
Rekaman suara itu sudah berakhir, Arkha kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
''I-itu benar suara Mikha?'' tanya Vina yang suaranya terdengar bergetar.
''Hem.'' jawab Arkha singkat.
''Ta-ttapi, menikah itu tidak bisa di buat main-main, Tuan. Saya hanya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, dan juga orang yang mencintai saya.'' ujar Vina.
Berbicara tentang cinta, Arkha langsung terdiam. Ia sangat menyadari bahwa dirinya tidak bisa mencintai seseorang, yang ada di pikirannya hanyalah senang-senang untuk sesaat saja.
Tapi, sekarang tugasnya harus bisa membuat Vina menyanggupi pernikahan ini. Hanya ini satu-satunya jalan untuk membuat Mikha bahagia. Arkha sangat menyayangi keponakannya itu dan ia tidak mau menyesali lagi. Ia akan merasa bersalah jika tidak bisa membuatnya tersenyum.
''Meskipun saya tidak percaya apa itu cinta, yang pasti saya akan menikahi kamu dengan tanggung jawab. Saya akan memberikan nafkah yang memang harus saya berikan sebagai seorang suami.'' ujar Arkha.
''Nafkah?'' tanya Vina.
''Hm.'' jawab Arkha.
Keduanya sama-sama terdiam, beberapa detik kemudian keduanya saling menatap dengan tatapan yang melotot.
''Kecuali nafkah bathin! jangan harap untuk saya sentuh!'' ujar Arkha.
Vina mengernyitkan keningnya.
''Saya itu tidak mau menikah dengan anda, Tuan! saya tidak bisa membohongi Mikha dan diri saya sendiri.''
Arkha kembali terbelalak.
''Saya benar-benar mohon sama kamu, Vina. Apa kamu tega melihat Mikha seperti itu? apa kamu nggak punya kecemasan sedikitpun seandainya kata-kata dia yang akan ke surga itu benar-benar di lakukan ketika kami semua lalai?''
__ADS_1
Vina dibuat bingung dengan keadaan ini. Ini bukan masalah keluarganya, tetapi namanya harus dikait-kaitkan. Vina terdiam dan berpikir, ia adalah manusia normal yang sudah tumbuh dewasa. Sewajarnya seorang yang membuat ikatan pernikahan tentu saja ingin melanjutkan garis keturunan.
Jika pernikahan ini benar-benar di jalani tanpa adanya cinta, tanpa adanya kontak fisik. Vina semakin dibuat pusing sendiri. Kenapa juga pikirannya sudah sejauh ini.
''Kamu juga harus tau, saya sudah meminta restu sama orang tua kamu.'' ujar Arkha yang langsung membuat Vina lagi-lagi terbelalak tidak percaya.
''Ha, apa? anda jangan ngadi-ngadi, Tuan.''
Arkha kembali membuka ponselnya, ia menunjukkan foto dan video kediaman rumah Vina di kampung sehingga membuat Vina semakin terkejut dengan kenekatan mantan bosnya itu. Video dan foto itu di ambil dari dalam mobil oleh asisten Dicky.
Vina menggeleng tak percaya.
''Kapan anda kesananya?'' tanya Vina.
''Tadi.''
''TADI?!'' seru Vina terkejut.
''Iya, tadi, tuh ada tanggalnya.'' jawab Arkha sembari menunjukkan di sudut bawah layar ponselnya.
Vina pun memperhatikan arah tunjukan Arkha.
''Te-terus, apa tanggapan dari bapak dan ibu saya?'' tanya Vina.
Arkha membuang pandangannya ke arah lain untuk tersenyum penuh kemenangan.
''Setelah ini, kamu pasti akan bersedia menikah denganku, anak kampung, hahaha.'' bathin Arkha tertawa puas.
''Mari kita lihat!'' imbuhnya yang masih di dalam hati.
__ADS_1
Arkha kembali menghadap Vina.
''Kamu harus mendengarkan lagi apa yang sudah saya katakan pada calon mertua saya, dan kamu harus mendengarkan apa jawaban dari mereka.'' ujar Arkha semakin mendekati kemenangannya.
"Pasang telinga kamu baik-baik!" sambungnya.
''Dih! mertua?!'' cibir Vina spontan.
Dicky sudah mengirimkan hasil rekamannya pada Arkha. Arkha pun menyodorkan ponsel miliknya ke meja yang ada di depan mereka agar keduanya bisa sama-sama mendengarkan.
Vina di buat terkejut lagi saat mendengar suara Arkha yang begitu sopan. Tidak ada kesan bahwa ia sangatlah sombong.
Vina percaya bahwa suara itu memang milik kedua orangtuanya. Ia sebagai anak, tentu saja sangat hafal.
''Kenapa anda pandai sekali berakting, Tuan?'' tanya Vina.
''Hey! itu bukan akting. Itu sikap yang baik saat bertemu dengan calon mertua.'' jawab Arkha tak terima dikatakan akting, padahal memang kenyataannya seperti itu.
Vina menarik nafas panjang sembari berkata, ''sabar''.
Vina menunduk dalam setelah selesai mendengar rekaman itu. Kesimpulannya sekarang ada di tangannya. Kedua orangtuanya sudah menyerahkan keputusan itu. Kalaupun ia akan menolak, Arkha sudah terlanjur mengambil hati kedua orangtuanya dengan tutur kata yang halus dan juga janji-janji yang diberikan.
Jika Vina akan mengungkapkan keburukan Arkha pada kedua orangtuanya, sudah pasti tidak akan di percaya karena tanpa bukti. Apalagi seorang Arkha yang berasal dari keluarga berada bersedia mendatangi rumahnya yang terletak di kampung, suatu hal yang sangat mustahil kalau bukan niatan serius.
"Apa yang harus aku putuskan?"
"Aku takut, tapi, juga nggak tega sama Mikha."
"Kalau aku nolak, dan Mikha akan nekat, aku pasti merasa berdosa."
__ADS_1
"Tapi, kalau aku menerima, bagaimana hari-hariku menjadi istri dari tuan Arkha?"
Vina terus diam dan berbicara di dalam hatinya. Pertimbangan demi pertimbangan tengah bertarung di dalam hati dan pikirannya.