
Masa libur sekolah Mikhael sudah selesai. Dari menginap di rumah nenek dari ibunya hingga di apartemen Arkha. Mikhael terlihat sangat senang, apalagi Arkha sangat memanjakannya. Hari ini sudah waktunya menjalani rutinitas seperti biasa.
''Ayo mandi, Mikhaa ... nanti keburu telat, lho.'' bujuk Lidya.
Vina menyiapkan pakaian sekolah Mikhael, sementara oma-nya berencana untuk menemani sang cucu membersihkan badan.
Anak kecil memang cukup susah kalau diminta mandi pagi. Jika bukan orang yang sabar, pasti sudah teriak-teriak sampai yang disuruhnya bergerak. Tapi, mayoritas ibu-ibu rumah tangga pun sering memarahi anaknya. Tetapi, seorang ibu akan tidak terima jika anaknya di marahi oleh orang lain, sekalipun itu bapaknya sendiri.
Tak jarang, Oma Lidya pun sering menaikkan volume suaranya disaat Mikhael menunda-nunda apa yang dikatakan wanita paruh baya itu.
Setelah berhasil membujuk, Mikhael yang masih memejamkan matanya itu berjalan ke kamar mandi. Tingkah gemasnya itu hampir saja membuat Mikha menabrak dinding, untung saja oma Lidya sigap menahan tubuh sang cucu sehingga tidak terjadi apa-apa. Mikha pun langsung membuka kedua matanya karena menabrak punggung tangan Oma Lidya.
''Hati-hati jalannya, jangan merem, nanti nabrak lagi.'' ujar Lidya.
''Mmmmm.'' jawab Mikhael sembari melanjutkan langkahnya.
Air hangat juga sudah disiapkan oleh Vina untuk memandikan Mikhael. Mikha duduk di kursi kecilnya yang berhadapan dengan bak mandi. Ia mencuci wajah dan dilanjutkan gosok gigi.
''Pintarnya cucuku.'' puji Lidya.
Persiapan sebelum berangkat ke sekolah sudah Vina pastikan. Ia juga sudah bersih, tinggal menemani Mikha sarapan.
__ADS_1
''Ayo semangat ke sekolahnya.'' ujar Vina yang mengangkat tangan kanannya untuk memberikan semangat ke Mikhael yang masih terlihat lesu karena baru libur.
Mikhael sudah menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, Vina dan Mikhael berangkat ke sekolah diantar oleh pak Yanto.
''Nggak nanyain om-nya kah, Mbak?'' tanya pak Yanto pada Vina.
''Ssstt, jangan bahas itu, nanti nyambung, Pak. Kayak lagi lupa, hehe'' bisik Vina.
Pak Yanto pun langsung masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Vina.
...
Vina juga pekerja yang sama pada umumnya, memiliki waktu untuk beristirahat. Seperti kali ini, ketika malam tiba dan Mikha juga tidur nyenyak. Gadis itu langsung berkumpul dengan pekerja lainnya. Mereka sama-sama sedang santai.
''Iya dong, Mbak, libur setahun sekali, momen buat kumpul keluarga, hehe'' jawabnya.
''Tapi, masih lama lebarannya ya, hehe'' imbuh Vina.
Dan mereka pun langsung tertawa karena tersadar lebaran masih lama. Baru juga merayakan lebaran, sudah bahas lebaran tahun depan.
''Jangan-jangan, pulang mau nikah ya, Vin?'' tanya satunya yang kepo.
__ADS_1
''Hahaha, enggak Mbak, belum kepikiran buat nikah. Masih muda banget lho aku ini.'' jawab Vina.
''Kirain Vin ... siapa tau dapat jodoh kayak anaknya bos kita.'' balasnya dengan suara sedikit berbisik.
Vina langsung terbelalak.
''AMIT-AMIITTTT!!! jangan sampai, Mbaaakk.'' seru Vina yang kemudian langsung menutup mulutnya.
Hahahaha
Suara tawa memenuhi ruangan tempat bersantainya para pekerja di kediaman Leonardo itu. Mereka sama-sama tidak suka dengan sikap angkuh yang ditunjukkan oleh Arkha. Jika bukan anak bosnya, sudah pasti Arkha akan mereka omeli.
''Heran ya kenapa itu orang bisa kayak gitu? hih, amit-amit deh sombongnya minta ampun.'' timpal pekerja lainnya.
''Untung nggak serumah sama tuan Leon, ya? hihi.''
Mereka pun tertawa lagi ketika membahas sosok Arkha.
''Eh, Vin, terus waktu kamu nginep di apartemennya itu, kamu gimana? stock sabar aman, 'kan ya?'' ledek teman Vina.
''Haduuuhh, Mbaaakk ... beneran harus ngelus dada terus. Untungnya cuma dua malam.'' jawab Vina.
__ADS_1
Vina kemudian terdiam, ia teringat lagi akan kenakalan Arkha yang diluar perkiraannya itu. Cukup ia yang sudah mengetahui keburukan Arkha di luaran sana. Jangan sampai bibirnya terbuka lebih dulu untuk membongkar.
Gadis itu sangat yakin, suatu saat nanti, cepat atau lambat, kenakalan Arkha pasti akan diketahui oleh kedua orangtuanya.