itu sudah sore hari. Tujuan mereka langsung ke bandara.


__ADS_2