
Lidya masih belum berhasil membuat cucunya itu memejamkan matanya. Pria kecil itu terus mencari sosok Vina yang biasanya selalu membuatkan susu untuknya sebelum tidur. Karena sejak tadi yang ada dihadapannya hanyalah Lidya.
''Omaa, beneran mbak Ina pulang kampung?'' tanya Mikha yang sebelumnya sudah mendengar alasan itu dari omanya. Sepertinya Mikha masih penasaran mengenai kebenarannya.
''E, iya sayang. Mbak Vina sudah pulang ke kampung karena ditelpon sama bapaknya.'' jawab Lidya.
''Sampai kapan, Oma?'' tanya Mikhael.
''Emm, sampaiiii ... sampai bapaknya bolehkan mbak Vina kesini.'' jawab Lidya yang semakin berusaha keras untuk membuat kebohongan-kebohongan berikutnya.
Di depan pintu kamar Mikhael, tuan Leon menarik nafas panjang dengan kedua tangan dilipat ke depan dadanya.
"Bagaimana caranya cari pengganti Vina dalam waktu yang singkat?'' bathinnya.
Tidak dipungkiri, Leon dan Lidya selama ini senang dengan cara kerja Vina yang benar-benar menyayangi cucu satu-satunya itu.
''Memangnya bapak mbak Vina kenapa, Oma?'' tanya Mikhael.
Lidya semakin dibuat stres dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh cucunya itu.
''Sakit.'' jawab Lidya cepat. Tindakan terpaksa yang harus ia katakan setelah keputusan mendadaknya itu.
''Sudah malam, Mikha tidur dulu ya ... kalau bicara terus nanti nggak tidur-tidur.'' ujar Lidya yang berusaha mengalihkan pembahasan soal Vina.
Satu jam kemudian, akhirnya Mikhael berhasil memejamkan kedua matanya setelah Lidya yang justru terlelap lebih dulu. Wanita itu menemani tidur cucunya agar bisa lebih dekat dan tidak mencari keberadaan Vina yang sudah meninggalkan rumahnya.
Di tempat lain
Pak Yanto berpamitan pada keponakannya yang bernama Gian itu. Ia tak ingin membuat kemarahan bosnya karena lama mengantarkan Vina. Yang penting sudah memastikan mengenai Vina.
"Paklik benar-benar titip sama kamu ya, Le ... Vina anak yang baik kok. Dia nggak suka aneh-aneh. Kasian dia jadi korban bos kami.'' ujar pak Yanto.
__ADS_1
''Iya Paklik, aku akan menjaga kepercayaan Paklik.'' jawab Gian.
''Ya sudah, kamu juga hati-hati. Awas jatuh cinta, haha''
Pak Yanto pun melontarkan sedikit candaan pada ponakannya itu.
''Ah, kalau urusan itu, bisa saja terjadi Paklik, hehehehe''
Pak Yanto terkekeh.
Setelah berbincang berdua dengan Gian, pak Yanto pun kembali menemui Vina dan langsung pamit.
''Terima kasih banyak ya, Pak.'' ucap Vina.
''Sama-sama, Vin ... pokoknya kamu tenang aja disini, jangan sedih-sedih terus.'' jawab pak Yanto.
''Hehehe, siap Pak.'' jawab Vina.
''Ya sudah Vin, kamu istirahat saja. Maaf banget ya kamarnya ada di belakang.'' ujar Gian.
"Tidak apa-apa, Mas.'' jawab Vina.
Vina memilih untuk memanggil Gian dengan kata Mas, karena usia laki-laki itu lebih tua darinya.
Rumah makan tersebut sekaligus sebagai tempat tinggal Gian. Lalu, ditambahkan beberapa kamar di belakang untuk pekerjanya yang menginap. Kebetulan dua pekerja Gian merupakan sepasang suami istri yang ia datangkan dari kampungnya.
Karena sudah larut malam, kelelahan pada aktivitas sehari-hari membuat pasangan suami istri itu mungkin langsung terlelap ketika sudah waktunya selesai bekerja. Setiap pagi harus bangun cepat untuk mempersiapkan semuanya untuk di olah.
Gian mengantarkan Vina sampai ke depan kamarnya.
"Sekali lagi terima kasih sudah menerima saya disini untuk memberikan tempat bagi saya.''
__ADS_1
''Emm, maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Mas Gian.'' ucap Vina.
Kebaikan Gian ini benar-benar sangat berarti untuk Vina. Ia menjadi lega karena tidak harus pulang kampung secara mendadak.
''Tidak masalah, Vin. Semoga kamu bisa lebih tenang disini ya.'' jawab Gian.
Vian tersenyum tipis sembari mengangguk.
''Oh ya sebentar, jangan tutup pintu dulu.'' ujar Gian.
Laki-laki itu berjalan ke arah dapur, sementara Vina pun masih berdiri di tengah-tengah pintu dengan tas masih berada di tangannya.
''Kamu pasti masih malu-malu kalau tiba-tiba haus dan mau keluar kamar. Ini air sama roti kalau nanti tiba-tiba kamu lapar.''
Perhatian dari Gian membuat kedua mata Vina berkaca-kaca. Jika saja Gian itu seorang wanita, sudah pasti langsung Vina peluk dengan erat.
"Terima kasih banyak, Mas.'' ucap Vina.
Gian mengangguk.
''Aku mau istirahat dulu, kamu juga istirahat. Besok kenalan sama yang lain.'' ujar Gian.
''Oh ya, jangan pakai kata saya ya. Kedengarannya kok jadi kaku banget, haha.'' lanjut Gian.
Vina membalas dengan anggukan. ''Hehe, iya.''
Setelah Gian meninggalkan Vina. Vina langsung masuk ke kamar barunya itu, tak lupa ia menguncinya dari dalam.
Sebelum duduk, Vina mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar yang tidak luas itu. Tapi, ia sangat bersyukur karena sudah mendapatkan kepastian tentang hari-harinya setelah kejadian malam ini.
''Alhamdulillah, semua hal memang patut untuk kita syukuri.'' ucap Vina lirih sambil meletakkan air mineral dan roti itu ke atas meja kayu.
__ADS_1