
Vina terkejut ketika balik badan, yang tadinya tidak ada siapa-siapa, kini ada Arkha yang sudah di belakangnya berdiri tegak. Raut wajahnya pun begitu datar tanpa rasa berdosa setelah berhasil membuat jantung Vina hampir saja copot.
''Sini.'' pinta Arkha dengan tangan kanannya mengarah ke gelas berisi susu itu.
''Ini?'' tunjuk Vina pada gelas susu.
''Ya iyalah.'' jawab Arkha.
"Masa yang punya kamu." imbuhnya yang membuat Vina langsung melotot.
Vina langsung menyerahkan gelas susu tersebut tanpa nanti-nanti.
Arkha pun langsung kembali ke kamar, sementara Vina masih mengomel sendirian.
Karena tidak mengantarkan susu ke kamar, Vina memilih untuk melanjutkan aktivitasnya. Mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masak nanti setelah Maghrib.
''Oke beres.'' gumamnya.
Sudah jam 5 lebih 55 menit. Vina memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar. Terlihat Arkha masih telaten mengajak Mikha bermain. Vina pun memutuskan untuk keluar lagi.
''Masak aja deh, masih ada waktu ini. Bersih-bersihnya nanti malam aja.'' gumam Vina.
Vina mengambil peralatan masak yang terlihat sangat jarang digunakan itu. Karena masakan yang biasa di konsumsi keluarga bosnya memang masakan yang tidak menggunakan bumbu lengkap, jadi lebih cepat di olah. Masakannya pun tidak yang terlalu matang.
Karena bahan-bahan sudah disiapkan, masaknya pun tidak membutuhkan waktu lama. Sepuluh menit kemudian yang dimasak untuk Arkha sudah siap, tinggal memasak sedikit untuk Mikha.
''Mbak Inaaa.'' seru Mikha memanggil pengasuhnya itu.
''Iya Mikha sayang.'' jawab Vina menoleh.
''Sini.'' panggil Vina.
Dari belakang, Arkha mengikuti dengan di tangannya membawa gelas kosong. Tanpa bicara apapun, ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja makan.
__ADS_1
''Wahh, Mikha pintar ya minum susunya habis terus. Sekarang Mbak Vina masak dulu ya sebentar buat maem Mikha nanti malam. Oke.'' puji Vina.
''Okay, Mbak Ina.'' jawab Mikha.
Mikhael dan Vina pun saling tos.
''Mikha duduk sini sama Om Arkha.'' panggil Arkha.
Pria kecil itu langsung menuju ke arah om-nya yang sedang duduk di kursi.
''Kenapa dia nggak tanya-tanya dulu dimana alat masaknya.'' bathin Arkha bertanya-tanya.
Arkha melongok wadah yang sudah tersaji di atas meja, terlihat asap masih mengepul.
''Kelihatannya sih enak, tapi, palingan rasanya juga biasa aja. Masakan orang kampung, ck ck!'' bathin Arkha.
Sibuk dengan prasangka yang ada di bathinnya, sampai Mikha yang mengajaknya berbicara pun tidak ia tanggapi.
''Apa Mikha kok teriak-teriak? 'kan Om Arkha ada disini.'' jawab Arkha kaget.
Mikha langsung cemberut.
''Mikha tadi bicara, tapi, Om Arkha diam saja nggak mau jawab.'' protes Mikhael.
''Iya kah?" tanya Arkha yang benar-benar tidak mendengar suara Mikhael.
"Ya sudah, Om Arkha minta maaf ya, Om Arkha benar-benar nggak dengar, sayang. Mikha bicara apa tadi?''
Vina hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menuangkan makanan untuk Mikha ke dalam wadah kecil, lalu ia letakkan di atas meja makan juga.
''Nggak jadi bicara.'' jawab Mikha tidak mau mengulang kembali karena terlanjur ngambek. Ia pun turun dari kursi dan berlari ke kamar.
Arkha melirik Vina untuk mencari jawaban.
__ADS_1
''Maaf Tuan, kalau anaknya tidak mau mengulang berarti Mikha benar-benar sedih. Kalau saya yang mengulangi dan dia dengar, nanti justru saya yang di marahi karena di anggap tidak membelanya."
"Tidak ada pembahasan apa-apa kok, seperti biasa Mikha tadi sedang banyak yang ditanyakan.'' jelas Vina.
Arkha menatap tajam untuk meyakinkan.
''Kamu nggak ngarang?'' selidik Arkha.
''Astaghfirullah.'' balas Vina spontan menaikkan volume suaranya.
Arkha bisa melihat kejujuran itu. Karakter Mikha memang masih susah di tebak bagi yang belum paham. Hanya orang-orang yang benar-benar dekat yang akan tau bagaimana watak anak itu. Sekecil itu memang sudah di didik dengan baik, tapi, tetap saja kesehatan mentalnya sangat rentan akibat tanpa kedua orangtua kandung. Terkadang ia bisa terlihat biasa saja, terkadang sedikit saja kesalahan dari orang lain bisa membuatnya marah.
''Ya sudah, saya mau mandi.'' ujar Arkha.
''Baik Tuan. Saya sudah selesai memasaknya, nanti saya siapkan nasinya setelah Maghrib. Dan untuk bersih-bersihnya saya izin nanti setelah menyuapi Mikha.'' balas Vina.
''Ya.'' jawab Arkha singkat lalu pergi ke kamarnya.
Vina menarik nafasnya dalam-dalam lalu melangkahkan kakinya ke kamar untuk membuat suasana hati Mikha kembali ceria. Yang penting persiapan untuk makan malam sudah siap.
°°
Arkha, Mikha, dan juga Vina sudah duduk bersiap menyantap menu makan malam.
Vina fokus menyuapi Mikha terlebih dulu, sudah biasa baginya untuk makan kelewat waktu. Mikha pun sudah tidak marah setelah Arkha merayu dan meminta maaf.
''Lumayan.'' gumam Arkha dalam hati setelah merasakan suapan pertama masakan yang di olah oleh Vina.
Diam-diam Vina melirik ekspresi Arkha saat akan merasakan masakannya. Ia takut masakannya itu tidak enak dan langsung di buang oleh Arkha. Tapi, ternyata diluar dugaan, sepertinya Arkha suka. Vina reflek tersenyum lalu kembali fokus dengan Mikha, sebelum ekspresinya itu ketahuan oleh Arkha.
''Syukurlah kalau rasanya cocok, setidaknya nggak emosi mulu tuh orang.'' bathin Vina.
Malam ini Mikhael ingin disuapi, ia benar-benar sedang tidak mood memegang sendok sendiri. Tanpa keberatan, tentu saja Vina siap melakukan tugasnya itu dengan telaten.
__ADS_1