(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha

(BABY SITTER) Jodoh Untuk Om Arkha
BS 27 : Aku Pasti Bisa!


__ADS_3

Vina masih terjaga di kamar barunya itu. Ia belum bisa memejamkan matanya sedari tadi. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 02.15 WIB. Ia yang merebahkan tubuhnya di kasur busa kembali duduk lagi.


"Kangen Mikha.'' gumam Vina sembari menarik nafasnya dalam-dalam.


Vina beranjak dari kasur untuk mengambil air mineral tadi. Ia meminumnya sedikit, karena takut kebelet dan malu untuk keluar dari kamar.


Setelah minum, Vina kembali merebahkan tubuhnya. Ia berusaha untuk memejamkan mata supaya nanti bisa bangun cepat. Jangan sampai membuat malu dirinya sendiri di hari pertamanya ini.


Beberapa jam berlalu, Vina terbangun setelah mendengar alarm ponselnya. Ia langsung duduk setelah teringat dimana ia berada saat ini.


''Hah jam 5? mereka pasti sudah pada sibuk.'' gumam Vina yang langsung panik.


Untuk pemilik usaha rumah makan, biasanya memiliki waktu tidur yang tidak banyak. Karena banyak sekali yang harus dipersiapkan. Apalagi jika rumah makan tersebut sudah memiliki banyak pelanggan.


Vina menarik nafas panjang, lalu mengikat rambutnya kuncir kuda. Ia berjalan pelan sembari membuka pintu kamar.


Vina langsung tersenyum saat tiga orang yang menoleh ke arah pintu kamarnya setelah mendengar suara pintu terbuka. Mereka juga membalas senyuman dari Vina.


''Maaf, saya eh aku bangunnya kesiangan.'' ucap Vina yang merasa sangat tidak enak melihat yang lain sudah sibuk.


''Oh ya, salam kenal ya Mbak, Mas ... aku Vina.'' sapa Vina langsung mengulurkan tangannya pada dua orang yang baru ia temui itu.


Mereka pun langsung gantian menerima uluran tangan dari Vina. Sepasang suami istri itu bernama Hadi dan Ratna.


''Kamu belum cuci muka lho, Vin.'' ujar Gian.

__ADS_1


Vina langsung terbelalak, sekejap kemudian ia merubah raut wajahnya itu.


''Oh iya, hehe ... maaf aku lupa. Izin dulu sekalian shalat subuh.'' jawab Vina yang menahan malu.


Dengan langkah cepat, Vina langsung menuju kamar mandi. Ia membasuh muka, lalu mengambil air wudhu.


Sepuluh menit kemudian, Vina kembali ke dapur. Gadis itu memulai aktivitas barunya yang berhadapan dengan bahan-bahan masakan. Namanya rumah makan, sudah pasti isinya banyak sekali bahan-bahan yang akan di olah. Vina dan Ratna menyiapkan bahan-bahan, sementara dua laki-laki itu yang menaklukkan api kompor. Beberapa menu sudah matang, hanya tinggal yang sedikit lagi


''Aku nggak pintar masak, Mbak.'' ujar Vina.


''Aku juga nggak pintar kok, Vin ... masakan laki-laki justru lebih enak, hihi.'' jawab Ratna jujur.


Sepertinya memang benar, Vina merasakan masakan kakaknya memang sangat enak. Hanya saja selalu mendapatkan omelan dari ibunya setelah selesai masak karena membuat dapur seperti habis terkena gempa, alias berantakan.


Tidak heran jika di ruangan yang luas itu ada beberapa kompor, sementara di ruang sebelahnya ada beberapa kulkas. Untuk memudahkan persiapan, tentu saja Gian harus memiliki tempat guna menyimpan stok bahan-bahan yang akan di olah esok hari. Mulai dari daging, beberapa jenis ikan, ayam, dan juga sayuran-sayuran.


Vina langsung mengiyakan. Mereka membersihkan etalase kaca dan meja-meja agar lebih bersih. Meskipun sebelum tutup sudah dibersihkan. Gian meminta hal ini dilakukan agar lebih yakin akan kebersihan tempat usahanya itu.


Pukul 06.55 WIB


Gian dan Hadi saling bergantian membawa hasil masakannya ke depan. Pria-pria itu tetap terlihat gagah meskipun terpasang celemek di tubuhnya. Vina dan Ratna juga mengenakannya.


''Keren banget sih bisa matang semuanya.'' puji Vina.


''Karena sudah terbiasa, Vin.'' jawab Gian yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


''Iya juga ya, hehe''


Di era modern ini, tentu saja penjualan menu-menu makanan di rumah makan ini tidak hanya dijual offline saja. Tetapi juga sistem online, sudah beberapa driver online datang membelikan menu-menu yang diminta oleh pemesannya via aplikasi.


Dua pekerja Gian lainnya baru saja datang, mereka laki-laki semua. Karena sudah mulai sibuk, Gian memperkenalkan Vina pada pekerjanya itu.


''Teman baru, namanya Vina.'' ujar Gian.


Mereka pun langsung mengulurkan tangannya. Vina menyambut dengan ramah setelah itu mereka saling menyebutkan nama masing-masing.


''Vina.''


''Pram.''


''Vina.''


''Bayu.''


Mereka langsung menuju kesibukannya masing-masing. Ada yang menghandle pemesanan online, ada yang mengurus pembeli yang makan di tempat, dan juga pesanan yang di bungkus.


Pembeli berdatangan, Vina masih sangat kaku untuk melakukan hal ini. Apalagi kebiasaannya yang beberapa tahun belakangan tidak memiliki waktu yang banyak di dapur.


''Aku pasti bisa!'' bathin Vina memberikan semangat pada dirinya sendiri.


Dengan memperhatikan yang sudah senior, Vina memulai belajar dari mengantarkan pesanan ke meja-meja pembeli, lalu belajar membungkus pembeli sayur matang dan juga lauk pauk.

__ADS_1


''Semangat ya, Vin. Kerja di rumah makan memang melelahkan.'' ujar Gian setelah melihat Vina mengusap keringat di keningnya dengan selembar tisu.


Vina tersenyum, ''Iya Mas, terima kasih ya.'' jawabnya.


__ADS_2