(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 9 : Benar-benar Sombong


__ADS_3

Suatu hal yang tidak bisa membuat Arkha merasa nyaman, karena harus berdiam di rumah saja seperti manusia tak berguna. Pergi keluar pasti hanya saat sedang bekerja. Tentu saja ia sangat ingin berontak dan pergi waktu malam tiba, seperti pada malam-malam biasanya yang tidak dalam pantauan kedua orangtuanya. Masih dalam bayangannya saja, Arkha sudah merasa ragu. Tapi, semua itu demi keamanannya agar tetap dinilai baik oleh kedua orangtuanya.


''Cepat balik dong, Maaa!'' gerutu Arkha.


Baru saja mama dan papanya pergi tadi pagi, ia sudah membayangkan malam nanti akan bagaimana. Sepi, sunyi, hening, dan yang pasti sangat membosankan.


Di tengah-tengah lamunannya, ponsel Arkha berdering, ia langsung menatap layar ponselnya itu.


''Ya, kenapa?'' jawab Arkha dalam sambungan telepon itu ketika mengetahui yang menelponnya hanya teman nongkrongnya.


Arkha mendengar pembicaraan itu lalu mendengus kesal.


''Nggak bisa, sorry banget. Aku lagi dapat tugas dari emak buat jaga ponakan.'' jawab Arkha setelah temannya itu mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat membuatnya ingin datang ke tempat yang di bicarakan oleh temannya.


''Apa lu! nggak usah ketawa! sial4n malah ngeledek!'' ketus Arkha lalu memutuskan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban temannya.


Mendengar ejekan dari temannya itu hanya membuat Arkha semakin kesal. Ia yang tengah duduk di balkon hanya bisa memandang langit yang mendung. Tidak seperti tadi pagi yang cerah. Cuaca saat ini sering tiba-tiba berubah.


''Langit saja bisa menyesuaikan perasaanku.'' gumam Arkha sembari menggeleng pelan.


''Apa Mikhael masih tidur ya?'' gumam Arkha lalu memandang pintu masuk.


Arkha memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Menghembuskan nafas kasar sekilas ke udara, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Ia kesal dengan rasa suntuk ini, tetapi tentu tidak kesal dengan keponakan satu-satunya itu. Melihat wajah polos pria kecil itu, Arkha langsung tersenyum.

__ADS_1


''Eh, Tuan, maaf.'' ucap Vina yang langsung turun dari kasur Mikha. Ia tengah mengusap-usap lembut kening Mikhael yang baru saja menggeliat. Ia mendengar suara pintu terbuka sehingga membuatnya terkejut dan sigap turun.


Arkha tidak menjawab ucapan maaf dari Vina. Ia hanya tetap melangkah maju mendekati ranjang tempat Mikha tidur.


''Biar saya yang menjaga Mikha, kamu keluar saja.'' ujar Arkha dengan nada datar.


''E.. tapi, nanti,-''


''Saya bisa menjaga ponakan saya, apa kamu meragukan saya?'' ujar Arkha memotong perkataan Vina.


"E, tidak Tuan, tidak." jawab Vina cepat dan gugup.


"Ya sudah nunggu apa lagi? cepat keluar dari sini.'' usirnya.


Arkha hanya mengangkat tangannya tanda mengusir. Vina cukup menarik nafas panjang melihat hal itu sembari menggelengkan kepalanya. Rasa sabar yang Vina miliki harus lebih luas lagi saat berhadapan dengan Arkha yang sangat aneh.


''Benar-benar sombong!'' umpat Vina dalam hati, lalu menutup pintu kamar Mikha pelan-pelan karena takut mengganggu tidur momongannya itu.


Saat baru saja pulang dari mall, Arkha membawa Mikha ke kamar. Tetapi dilanjutkan oleh Vina agar tidur Mikha lebih nyenyak. Arkha pun meninggalkan kamar Mikha agar tidak bosan memiliki pemandangan yang tidak sedap baginya, yaitu Vina.


Vina yang sudah di usir dari kamar Mikha pun beralih mengerjakan pekerjaan lainnya. Meskipun pekerjaannya disini dikhususkan untuk Mikhael, Vina tetap sering membantu yang lain di saat Mikha tidur.


''Mikha nangis!'' seru Arkha yang berdiri di ambang pintu dapur.

__ADS_1


Suara itu membuat Vina dan lainnya terkejut. Tanpa memanggil nama atau apapun, tiba-tiba saja Arkha berkata seperti itu. Untung saja kagetnya para pekerja disana tidak ada yang berkata kasar.


''Maaf, Mbak, aku kesana dulu.'' ujar Vina pelan.


''Iya, Vin ... hati-hati ya, ngeri.'' bisik temannya.


"EHM!"


Vina langsung bergegas setelah mendengar deheman dari Arkha yang kemudian berlalu itu. Sedangkan Arkha sudah meninggalkan pintu dapur setelah mengatakan Mikha nangis.


''Mbak Inaaaaaa!'' seru Mikhael dengan isak tangisnya.


''Cuupp, cuupp ... sudah, sudah, ya, nggak boleh nangis. Mbak Vina sudah disini.''


Vina naik ke atas kasur lalu mendudukkan Mikha. Vina mengusap air mata Mikha yang mengalir deras.


''Bisa-bisanya tadi ku bujuk nggak berhenti menangis, dan sekarang baru aja di usap langsung diam.'' bathin Arkha.


Tangis Mikhael sudah meredam, hanya tersisa sesenggukan sedikit. Vina masih memeluk Mikha agar lebih tenang. Sebentar lagi waktunya untuk mandi sore.


''Jangan-jangan, memang benar dugaanku kalau dia punya ilmu pelet.'' tuduh Arkha dalam hati dengan menatap Vina tajam.


Arkha langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia langsung menyadarkan pikirannya sendiri agar tidak menuruti hal-hal seperti itu.

__ADS_1


''Kali ini masih bisa berpikir positif.'' bathin Arkha lagi.


__ADS_2