(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 31 : Jomblo


__ADS_3

Sudah satu Minggu ikut bekerja di rumah makan Gian, Vina pun sudah mulai bisa beradaptasi dan juga mempelajari pekerjaan-pekerjaan disini. Sekarang Vina sudah bisa membuktikan bahwa bekerja di rumah makan memang sangat melelahkan, apalagi saat ramai di jam makan siang. Belum lagi saat ada pembeli yang merupakan oknum pria genit.


Vina beruntung, pak Yanto menitipkannya pada seseorang yang bertanggungjawab. Ketika melihat Vina sedang mengantarkan pesanan ke meja pembeli yang tampak genit, Gian pun langsung sigap mendampingi, ataupun menggantikannya, dan meminta Vina untuk mengerjakan yang lain.


Jika sudah tutup seperti ini, dua karyawan Gian yang tidak menginap sudah beralih ke aktivitas lain. Sedangkan yang dua merupakan pasangan suami istri, tentu sibuk dengan urusan pribadi mereka. Tersisa Vina yang duduk sendirian sembari menonton televisi di ruang serbaguna itu.


Gian yang merupakan pemilik, ia menambahkan ruangan dengan membangun lantai dua untuk kamarnya. Sementara dibawah memang untuk kamar karyawannya, dan untuk keperluan usahanya itu.


''Besok pagi ikut aku belanja ya, Vin.'' ajak Gian.


Vina langsung duduk tegak saat mendengar suara Gian.


''Lho, biasanya belanjaan itu di antar kemari, Mas?'' tanya Vina.


''Kok tumben?'' tanya Vina lagi.

__ADS_1


Satu minggu berada disini, Vina cukup bisa memahami. Dari mulai sayuran, perbumbuan, ikan, ayam, daging, dan lain-lain biasanya diantar karena memang sudah langganan.


''Iya, biar kamu nggak bosan dan biar kamu tau juga dimana tempat kami langganan untuk stok bahan-bahan dapur.'' jawab Gian.


''Siapa tau juga, ada yang mau kamu beli, Vin, misalnya ya kebutuhan perempuan yang aku nggak paham.'' sambungnya.


Vina langsung berpikir sejenak.


Oohhh, Vina baru tersadar bahwa persediaan pembalutnya hanya sisa tiga biji saja. Dan itu hanya cukup sampai besok, sedangkan ia baru kedatangan tamu bulanannya itu kemarin sore.


''Gimana? udah ingat belum ada yang perlu di cari?'' tanya Gian.


''Tapi, jadi berkurang dong orangnya?'' tanya Vina.


''Kita jalan setelah jam sarapan selesai dan juga sebelum jam makan siang sudah kembali ke sini lagi.'' jelas Gian.

__ADS_1


''Ohh gitu? baiklah, aku ngikut aja.'' jawab Vina.


Gian melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Kemudian ia melirik pintu kamar Ratna dan Hadi yang tutup.


''Mereka jadi keluar?'' tanya Gian.


''Jadi, Mas ... belum lama juga kok, belum ada 30 menit. Tapi, memang bilangnya nggak akan lama-lama sih.'' jelas Vina yang sebelumnya juga di pamiti oleh pasangan suami istri itu.


Gian tidak membatasi pada para pekerjanya yang menginap. Ia hanya menegaskan bahwa, diberikan waktu untuk bisa keluar juga harus mengerti arti kesadaran. Jangan sampai pulang larut malam atau sampai pagi baru pulang. Mengingat kehidupan kota yang sangat luar biasa ini. Pengaruh apapun itu bisa dengan mudah masuk jika kita lengah.


''Mas Gian nggak mau jalan juga kayak mereka.?'' tanya Vina.


''Untuk para jomblo, mendingan di rumah aja deh, haha.'' jawab Gian yang diikuti tawanya.


Hahaha

__ADS_1


Tanpa sadar, Vina dengan entengnya mengikuti suara tawa itu. Jawaban Gian sangat mewakili perasaannya. Padahal ia pun juga jomblo.


"Masa iya kamu jomblo, Vin?" tanya Gian yang sepertinya tidak percaya dengan status pegawai barunya itu.


__ADS_2