
Arkha berhenti mengunyah karena menyadari ada yang menatapnya, ia pun langsung menoleh tajam.
Vina langsung gelagapan sendiri karena ketahuan dan langsung fokus ke Mikha.
''Pake ketahuan lagi, aduuhh!'' omel Vina dalam hati.
Masih dalam suasana liburan sekolah, Mikha lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain. Tapi, tentu saja permainan yang di kenalkan padanya adalah permainan yang memiliki nilai edukasi. Sesekali saja permainan yang umumnya dilakukan oleh anak kecil lainnya.
''Mbak Ina, Mikha sudah ngantuk.'' ujar pria kecil itu setelah menghentikan jari-jarinya dari mainan.
Vina langsung melirik jam dinding, menunjukkan pukul 20.25 WIB.
''Ya sudah ayo tidur, tapi, beresin dulu ya mainannya biar rapi.'' jawab Vina.
Mikha langsung membereskan mainannya dan memberikan kepada Vina agar di simpan. Tapi, tetap Vina tidak membiarkan Mikhael yang membereskan semuanya. Hanya saja untuk diajarkan supaya Mikha tidak terbiasa apa-apa menyuruh dan mengerti arti kebersihan.
Setelah mainan sudah dibereskan, Vina langsung mengajak Mikha untuk gosok gigi dan ritual lainnya sebelum tidur.
Arkha masih dikamarnya, konon katanya ada pekerjaan yang harus dikerjakan sehingga tidak bisa menemani keponakannya itu bermain.
''Jam berapa sih ini?'' gerutu Arkha.
Rutinitas yang tidak baik sudah mengusik pikirannya. Teman-temannya pun sudah mengirimkan pesan beberapa kali.
''Mikha sudah tidur apa belum ya?'' gumamnya.
''Bilang aja mau ada kerjaan, nanti pulangnya pasti dia sudah tidur, jadi nggak mungkin nunggu dan nggak bakal tau.'' imbuhnya.
Arkha sudah yakin dengan alasannya itu, seketika lupa dengan tanggung jawab yang harus ia jaga.
Arkha menutup laptopnya dan langsung menyambar kunci mobil yang berada di sebelah laptop. Ia pun langsung bergegas keluar dari kamarnya.
''YA AMPUUNN!!''
''ASTAGHFIRULLAH''
__ADS_1
Arkha dan Vina hampir saja bertabrakan, untung saja sama-sama sigap dengan remnya.
''Maaf, Tuan.'' ucap Vina.
''Hm, Mikha mana?'' tanya Arkha cepat.
''Mikha sudah tidur, Tuan.'' jawab Vina.
''Oh, terus kamu mau ngapain?'' tanya Arkha ketus.
Vina spontan mendongak seraya menunjukkan sapu lantai yang ia bawa.
''Bersih-bersih, Tuan.'' jawab Vina.
Arkha ikut melirik sapu yang berada di genggaman tangan Vina itu.
''Bisa-bisanya masih bertanya!! gblg banget sih gue!!'' rutuk Arkha dalam hati untuk dirinya sendiri.
''Ya sudah sana di kerjakan! malah bengong disini!''
Arkha yang sudah bersiap melangkah untuk meninggalkan Vina pun langsung berhenti dan memberikan tatapan tajam.
''Bukan urusanmu! so, apapun itu, jangan ikut campur dan berani untuk coba-coba menjadi mata-mata! ngerti?!''
''Nge-ngerti, Tuan.'' jawab Vina gugup.
Arkha menaikkan sudut bibirnya dan melanjutkan langkahnya.
''Tapi, Tuan, tolong jangan terlalu larut malam kembalinya, saya belum pernah ditinggal do rumah hanya berdua dengan Mikha.'' ujar Vina lirih, karena ia juga takut.
Arkha kembali menghentikan langkahnya dan berbalik.
''Kerjakan saja tugasmu!''
Vina tidak berani menatap Arkha, ia menunduk dan memberikan anggukan kecil.
__ADS_1
''Baik Tuan.''
Namun, beberapa langkah, Arkha kembali berbalik.
''Bersihkan kamar saya juga.''
''Baik Tuan.'' jawab Vina mengangguk.
Arkha dengan cepat melanjutkan langkahnya, ia yang sudah siap dengan rutinitas malamnya pun langsung pergi dari apartemennya.
''Mau kemana ya tuan Arkha? perasaanku kok jadi nggak enak gini?''
Vina menatap arah pintu depan lalu menghela nafas.
''Semoga tuan Arkha tidak melakukan kesalahan apapun.'' harap Vina.
Vina mulai membereskan benda-benda yang berserakan tak karuan. Membuang sampah-sampah pada tempatnya. Setelah dipastikan barang-barang itu rapi, Vina lanjut menyapu, lalu akan di pel agar lebih bersih dan harum.
''Oh iya, 'kan harus bersihkan kamarnya tuan Arkha juga.'' Vina menepuk keningnya sendiri.
Untung saja Vina belum jadi ngepel, baru selesai menyapu di ruang tamu.
Vina bergegas menuju kamar Arkha, pintu kamar itu ditutup oleh pemiliknya. Vina sangat ragu, ia sangat yakin di dalam sana banyak sekali barang-barang berharga, ia tak ingin seperti yang ada di sinetron, pemiliknya kehilangan salah satu barang berharganya, dan orang terakhir yang masuk ke dalam kamar itulah yang menjadi sasaran.
Huuuuhhhhh
''Aku sudah mengiyakan perintahnya, jadi, mau tidak mau, takut ataupun tidak, tuan Arkha pasti maunya pas pulang kamarnya sudah terlihat bersih dan rapi.''
Vina membuka handle pintu kamar Arkha dengan hati-hati, sebelum benar-benar masuk kesana, ia lebih dulu memasukkan kepalanya untuk mengedarkan pandangan.
''Assalamu'alaikum.'' ucap Vina.
''Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.''
Ucapan dan jawaban sudah dilakukan sendiri oleh Vina. Setelah itu, ia lebih yakin dan sedikit memiliki keberanian untuk masuk.
__ADS_1