(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 33 : Minimarket


__ADS_3

Bukan hanya profesi Vina yang sudah berbeda, tetapi juga dengan jam tidur dan waktu bangunnya yang tidak seperti dulu lagi.


Dulu, saat Mikha sudah terlelap, ia bisa langsung tidur atau berkumpul dengan pekerja lainnya. Sekarang, ia tidur lebih telat dan bangun lebih cepat dari biasanya.


Pagi ini Vina bangun jam 03.00 dinihari, yang lain pun juga sama karena memang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Justru Gian sudah bangun lebih awal dari mereka semua.


''Mbak, aku ke kamar mandi dulu ya.'' pamit Vina.


''Oh, iya, Vin.'' jawab Ratna yang masih sibuk membuat adonan tepung untuk ayam goreng kremes yang bumbu-bumbunya sudah di racik sendiri oleh Gian.


Setelah shalat subuh, satu persatu menu-menu yang sudah matang pun di bawa ke depan.


Pukul 09.00 WIB


Pembeli sudah mulai berkurang, Gian melepaskan celemek dan meletakkan pada gantungan.


''Ayo, sekarang aja, Vin.'' ajak Gian.


Vina langsung menghentikan langkahnya.


''Oh, ya, Mas. Tunggu sebentar ya.'' balas Vina.


Gian hanya mengangguk. Vina mempercepat langkahnya ke dapur lalu mencuci tangan. Setelah itu ia kembali ke depan.


''Mbak Ratna.'' panggil Vina.

__ADS_1


''Iya, sudah tau, jalan aja.'' jawab Ratna santai.


''Gian yang bilang barusan, buruan nanti keburu siang.'' imbuh Ratna.


Vina langsung melirik ke arah Gian.


''Oh, ya sudah kalau begitu, aku jalan dulu ya Mbak.'' pamit Vina.


''Okeeee.'' jawab Ratna.


Tidak mau membuat Gian menunggu lebih lama, Vina langsung memanggil Gian dan mereka pun langsung meninggalkan rumah makan itu.


''Sudah berapa lama bekerja di sini, Vin?'' tanya Gian.


''Sebagai baby sitter, maksudnya.'' sambung Gian penasaran.


''Dari Mikha umur 8 bulan, dan sekarang sudah 3 tahun, Mas.'' sambung Vina.


Sembari fokus dengan kemudinya, kepala Gian mengangguk-angguk paham.


''Yaa, sudah lumayan juga, Vin. Pantesan kalau dia lengket dengan banget sama kamu.'' ujar Gian.


Gantian Vina yang mengangguk-angguk kecil.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di peternak ayam kampung dan ayam putih. Gian sudah menjadi pelanggan tetap di tempat tersebut.

__ADS_1


''Siapa ini, Mas Gian?'' tanya peternak ayam itu.


''Calonnya kah ini, Mas?'' sahut istrinya yang baru saja keluar.


''Bukan, bukan.'' jawab Vina.


Gian hanya nyengir di sebelah Vina.


Karena sudah berjanji tidak akan lama-lama, Gian mengajak Vina untuk mengunjungi beberapa tempat menjadi sebentar-sebentar saja.


''Oh ya, Vin, kamu bilang mau ada yang di beli?'' tanya Gian.


''Ohhh, ituu, hehe''


Gian sangat tidak nyaman jika harus menyebutkan benda itu. Apalagi saat mendengar lawan bicaranya adalah laki-laki.


''Ke minimarket ya, Mas. Yang mau tak cari ada di sana.'' ujar Vina.


Dengan demikian, ia berharap Gian hanya menunggunya di mobil. Sehingga Vina tidak merasa malu untuk mengambil benda yang akan ia beli di sana.


''Oke, siap.'' jawab Gian.


Tak lama kemudian, Gian membelokkan mobilnya ke minimarket yang tidak jauh. Ia mempersilahkan Vina untuk turun lebih dulu.


''Tunggu bentar ya, Mas. Beneran nggak lama kok, cuma cari itu aja.'' ujar Vina.

__ADS_1


''Iya.'' jawab Gian.


Vina pun langsung menutup pintu mobil pick-up milik Gian.


__ADS_2