
''Ini seriusan kah Vin?'' tanya pak Yanto yang masih tidak percaya harus mengantarkan Vina keluar dari rumah Leonardo.
Pak Yanto dan Vina sudah seperti bapak dan anak. Apalagi pekerjaan mereka sering di waktu yang sama, yaitu bersama dengan Mikhael.
''Masa becandanya begini, Pak? garing dong, hehe.''
Pak Yanto hanya nyengir, lalu kembali fokus pada kemudinya. Meskipun masih ingin bertanya-tanya, rasanya belum tepat.
Vina masih berusaha untuk tidak terlihat sedih. Meskipun matanya sangat jelas menggambarkan kesedihannya. Ia bingung harus kemana, apakah malam-malam seperti ini ia harus langsung menuju terminal kendaraan yang sudah rutin bertujuan antar kampungnya dan ibu kota ini.
Vina diam sembari menatap jalanan. Ia mencoba merenungi semua ini. Ia masih tidak habis pikir dengan keputusan keluarga Leonardo yang mengusirnya. Apakah mereka tidak mempertimbangkan bagaimana keseharian Mikha kedepannya yang harus beradaptasi dengan mbak baru. Sementara sembari menunggu waktu itu, Mikha belum memiliki mbak.
"Orang kaya itu memang suka seenaknya sendiri ya, Pak?'' ujar Vina yang beralih menatap ke kaca depan.
Pak Yanto pun balik menatapnya.
"Kamu yang sabar ya, Vin. Saya juga nggak tau sebenarnya ada masalah apa di antara kalian." jawab pak Yanto.
Vina masih tetap berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
"Untungnya stock sabarku itu unlimited ya, Pak, hehe''
Pak Yanto ikut tertawa kecil.
"Bagiamana nasib Mikha kalau tanpa kamu ya, Vin? dia sudah lengket banget sama kamu. Omanya aja kalah sama kamu.'' ujar pak Yanto yang sudah paham.
"Nanti lama-lama juga akan terbiasa kok, Pak. Lagian, aku cuma benalu buat keluarga Leonardo." jawab Vina.
Pak Yanto menoleh ke belakang sekilas dengan kedua alis mata yang hampir menyatu.
Pak Yanto dan Vina kembali sama-sama diam.
Sudah pasti keluarga Vina akan mempertanyakan tentang kepulangannya yang super mendadak ini. Bisa jadi ia akan menjadi bahan ghibah orang-orang di kampungnya yang sangat luar biasa itu.
''Vin, kamu mau nggak kerja di rumah makan punya keponakan saya?'' tanya pak Yanto.
Vina yang sedang melamun pun langsung menatap pak Yanto.
''Mau, Pak, mau.'' jawab Vina dengan semangat.
__ADS_1
''Yang penting saya nggak pulang ke rumah untuk sekarang ini, Pak.'' imbuh Vina yang sudah sangat berharap itu.
Pak Yanto pun tersenyum melihat semangat yang di miliki oleh Vina itu.
"Tapi, Pak ... nanti tuan Leon dan nyonya Lidya akan memarahi Bapak atau tidak? karena waktunya bakal melebihi batas normal.'' tanya Vina.
"Nggak kok, aman.'' jawab pak Yanto meyakinkan.
Pak Yanto membelokkan stir mobilnya untuk kembali arah. Pria itu memiliki keponakan yang membuka usaha kuliner. Beberapa hari yang lalu, ia melihat di akun sosial media keponakannya itu update sedang mencari pekerja.
"Terima kasih banyak ya, Pak. Pak Yanto memang yang terbaik deh pokoknya.''
Hahahaha
Pak Yanto langsung tertawa terbahak-bahak. Padahal bagi Vina, itu hal yang biasa-biasa saja. Yaaaa, begitulah manusia, tidak ada yang sama.
Tanpa pak Yanto minta, akhirnya Vina menjelaskan kronologi yang terjadi pada pak Yanto. Pak Yanto sampai menengok-nengok ke belakang untuk melihat ekspresi Vina.
"Hanya karena celetukan anak kecil sampai berpisah seperti ini??'' respon pak Yanto.
__ADS_1