
Di perjalanan menuju ke apartemen Arkha. Mikhael banyak sekali melontarkan berbagai macam pertanyaan. Arkha sampai kuwalahan menjawab setiap pertanyaan yang tidak kunjung menemukan ujungnya itu.
Arkha melirik sekilas pada Vina yang diam saja tidak memberikan bantuan di saat dirinya di cerca berbagai pertanyaan.
"Emang enak, hihi." bathin Vina tertawa puas.
''Apa itu dia malah ketawa!'' bathin Arkha geram.
''Kok berhenti, Om?'' tanya Mikha.
Arkha membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket.
''Om Arkha belum punya apa-apa, jadi kita belanja dulu ya.'' ujar Arkha.
''Ooo iya, Om Arkha.'' jawab Mikha yang akhirnya juga menghentikan pertanyaan-pertanyaannya.
Arkha segera turun dari mobilnya dan tentunya di ikuti oleh Vina. Arkha mengambil alih Mikha yang baru keluar dari mobil.
''Mikha sama Om Arkha ya.'' ujar Arkha.
Mikha langsung beralih ke gandengan om-nya.
''Beli apa saja, Tuan?'' tanya Vina lirih.
''Terserah kamu lah, biasanya apa yang di makan sama Mikha. Cemilannya jangan lupa, susu, terus buat kamu juga. Jangan sampai kamu mati kelaparan di apartemenku.'' celetuk Arkha sedikit berbisik agar Mikha tidak mendengarkannya.
Vina langsung melotot mendengar celetukan Arkha. Sedetik kemudian ekspresi itu sudah kembali normal sebelum di ketahui oleh Mikhael. Vina harus kuat-kuat menahan kejengkelannya pada Arkha yang tidak bisa sedikit saja bersikap ramah, setidaknya saat sedang bersama Mikhael saja.
''Cih! nggak usah melotot.'' protes Arkha yang kembali berbisih, namun, perkataannya ia tekankan.
Vina langsung mengalihkan pandangannya menatap ke depan.
Begitu sampai di dalam, Vina mengambil keranjang belanja. Pertama ia langsung memilih apa yang dibutuhkan untuk Mikha.
Arkha dan Mikha mengikuti Vina dari belakang, sesekali Arkha maupun Mikha menunjuk pada objek yang menurutnya dibutuhkan. Tugas Vina hanya mengiyakan saja.
Aktivitas berbelanja akhirnya selesai, semua yang dibutuhkan sudah di dapatkan. Nanti tinggal mengolah ketika sudah sampai di apartemen Arkha.
__ADS_1
Ketiganya kembali masuk ke dalam mobil dan langsung menuju apartemen karena waktu semakin sore. Sinar matahari pun sudah mendekati waktu tenggelamnya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di apartemen.
''Awas hati-hati, Mikhael! jangan lari-lari.'' seru Arkha.
Mikha yang baru saja turun dari mobil tidak mau di gandeng, apalagi di gendong. Ia langsung berlarian lebih dulu.
''Tuan, tolong ini, aduhh!'' keluh Vina antara ribet dengan barang-barang dan juga Mikha yang berlarian.
''Saya mau ngawasi Mikha, tapi, ini bawaannya banyak.'' keluh Vina.
''Biar saya yang bawa barang-barang itu.'' balas Arkha.
''Terima kasih, Tuan.'' ucap Vina.
"Ya." jawab Arkha singkat.
Vina langsung mengejar Mikha, anak kecil itu seperti burung yang baru keluar dari sangkarnya. Dia terlihat bahagia melihat mobil-mobil parkir. Padahal hal itu bukan pertama kalinya, tentu saja sudah berkali-kali melihat mobil-mobil berjejer. Mobil mewah pun ia juga sudah punya. Tapi, tingkat kesenangan orang memang tidak ada yang tau, apalagi untuk anak-anak kecil seperti Mikhael, ia juga manusia biasa.
''Kurang ajar! malah jadi kayak asisten gini! banyak sekali! OH MY GOD!!'' pekik Arkha pelan sambil menatap kedua tangannya yang menenteng belanjaan.
''Biar saya bantu Tuan.'' ujar Vina.
''Nih tasnya bawa.''
Tanpa basa-basi, Arkha menyerahkan tas berisi mainan milik Mikha.
''Mikha jangan lari-lari lagi ya, banyak mobil-mobil pada keluar masuk. Nanti bahaya ya. Ingat pesan oma tadi.'' ujar Vina memberikan nasehat.
''Iya, Mbak Ina.. Mikha nggak lari-lari lagi.'' jawab Mikha.
Ketiganya sudah berada di lift untuk menuju lantai dimana apartemen Arkha berada.
Vina yang menggandeng tangan Mikha berjalan di belakang Arkha. Si tuan rumah pun langsung membuka pintu dengan kodenya.
Kesan mewah dari luar membuat Vina memiliki ekspektasi yang tinggi. Apalagi untuk keluarga berada seperti Leonardo.
__ADS_1
Tetapi, begitu Arkha membuka pintu apartemennya dengan lebar, Vina langsung shock. Area dalam apartemen itu seperti tidak berpenghuni karena sangat berantakan.
"Apakah tidak ada yang bertugas untuk membersihkan?" pertanyaan yang muncul di dalam hati Vina.
Mikha langsung berlarian kecil sehingga terlepas dari genggaman Vina. Vina tidak langsung mengikuti karna masih tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
''Nggak usah kaget gitu! biasa aja kali! tutup itu mulut kamu!'' protes Arkha.
Vina langsung reflek menutup mulutnya.
''Apartemen ini di tempati 'kan, Tuan?'' tanya Vina sedikit takut.
''Menurutmu?!'' balas Arkha dengan nada ketus.
Vina menggeleng pelan lalu nyengir.
''Hehe, maaf Tuan.'' ucap Vina.
"Dih! nggak usah sok imut!" protes Arkha.
''Selama kamu disini, jangan enak-enak. Kalau Mikha tidur, tugasmu membersihkan semuanya.'' suruh Arkha.
''Lah?!'' pekik Vina.
''Kenapa? mau nolak?'' balas Arkha.
Vina langsung menggeleng cepat.
''Bukan begitu maksud saya, Tuan. Tapi, nganu.''
''Saya kasih upah! nggak usah khawatir!'' ujar Arkha lalu meletakkan barang-barang bawaannya di atas meja.
...****************...
Mari berteman dengan Cimai di sosial media🙏
INSTAGRAM : CIMAI_AUTHOR
__ADS_1
FACEBOOK : CI AUTHOR