
Setelah membangunkan Vina, Arkha langsung berlalu sembari mengomel dalam hati.
"Apa tadi dia bilang? sombong?" omelnya dalam hati.
"Cih! dasar anak kampung! dia aja yang kampungan!" omelnya yang masih dalam hati.
Dengan langkah panjangnya, Arkha membelokkan ke ruang dapur.
KYAAAA!!!
"ASTAGA! JALAN PAKE MATA!'' seru Arkha yang kaget karena hampir bertabrakan dengan salah satu pekerja wanita.
"Maaf Tuan.'' ucap wanita itu.
Baru satu langkah, Vina, tuan Leon, dan nyonya Lidya berhamburan masuk ke dapur karena mendengar suara Arkha yang berteriak dan juga suara wanita berteriak.
"Ada apa ini?!'' seru tuan Leon.
"Aaaa-,''
Arkha dan pekerja itu saling melempar tatapan.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya tidak sengaja hampir menabrak tuan Arkha." jawab wanita itu lalu menunduk.
"Oalah-alah!'' sahut Lidya.
Vina langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mana ada jalan pake mata, yang ada jalan pake kaki!'' protes Vina dalam hati.
Arkha pun mengangkat tangan kirinya kode agar mereka bubar. Karena memang tidak terjadi apa-apa.
''Bubar semuanya!'' seru tuan Leon.
Mereka pun langsung bubar, Vina kembali ke ruangan dimana Mikhael sedang bermain.
''Om Arkha marah-marah sama siapa, Mbak?'' tanya Mikhael.
''Emmm, ituuu, om Arkha lagi marahin tikus.'' jawab Vina sekenanya. Ia tidak tau harus membuat alasan apa. Dan, yang terlintas dibenaknya hanyalah kata itu.
"Hihihi, om Arkha lucu ya, Mbak?''
''Masa marah-marah sama tikus sih.'' ujar Mikha.
Vina hanya nyengir.
''Ehm.''
Selesai Vina menjawab, deheman Arkha membuat Vina langsung sigap berdiri.
''Pasti si sombong dengar nih.'' bathin Vina melirik sekilas ke arah Arkha.
Di saat yang sama, Arkha juga meliriknya, bedanya Arkha melirik Vina dengan sorot mata yang tajam seperti hendak menerkamnya.
''Mbak Vina ke belakang dulu ya.'' pamit Vina pada Mikhael.
__ADS_1
"Iya Mbak.'' jawab Mikha.
Vina beralih ke kamar Mikhael, ia menyiapkan pakaian pria kecil itu untuk dinner nanti malam. Daripada tidak ada yang ia kerjakan, yang ada justru membuat kantuknya kambuh lagi.
Siang hari sudah bergeser menjadi malam, tepat pukul tujuh, Mikhael dan Vina sudah siap untuk acara malam ini. Memiliki waktu di sela kesibukan masing-masing, karena keluarga tetap yang utama.
''Wiihhh, cucu Oma sudah siap nih?'' sambut oma Lidya langsung menciumi kening cucunya itu dengan gemas.
''Ready, Omaaaa.'' jawab Mikha.
Arkha pun sudah terlihat tampan dan gagah. Tapi, segagah apapun penampilannya, tugas Arkha tetap sebagai supir.
Semuanya sudah masuk ke dalam mobil, mereka melakukan perjalanan menuju restoran mewah yang ada di tengah kota.
Beberapa menit perjalanan di lalui, mereka tiba di restoran yang dituju. Dari luar sudah terlihat bangunannya yang mewah. Tentu saja mereka sudah melakukan pemesanan sebelum datang.
''Yeyyy, sudah sampai!'' sorak Mikha senang.
''Omaaa, Mikha sudah lapar, hehe'' ujar Mikha dengan jujur.
Kejujuran bocah itu memancing gelak tawa dari semuanya.
''Mari kita makaan.'' jawab oma Lidya.
Mereka masuk di sambut oleh staf restoran tersebut dan langsung diarahkan ke meja yang sudah mereka pesan.
Tempat yang sangat nyaman bagi keluarga yang membawa anak kecil. Sembari menunggu menu-menu yang di pesan datang, mereka bisa membawa anak-anaknya bermain di play ground yang tersedia.
__ADS_1
''Kita dulu kesini belum ada tempat bermainnya ya, Oma?'' tanya Mikhael.
''Iya, sayang ... waktu itu masih proses." jawab oma Lidya.