
''Om Arkha akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu, sayang.'' bathin Arkha yang sudah mendapatkan keputusannya sendiri.
Setelah cukup lama bermain menuruti kemauan Mikha, pria kecil itu akhirnya meminta pulang ke rumah. Arkha pun langsung mengiyakan saja.
...
Arkha membuat keputusan ini tanpa berunding dengan kedua orangtuanya terlebih dahulu. Ia sudah mendengar perbincangan antara mama dan papanya via telepon. Mendengar nada bicara Lidya yang masih kekeh untuk menikahi Rachel, membuat Arkha malas ribut untuk sekarang.
Hari ini ia sudah yakin dengan keputusannya, Arkha pergi ke suatu desa. Ia pergi menggunakan pesawat agar lebih cepat.
"Tuan yakin tidak meminta bantuan dari orang yang kenal sama dia?" tanya asisten Arkha.
"Nggak perlu." jawab Arkha sembari melihat kembali fotokopi KTP milik Vina.
Ya, Arkha akan mendatangi kediaman Vina. Ia memutuskan untuk menikahi gadis itu, meskipun secara sangat terpaksa. Hanya ini jalan satu-satunya yang memang di harapkan oleh Mikha.
"Nanti tanya saja kalau sudah dekat sama alamat ini." sambung Arkha.
Setelah turun di bandara, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan taxi yang sudah tersedia di bandara itu.
Melewati jalanan yang sepi karena sepanjang jalan hanya perkebunan, akhirnya tiba di pedesaan lagi. Dari penunjuk arah, sepertinya tidak lama lagi akan sampai.
"Kamu turun dulu, Dic, itu ada orang, coba kamu tanyakan alamat ini." suruh Arkha pada asisten Dicky.
"Siap."
Dicky langsung turun dari taxi, ada beberapa pemuda yang sedang berhenti di pinggir jalan. Mereka rombongan anak-anak sekolah menengah atas.
"Permisi." ucap Dicky.
"Iyaaa." jawab anak-anak muda itu.
"Boleh saya tanya, apa di antara kalian ada yang paham dengan alamat ini?"
Dicky menunjukkan selembar foto kopian itu. Mereka langsung spontan berkata, "Oooooh"
"Mbak Vina 'kan ini?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
Dicky langsung mengangguk.
"Iya betul." jawab Dicky.
"Nggak jauh dari sini, Om, itu yang rumahnya pojok sekolahan, cat warna abu-abu." tunjuk mereka.
Dicky menatap ke arah itu.
"Oh, iya-iya, terima kasih ya adik-adik." ucap Dicky.
Dicky mengambil dompetnya, sesuai perintah dari Arkha, jika ada yang memberitahukan, maka harus di kasih uang. Dicky langsung mengeluarkan dua lembar mereka ke anak-anak muda itu.
"Terima kasih sudah membantu saya untuk mencari alamat ini. Sedikit untuk jajan kalian ya."
"Wah, terima kasih banyak, Om." ucap salah satu anak muda itu yang langsung merebut uang dari tangan Dicky.
"Sama-sama, permisi." balas Dicky.
Dicky kembali memasang kacamatanya. Ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya berhasil?" tanya Arkha.
Dicky langsung menjadi petunjuk arah bagi supir taxi itu. Tidak lama kemudian, mereka tiba di lingkungan sekolahan, rumah warna abu-abu. Tepat sekali rumah itu ada di sudut sekolahan.
"Itu, Pak, rumah warna abu-abu." tunjuk Dicky.
Taxi itu juga sudah di carter, sehingga akan membawa kemana Arkha dan Dicky pergi.
"Baik, Pak." jawab supir tersebut.
Wanita dan pria paruh baya yang tengah berdiri di samping rumah pun terlihat bingung saat ada taxi yang masuk ke halaman rumahnya. Mereka celingukan ke kanan dan kiri. Mereka menebak mobil tersebut hanya akan mencari alamat atau berputar arah.
"Ayo turun.'' ajak Arkha.
''Bapak boleh istirahat dulu.'' ujar Dicky pada supir taxi.
''Baik, Pak.'' jawab supir itu.
__ADS_1
Dicky dan Arkha langsung membuka pintu mobil secara bersamaan. Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore.
''Permisi, assalamu'alaikum.'' ucap Dicky.
''Iya, wa-wa'alaikumussalam.'' jawab wanita itu gugup melihat dua pria tampan dan gagah mendatangi rumahnya.
Mereka juga takut, dua pria ini orang yang tidak benar. Apalagi kabar tentang penculikan sedang marak di kampungnya.
"Maaf Pak, Bu ... apa benar ini rumahnya Vina?'' tanya Arkha.
Wanita itu langsung menoleh ke arah suaminya.
"Lho, Pak, kok kenal sama anak kita?'' bisiknya.
"Emm, i-iya, benar. Tapi, kalian siapa ya?'' tanya pria itu.
Sebagai orang tua, tiba-tiba kedatangan tamu dengan postur tubuh yang seperti Arkha membuat mereka bertanya-tanya dan juga takut. Mereka khawatir Vina membuat masalah.
''Saya Om-nya Mikha, anak yang di asuh oleh Vina, Pak, Bu.'' jawab Arkha dengan sopan.
Tujuan utama dari Arkha tentu saja berhasil untuk menikahi gadis itu. Jadi, mau tidak mau, ia harus berusaha bersikap sopan supaya bisa lebih mudah untuk membuat kedua orang tua Vina mempercayai ucapannya nanti.
''Mikhael?'' balas pria itu yang sering mendengar cerita tentang Mikha. Tapi, Vina tidak pernah menceritakan bagaimana sosok Arkha.
''Iya, Pak, Mikhael Leonardo. Saya Arkha Leonardo.''
Pria dan wanita itu langsung menutup mulutnya tak percaya di datangi oleh bos anaknya.
Arkha membuka ponselnya, ia menunjukkan momen-momen kebersamaannya dengan Mikha. Kedua orangtua Vina pun langsung percaya setelah melihat bukti-bukti itu.
''Ya Allah, kami mohon maaf, mari masuk dulu, Pak, eh, Tuan.''
''Iya 'kan Pak manggilnya Tuan?'' tanya wanita itu sedikit berbisik pada suaminya.
''He'em.''
''Mari-mari silahkan masuk.'' ujar pria itu yang langsung membukakan pintu rumahnya.
__ADS_1
Arkha menampilkan senyum ramahnya sembari menarik nafas panjang.
"Demi kamu, Mikha ... semua demi kamu. Yang penting Om Arkha menikah, 'kan?.'' bathin Arkha membayangkan wajah Mikhael.