
Pak Yanto yang masih duduk santai sembari menyeruput kopi hitamnya pun langsung berdiri. Kabar pagi ini membuatnya sangat terkejut, meskipun suara-suara keinginan Mikha untuk membuat Arkha dan Vina menjadi pasangan sudah ia dengar.
''Ah, yang bener, Le?''
''Kamu yakin Vina sekarang ada sama tuan Arkha?''
''Anak buahnya yang mendatangiku, Paklik.''
Gian menjelaskan pada pakliknya itu mengenai pencegahan dua orang pria yang mengaku dan juga menunjukkan bukti bahwa Vina telah bersama dengan Arkha.
''Ya sudah, Paklik sebentar lagi ke sana, huufftttt, kamu yang sabar ya, Le ... luaskan hati dan pikiran kamu.'' ujar pak Yanto.
Gian menyudahi panggilan telepon itu. Ia memijat-mijat pelipisnya yang terasa berat.
Sementara pak Yanto langsung menghabiskan kopi hitamnya yang masih cukup panas itu.
Setelah berita mengejutkan pagi ini ia terima, pak Yanto yang juga harus bekerja pun semakin buru-buru. Pria itu berpamitan pada keluarganya untuk berangkat ke kediaman Leonardo.
20 menit kemudian, pak Yanto tiba di rumah bosnya. Ia langsung memanasi mesin mobil yang masih di garasi.
''Tapi, itu mobilnya tuan Arkha ada di depan? apa mau bawa mobil sendiri ya?'' bathin pak Yanto bertanya-tanya.
''Saya mau bawa mobil sendiri, Pak. Nanti Bapak antar mama saja sama Mikha, mereka mau ke tempat nenek.'' ujar Arkha.
__ADS_1
''Oh, iya Tuan, baik.'' jawab pak Yanto.
Arkha kembali masuk ke dalam, pak Yanto menatapnya belum berkedip. Belum ada kehebohan di rumah ini. Mengingat Lidya masih menentang pernikahan Arkha dan Vina, membuat pak Yanto yakin kalau wanita itu tidak mungkin akan langsung baik-baik saja kalau sudah mendengar semuanya.
''Tuan Arkha kelihatan kurang tidur? sepertinya memang belum berbicara dengan mamanya?'' tebak pak Yanto.
''Berarti tuan Arkha memutuskan itu secara sepihak?'' bathin pak Yanto.
Bekerja sembari membathin membuat pak Yanto terasa cepat selesai mengelapi mobil itu.
Di meja makan, Arkha pun sebenarnya terlihat lesu, kurangnya waktu istirahat membuatnya menjadi tidak semangat ketika di samping sang ponakan.
''Om Arkha masih ngantuk ya?'' tanya Mikha.
''Kamu kalau masih kecapean, lebih baik istirahat dulu di rumah, Ar.'' ujar Lidya.
Arkha tersenyum tipis.
''Nggak papa kok, Ma. Nanti bisa istirahat di kantor aja. Soalnya harus membereskan hasil perjalanan kemarin.'' jawab Arkha.
''Jaga kesehatan kamu ya.'' balas Lidya yang menunjukkan perhatiannya pada Arkha.
Arkha mengangguk, ''Thank you, Ma.'' jawabnya.
__ADS_1
Mereka mengkonsumsi roti panggang dengan selai dan juga segelas susu. Arkha hanya mengkonsumsi nasi satu kali dalam sehari.
Sebetulnya rasa lelah itu masih sangat kuat hinggap di tubuhnya, tapi, Arkha harus memaksakan diri untuk ke kantor.
Selain urusan pekerjaan, Arkha harus mencari informasi tentang pernikahan yang akan dilaksanakan. Ia juga ingin menenangkan pikirannya sebelum menyampaikan hal ini pada kedua orangtuanya. Walaupun ia sudah bisa menebak, jawaban seperti apa yang keluar dari mulut kedua orangtuanya.
Arkha yang sudah tiba di kantor itu langsung duduk, ia menyandarkan kepalanya. Sebelum masuk, ia berpapasan dengan seorang OB, ia pun meminta untuk diantarkan kopi.
''Iya masuk.'' jawab Arkha ketika pintu ruangannya di ketuk.
''Permisi, Tuan, mau antar kopinya.'' ujar ob itu.
''Taruh sini.'' tunjuk Arkha di mejanya.
''Baik, Tuan.'' jawabnya.
Pria itu langsung pamit keluar setelah meletakkan kopi di meja kerja Arkha.
Arkha yang hendak menarik gelas itu, sorot matanya tiba-tiba fokus ke hal lain. Ia mengambilnya lalu menatap foto itu.
''Kenapa kamu harus pergi secepat itu sih, Bang?'' gumam Arkha melihat foto masa kecilnya bersama abangnya yang kini sudah tiada.
Arkha menaikkan sudut bibirnya ketika kembali terbayang tentang pernikahan.
__ADS_1
''Semua ini gara-gara kamu, Bang. Aku tidak lagi menginginkan yang namanya pernikahan. Jangankan menikah, berpacaran saja tidak mau. Semua hubungan itu bagiku tidak ada yang tulus. Semenjak kamu menikahinya, seseorang yang ku cintai sejak dulu. Bagiku, hubungan itu hanya omong kosong dan buang-buang waktu.'' pungkasnya dengan gumaman.