(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 53 : Sedang Meyakinkan Diri


__ADS_3

Arkha kembali meletakkan foto itu ke tempat semula. Ia mengusap wajahnya dan mencoba untuk melupakan hal itu. Bagaimana pun juga, ia menyayangi sewajarnya hubungan saudara.


Jika Arkha tidak bisa beristirahat dengan cukup, Dicky memiliki waktu istirahat ketika pulang dari kampung halaman Vina. Ia yang sudah selesai langsung kembali ke apartemennya, sementara Arkha harus menemui Vina.


Untuk itu, pekerjaan hari ini ia minta Dicky yang menghandle, ia hanya mau untuk sekedar membubuhkan tanda tangan jika diperlukan.


''Apa ada lagi, Dic?'' tanya Arkha.


''Belum ada lagi, Tuan.'' jawab Dicky.


''Ya sudah, kamu balik ke ruangan kamu sekarang, aku mau tidur sebentar. Jangan ganggu!'' usir Arkha.


''Apa anda semalam benar-benar tidak tidur, Tuan?'' tanya Dicky.


Bukannya langsung keluar, justru Dicky memancing emosi bosnya yang sudah sangat mengantuk.


''Menurutmu??!'' balas Arkha.


''Saya kesulitan untuk menebak, Tuan.'' jawab Dicky yang membuat Arkha melemparkan bulpoinnya, untung saja Dicky piawai menangkap.


''Ooohhh, waahh, jangan-jangan anda sudah melakukan pemanasan sebelum menikah ya, Tuan?'' tebak Dicky yang seketika membuat Arkha ganti melempar buku. Dicky sudah mengetahui kenakalan Arkha di luar sana.


''KELUAR! DASAR GILA!'' usir Arkha.


''Baik Tuan, baik, maafkan saya yang polos ini.'' balas Dicky yang langsung bergegas keluar dari ruangan Arkha sembari membawa tumpukan berkas.


Dicky kembali ke ruangan sembari menahan tawa karena sudah berhasil memancing emosi bosnya. Sementara Arkha masih terus mengomel.


''Dasar bocah edan! Dicky gendeng!'' protes Arkha.

__ADS_1


Arkha menghabiskan kopi hitamnya, lalu masuk ke dalam kamar pribadi yang ia gunakan untuk beristirahat.


Jika tadi pagi rasa kantuknya tetap tidak bisa membuatnya tidur, kali ini Arkha langsung beralih ke alam mimpi setelah beberapa menit merebahkan tubuhnya.


...


Vina yang sudah sejak tadi malam terkurung di dalam hotel membuatnya bosan. Menonton film pun sudah ia lakoni. Ia membuka ponselnya, belum ada respon dari Gian atas pesan yang ia kirimkan tadi pagi. Gian pun juga belum membuka pesan darinya.


''Pasti masih ramai.'' gumam Vina. Tidak dipungkiri bahwa Vina menantikan balasan pesan dari pria itu.


Bukan waktu yang sebentar, sehingga Vina cukup hafal dengan kesibukan Gian di jam-jam tertentu.


Vina membuka tirai jendela hotel tersebut, ia memandangi langit yang gelap. Tak lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai turun. Ia semakin terbayang-bayang dengan Gian yang pasti kecewa dengannya.


''Lho, iya? kemana oleh-oleh yang ku bawa?'' gumam Vina yang langsung menoleh ke belakang.


''Ishhh!! kemana oleh-oleh itu?''


Vina berkacak pinggang, ia ingin marah, tapi, tidak tau harus marah pada siapa. Ia juga tidak menyimpan nomor Arkha. Kalaupun punya, sudah pasti ia tak berani menghubungi pria itu.


Di tengah-tengah rasa marahnya yang tak terjawab itu, ponselnya berdering. Vina langsung mengintip.


''Ohh, Mas Gian!'' gumam Vina yang langsung menyambar ponselnya dengan cepat.


Gian melakukan panggilan video. Vina pun langsung mencari tempat duduk, ia duduk di sofa.


''Assalamu'alaikum Mas.'' ucap Vina.


''Wa'alaikumussalam.'' jawab Gian.

__ADS_1


''Vin, kamu kemana saja? katanya pulang kemarin?''


''Apa benar kamu akan menikah dengan Arkha?''


Senyum manis yang semula memenuhi layar ponsel Gian pun menjadi hilang. Vina tampak menunduk sembari menarik napas panjang.


''Aku minta maaf, Mas.'' ucap Vina.


''Jadi, semua itu benar, Vin?'' tanya Gian memastikan lagi.


Vina mengangguk ragu dan sorot matanya yang sendu. Keputusan yang jauh dari kemantapan hatinya.


''Kenapa harus demi kebahagiaan orang lain, Vin? tidak kah kamu peduli dengan kebahagiaan kamu sendiri?'' tanya Gian.


''Maaf Mas, mungkin untuk saat ini aku benar-benar sedang tidak membutuhkan pertanyaan kenapa, aku sudah mengiyakan keputusan itu. Aku hanya sedang meyakinkan diri bahwa semua ini sudah jalan-Nya.''


''Teruntuk keputusan ini, aku sadar, aku menyakiti hati kamu, Mas. Dan juga menyakiti diriku sendiri untuk saat ini, tapi, aku yakin, ini semua menuju kebahagiaanku kelak.''


''Aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk Mas Gian dan semuanya. Terima kasih karena Mas Gian sudah memberikan tempat dan ruang dengan sangat tulus. Keputusan ini pasti membuat kecewa, tapi, hal itu sudah tidak bisa ditawar lagi. Aku hanya bisa berdo'a semoga Mas Gian selalu bahagia kedepannya seperti yang sudah-sudah. Maafkan aku kalau selama bekerja di sana sering membuat kesal karena kesalahanku.'' ucap Vina panjang lebar.


Gian hanya bisa tersenyum getir sembari melempar tatapan matanya ke arah lain.


''Sekali lagi, aku minta maaf, Mas. Mungkin ini komunikasi kita yang terakhir kalinya. Aku akan selalu mengingat kebaikan kamu selama ini. Assalamu'alaikum.''


Tanpa menunggu jawaban salam dari Gian, Vina menutup telepon. Ia sadar ini tindakan yang kurang sopan. Tapi, ia pun tidak sanggup melihat kesedihan yang jelas tergambar di wajah Gian.


''Dari pertemuan pertama, aku juga sudah tertarik sama kamu, Mas Gian. Huufftttt,''


Vina menarik napas dalam-dalam. Ia tengah menatap rintikan hujan yang turun sembari merenungi bahwa apa yang kita mau belum tentu menjadi milik kita.

__ADS_1


__ADS_2