
''Untuk apa menyesal, Ar?" Lidya mengembalikan pertanyaan dari putranya itu.
"Mama kesulitan 'kan mengurus Mikha.'' tebak Arkha jujur.
Lidya menoleh ke arah putranya dengan tatapan kekecewaan.
"Kamu meragukan Mama? iya?''
''Kamu pengin Mama memohon pada anak itu agar kembali lagi kesini, gitu?''
Arkha menarik nafas panjang. Ketidaksukaannya kepada Vina memang bukan hal yang tidak ia sadari. Tapi, baru satu hari tanpa adanya gadis itu, Mikhael seperti kehilangan separuh jiwanya. Yang biasanya menjadi anak yang baik dan penurut, kini telah berubah menjadi anak yang gemar mengatakan ''nanti/ntar''.
Lidya yang selama ini berada di rumah yang sama, sering memiliki waktu bersama, nyatanya tidak bisa langsung mengambil alih sepenuhnya ketika Vina pergi dari rumah ini
"Bukan begitu, Ma ... kita hanya harus bergerak lebih cepat untuk mendapatkan pengganti Vina. Kecuali kalau Mama siap 24 jam mengawasi Mikha sih ya nggak apa-apa.'' jawab Arkha.
''Mana bisa Mama sehari-hari di dalam rumah terus, Ar??'' protes Lidya.
''Yang ada Mama bisa makin stress.'' imbuhnya.
Mikha yang sudah mandi pun bermain sendirian. Sedangkan Arkha dan Lidya mengawasi sembari mengobrol serius.
__ADS_1
''Mama tuh nggak habis pikir, kenapa Mikha bisa-bisanya berbicara seperti itu?''
''Kamu harus menikah dengan wanita yang minimal sepadan dengan kita.'' ujar Lidya.
Menikah??
Ingin rasanya Arkha tertawa mendengar kata itu, karena dibenaknya sama sekali belum memikirkan tentang dunia pernikahan. Baginya, menikah hanya akan mempersulit setiap langkahnya. Dengan bersenang-senang di luar sana sudah sangat cukup bagi Arkha saat ini.
Karena menurut Arkha, menikah hanya akan mempersulit langkahnya, menikah juga akan menjadi beban perjalanan hidupnya.
''Duh, Maaaa, bisa kali jangan bahas menikah, menikah, daan menikah. Telingaku sudah cukup panas ketika mendengar suara itu." protes Arkha.
''Arkha, anak Mama itu tinggal kamu. Kamu satu-satunya harapan kami. Kamu harus menikah dengan wanita yang memiliki keluarga minimal sepadan dengan kita. Kalau lebih tinggi ya itu lebih baik " terang Lidya.
"Tapi, kamu harus mempertimbangkan matang-matang, Arkhaa.''
"Aku belum kepikiran untuk menikah, Ma. Masih jauh, belum ada dalam bayanganku, Ma." balas Arkha.
"Ah, sudahlah, terserah kamu aja. Jangan sampai jatuh cinta sama wanita yang nggak punya apa-apa!'' ujar Lidya dengan tegas.
Arkha hanya menoleh sekilas.
__ADS_1
''Itu alasan Mama mengapa benar-benar langsung ingin Vina keluar dari sini.''
Arkha kembali menoleh dengan dahi yang mengkerut.
''Mama tau kalau kamu sangat menyayangi Mikhael, begitu juga dengan Vina. Kalau celetukan Mikha itu benar-benar serius dan bakal sering-sering diungkapkan, Mama khawatir kamu akan luluh, Ar.'' jelas Lidya.
Jelas saja alasan itu sangat masuk akal. Vina hanyalah seorang baby sitter, ia juga hanya anak seorang petani di sebuah kampung. Sangat-sangat jauh dengan kriteria menantu idaman keluarga Leonardo.
''Aku sudah memahami tentang semua itu, Ma.'' jawab Arkha.
"Aku kesana dulu."
Arkha pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Lidya masih bertahan di ruangan itu karena tengah menunggu sang cucu.
Arkha melangkahkan kakinya ke atas, ia langsung menuju balkon. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi seorang suami. Ia tidak ingin masa-masa hidup bebasnya itu akan terbatas setelah pernikahan.
''Semoga Mikhaa sudah nggak ingat lagi tentang gadis itu.'' gumam Arkha.
Di kamar Mikha
Pria kecil itu akhirnya merasa bosan dengan mainannya, ia meletakkan begitu saja lalu menghampiri Lidya yang tengah duduk di sofa.
__ADS_1
"Kangen mbak Ina.'' ujar Mikha.