
Prok prok prok
Pemilik suara tepuk tangan itu langsung membuat Vina kembali terbelalak.
''TU-TUAN ARKHA!'' pekik Vina semakin terkejut setelah melihat siapa seseorang yang kini ada di depannya itu.
''Ya, syukurlah kamu masih ingat saya, Vina. Jadi kita tidak perlu berkenalan lagi." balas Arkha.
''Bagaimana kabar kamu?'' imbuhnya.
Dengan sorot matanya yang tak setajam dulu ketika bertatap muka dengan Vina. Justru hal itu membuat Vina sangat ketakutan.
''TIDAK USAH BASA-BASI, TUAN!''
''APA TUJUAN ANDA MENCULIK SAYA, HA?!''
''LEPASKAN SAYA DARI SINI!''
Vina sudah terpengaruh dengan rasa emosinya, sehingga tidak ada lagi perasaan takut pada pria itu. Karena kejadian waktu itu kembali terngiang-ngiang di dalam hatinya. Ia berhenti bekerja dengan cara yang tidak hormat.
Arkha dengan santainya tersenyum lebar dan melipat kedua tangannya di depan. Sedangkan Vina semakin dibuat geram. Arkha semakin mendekati Vina yang masih berdiri di depan ranjang.
''STOP! JANGAN MENDEKAT!''
''ANDA JANGAN MACAM-MACAM SAMA SAYA!''
Ancaman Vina tak berarti apa-apa bagi Arkha. Justru ancaman itu membuat Arkha tertawa.
''Ervina Larasati, hmmm, lama kita tidak bertemu, sayang. Bagaimana kabar kamu, hem?''
__ADS_1
''SAYA BILANG JANGAN MENDEKAT!'' seru Vina yang tidak menggubris perkataan ngawur dari Arkha.
Arkha kembali tertawa, sementara Vina semakin emosi melihat tawa itu.
''SEBENARNYA APA MAU ANDA, TUAN?!''
''Boleh tidak suara kamu itu diperkecil sedikit?'' balas Arkha dengan menunjukkan ujung jarinya.
''TIDAK BISA!'' seru Vina.
Arkha menarik nafas dalam-dalam.
''Eitttsss, mau kemana kamu, Vina?'' tanya Arkha yang menyadari Vina hendak kabur.
''JANGAN SENTUH SAYA!'' seru Vina yang melihat tangan Arkha hendak menahannya.
''Okay.'' balas Arkha yang langsung menurunkan tangannya.
''Kamu tidak perlu takut, Vina. Ada hal yang sangat penting yang harus kamu dengarkan.'' ujar Arkha.
Vina yang masih membuang pandangannya pun menoleh ke arah Arkha sekilas. Ia tak mempercayai hal penting apa. Karena bagi Vina, Arkha seorang pria nakal yang sedang mengenakan topeng.
Vina pun kembali melengos dan tak memiliki rasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Arkha.
''Ini tentang Mikha.'' ungkap Arkha.
Vina langsung terbelalak tak berkedip mendengar nama itu. Seketika ia kembali menoleh ke arah Arkha.
''Mikha?'' tanya Vina yang tidak lagi bersuara tinggi.
__ADS_1
''Kenapa dengan Mikha?'' sambungnya.
Arkha beranjak dari sofa itu. Vina langsung mundur.
''Saya tidak akan apa-apain kamu.'' ujar Arkha ketika melihat Vina melangkah mundur.
Vina tidak menjawab, dan ia tetap mundur dua langkah.
''Mikha tetap meminta kita menjadi papa dan mamanya.''
Mulut Vina langsung membulat sempurna, kedua matanya juga melotot. Setelah waktu yang lama sudah berlalu, kenapa permintaan itu masih saja terucap.
''Itu tidak mungkin, saya tidak percaya. Anda pasti sedang terpengaruh alkohol, 'kan?'' balas Vina.
Sudut bibir Arkha langsung terangkat sembari menarik nafas panjang.
''Saya tidak mabok, bahkan hari ini saya belum minum alkohol satu tetes pun.'' terang Arkha dengan santai.
''Coba kamu duduk dulu, biar saya jelaskan semuanya.'' pinta Arkha.
Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya Vina duduk di sofa. Arkha pun mengikutinya, tetapi Vina langsung geser paling ujung. Sehingga antara duduk Arkha dan Vina, dari ujung ke ujung.
''Sebelum anda berbicara, saya ingin berbicara lebih dulu. Saat ini saya sedang bekerja di tempat orang. Saya sudah mengabarinya kalau malam ini sampai, tapi, ini sudah jauh dari waktu yang wajar. Dia pasti khawatir sama saya, dia pasti sedang mencari saya.''
''Izinkan sa-,''
''Tidak perlu cemas soal itu, itu urusan saya dan laki-laki itu sudah tidak mencarimu lagi.'' potong Arkha.
Vina kembali mendelik.
__ADS_1
Saat Gian hendak menyusul Vina, ia di cegat oleh dua orang pria. Pria itu menahan niat Gian. Gian yang awalnya kekeh untuk membawa Vina kembali pun akhirnya kalah. Awalnya ia juga tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dua orang itu. Rekaman video amatir Mikha yang selalu menyebutkan nama Vina akhirnya membuat Gian tak bisa berkutik lagi. Ia hanya bernafas lemas, apa yang ia khawatirkan sepertinya akan terjadi.