(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 38 : Nggak Bisa Dipaksakan


__ADS_3

Pak Yanto sudah lama tidak mengunjungi keponakannya itu, hari ini ia sedikit longgar sehingga akan berkunjung.


''Lho, Paklik? kok nggak kabar-kabar dulu kalau mau kesini?'' sambut Gian yang melihat pamannya itu keluar dari mobil.


Gian yang baru saja selesai melayani pembeli pun langsung keluar untuk menyambut kedatangan pak Yanto.


''Paklik cuma mampir aja, sudah lama nggak kesini.'' jawab pak Yanto.


''Masuk dulu, Paklik.'' ajak Gian.


Pak Yanto pun mengangguk sembari mengikuti langkah Gian yang masuk ke dalam. Tepatnya di ruangan yang ia sediakan untuk tamu, pintu masuknya dari samping. Tetapi karena pak Yanto datang dari depan, keduanya pun masuk dari depan pintu rumah makan.


''Tolong buatkan kopi.'' ujar Gian pada salah satu pekerjanya.


''Siap.''


''Santai-santai dulu Paklik, aku juga belum sempat kemana-mana.'' ujar Gian.


Tidak lama kemudian, karena Gian sudah memberikan pesan, dua gelas kopi hitam pun diantarkan ke mereka. Di tambah lagi dengan satu piring gorengan dan juga air mineral dingin kemasan gelas.


''Kok ya repot-repot, to.'' ujar pak Yanto.


''Haha, nggak repot kok, Paklik ... monggo di minum kopinya.'' balas Gian.


Sebagai penikmat kopi, pak Yanto pun menyeruput sedikit kopi yang masih mengebul itu.


''Dari tadi kayaknya Paklik belum ketemu sama Vina? biasanya kalau lihat Paklik datang, dia langsung nemui Paklik?'' tanya pak Yanto sembari mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


''Vina lagi izin pulang kampung, Paklik.'' jawab Gian.


''Oalaahh, pantesan kok nggak ada. Ada acara atau gimana kok izin?'' tanya pak Yanto lagi.


''Iya Paklik, sepupunya nikahan, dan Vina sudah di minta untuk hadir di acara itu dari jauh-jauh hari katanya. Kasian lah kalau nggak di kasih izin.'' terang Gian.


Pak Yanto mengangguk-angguk kecil sambil menikmati tahu isi.


''Sepertinya kamu naksir sama Vina ya?'' tebak pak Yanto sedikit berbisik.


Raut wajah Gian langsung menunjukkan ekspresi kaget.


''Ah, apaan sih Paklik? itu 'kan hal wajar saja. Masa gitu aja langsung di simpulkan sikap jatuh cinta?'' balas Gian mengelak.


Pak Yanto mengambil satu potong tahu isi lagi, lalu mendekatkan kepalanya ke Gian.


''Yakin??? Paklik ini laki-laki lhoo.'' bisik pak Yanto.


''Hmmm, kamu itu sudah dewasa, ya nggak papa to kalau memang sudah merasakan jatuh cinta, kamu juga harus memikirkan dengan siapa hidupmu nanti.'' tutur pak Yanto.


''Kalaupun tebakan Paklik itu benar, kamu naksir sama Vina ya nggak masalah. Dia bukan saudaramu, sah-sah aja kalau kalian bersatu. Bapak ibumu juga sudah kenal sama Vina.''


Selama bekerja di rumah makan milik Gian, Vina sudah beberapa kali bertemu dengan orangtua Gian karena mereka beberapa kali berkunjung kemari untuk mengontrol usaha yang sudah diteruskan oleh putranya itu.


''Tapi, Vina bilang belum kepikiran untuk menikah, Paklik.'' jawab Gian yang disertai candaan supaya tidak terlihat kegugupannya saat membahas hal itu.


Pak Yanto menepuk-nepuk bahu ponakannya itu sembari tertawa kecil.

__ADS_1


''Akhirnya ngaku juga ponakanku yang tampan ini.'' ujar pak Yanto.


Gian terkekeh sendiri karena sudah berhasil masuk ke dalam jebakan pak Yanto. Meskipun tidak secara langsung, jawabannya memang sudah menyimpulkan bahwa ia sudah melakukan upaya.


''Ah, Paklik suka kasih jebakan.'' canda Gian.


Pak Yanto kembali menepuk-nepuk pundak Gian.


''Aman aja kalau sama Paklik.''


Pak Yanto dan Gian pun saling diam sesaat karena tengah menyeruput kopi masing-masing.


''Tapi, sebenarnya Paklik juga sangat kasian sekali sama Mikha, anak yang di asuh sama Vina dulu.'' ujar pak Yanto sembari meletakkan gelas itu ke meja lagi.


''Memangnya ada apa, Paklik?'' tanya Gian.


''Mikha itu masih sering menanyakan Vina, dia sering nagih kapan Vina kembali lagi, dia juga menjadi sering sakit sekarang.'' jawab pak Yanto.


''Apalagi yang datang malah mbak-mbak baru, mereka juga tidak ada yang bisa bertahan lama karena Mikha menjadi sering tidak nurut, sering marah-marah. Yaa, jadinya mereka nggak betah.'' sambung pak Yanto.


Durasi waktu kebersamaan yang tidak sebentar itu memang sulit jika harus dipisahkan secara tiba-tiba. Meskipun tak jarang Vina tegas pada Mikha, tetapi pria kecil itu sudah biasa.


Dan, kini semua itu hanya tinggal kenangan. Lidya masih kekeh tidak akan meminta Vina untuk kembali lagi. Meskipun besannya pun sampai menggeleng heran saat menyaksikan kerasnya watak istri tuan Leonardo.


Tiba-tiba Gian langsung terpikirkan sesuatu setelah mendengar cerita dari pakliknya.


''Bagaimana kalau seandainya Mikha masih kekeh meminta om-nya untuk menikah dengan Vina, Paklik?'' tanya Gian khawatir.

__ADS_1


Pak Yanto langsung menarik nafas panjang. Sepertinya apa yang dikhawatirkan oleh Gian juga tengah ia rasakan.


''Paklik nggak bisa jawab apa-apa, kalaupun kekhawatiran itu benar-benar terjadi, kamu harus bisa legowo ya ... cinta itu memang nggak bisa dipaksakan.'' ujar pak Yanto.


__ADS_2