
Mikha bermain sepeda di pagi hari sembari sarapan. Kedatangan omnya membuat Mikha semakin senang.
''Suapan terakhir nih.'' seru Arkha yang mengarahkan sendoknya seperti pesawat terbang sehingga membuat pria kecil itu tertawa.
Mikha membuka mulutnya yang siap menerima suapan itu.
''GOOD BOY.'' puji Arkha setelah suapan itu berhasil masuk ke dalam mulut Mikha.
Arkha meletakkan piring kecil itu di atas bangku yang ada disana. Ia melanjutkan untuk bermain-main dengan Mikha. Sekedar mendorong sepeda roda 3 yang di tumpangi Mikha mengitari halaman rumah itu.
"Pelan-pelan Om, Mikha masih baca do'a selesai makan." tegur Mikhael.
Arkha langsung cengengesan kecil karena merasa tertohok.
"Iya sayang, iya." jawab Arkha.
Mikhael membaca do'a selesai makan dengan kedua tangannya yang menengadah.
''Lagi, Om.'' seru Mikha setelah selesai membaca do'a.
''Lagi?'' balas Arkha.
Mikha mengangguk dengan semangat.
''Okeeyy! let's goooooo!'' seru Arkha kembali mendorong sepeda ponakannya itu.
Tawa riang gembira tergambar di bibir mungil Mikha. Sesederhana itu membuatnya merasa bahagia, bukan selalu dengan kemewahan. Justru, dengan kehadiran seseorang disekitarnya dan mengajaknya bermain pun sudah membuatnya sangat bahagia.
Beberapa menit mereka berkeliling di halaman rumah, sekarang keduanya sama-sama sudah lelah. Arkha pun menghentikan dorongannya.
''Om Arkhaa, Mikha mau nginap di apartemen Om Arkha.'' ujar Mikha.
''Nginep?'' tanya Arkha dengan raut wajahnya yang sedikit terkejut.
Arkha langsung berpikir panjang dan Mikha langsung mengangguk mantap tanpa keraguan untuk merasakan bermalam di apartemen Arkha.
''Boleh, 'kan, Om?'' tanya Mikha yang sepertinya sudah yakin akan diperbolehkan.
Arkha berjongkok di depan Mikha yang masih duduk di sepedanya. Senyum di bibir Arkha memberikan harapan pada Mikhael.
''Iya, boleh dong.'' jawab Arkha membuat Mikha sangat senang.
''Yeyyyy.'' serunya.
Arkha kembali berdiri di belakang sepeda Mikha dan melanjutkan dorongannya ke berbagai arah. Tawa keduanya saling bersahutan seperti dunia ini hanya milik mereka berdua.
__ADS_1
''Nginap? itu artinya sama si anak kampung itu?'' bathin Arkha bertanya-tanya.
Vina yang tadinya masuk ke dalam karena mendapatkan pengusiran dari Arkha segera kembali menghampiri Mikha. Ia hendak mengambil sesuatu yang diperkirakan sudah selesai di pakai yaitu piring.
''Mau ngapain?'' tanya Arkha dengan nada dingin saat melihat Vina berjalan ke arahnya.
''Ambil piring, Tuan.'' jawab Vina dan langsung mengambil piring.
''O.'' balas Arkha singkat.
Vina berbicara sebentar dengan Mikha, lalu izin kembali masuk ke dalam. Karena ia juga menyadari kalau Arkha tidak mau dia ada di dekatnya.
"Dih! di kiranya mau ngekorin dia!" bathin Vina menggerutu.
Sinar matahari pun semakin terasa menyengat karena sudah semakin bergerak ke atas. Arkha segera mengajak Mikha untuk masuk ke dalam rumah dan meletakkan sepedanya ke dalam garasi sebelum masuk ke dalam rumah.
''Arkha.''
''Iya Mama.'' jawab Arkha.
''Mikha sudah bilang belum sama Om Arkha?'' tanya oma Lidya kepada Mikha.
''Sudah Oma, kata om Arkha boleh.'' jawab Mikha senang.
Oma Lidya terlihat senang ternyata Arkha mengiyakan keinginan ponakannya itu.
''Sore ini aja Ma, sekalian jalan.'' jawab Arkha.
''Kalau begitu Vina harus siap-siap sekarang dong.'' ujar mama.
Arkha hanya mengangkat kedua bahunya.
''Vinaaa!'' seru oma Lidya.
Vina yang mendengar suara panggilan itu langsung cepat-cepat mendekat.
''Iya Nyonya? ada yang bisa saya bantu?'' tanya Vina.
''Sore ini kamu temani Mikha untuk nginap di apartemennya Arkha ya ... sekarang siap-siap apa yang mau dibawa.'' titah Oma Lidya.
''Oh iya, baik Nyonya.'' jawab Vina.
Gadis itu langsung berbalik arah. Ketika sudah beberapa langkah, ia memutuskan untuk kembali lagi karena merasa ada yang mengganjal.
''Kenapa Mbak Ina kok kesini lagi?'' tanya Mikha.
__ADS_1
''E.. itu, Mikha mau berapa hari disana?'' Vina berbalik tanya.
''Besok pulang ya?'' tanya omanya pada Mikhael.
''Dua malam ya Oma nginapnya?'' sahut Mikha menawar. Ia juga mengangkat dua jarinya.
''Gimana, Ar?'' tanya oma ke Arkha.
''Ya, ya.. turuti saja.'' jawab Arkha tak ingin urusan semakin panjang.
Arkha mengusap rambut Mikha dengan gemas.
''Saya permisi dulu, Nyonya. Mau persiapkan keperluan Mikha nanti.'' ujar Vina.
''Iya.'' jawab Lidya.
''Eh kamu, nggak usah pake baju seragam.'' ujar Arkha menghentikan langkah Vina.
Vina kembali berhenti dan langsung menoleh ke arah Lidya untuk meminta persetujuan.
''Iya, turuti saja Vin.'' ujarnya.
Vina mengangguk.
''Baik, Nyonya.'' jawabnya dan langsung kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Vina langsung ke dalam kamar Mikha. Ia mengambil tas terlebih dahulu, lalu mengambil beberapa pakaian yang akan dikenakan selama menginap di apartemen Arkha. Tak lupa juga keperluan mandi Mikha. Keperluan bermainnya selama disana dan tentunya keperluan dia sendiri.
°°
''Mikha nanti nggak boleh rewel ya, besok Om Arkha kerja, jadi di apartemen sama Mbak Vina. Jangan ajak Mbak Vina keluar-keluar. Kalau mau apa-apa, tunggu om Arkha pulang kerja ya. '' ujar oma Lidya.
''Iya Oma.'' jawab Mikha nurut.
''Tidurnya nggak boleh malam-malam.'' timpal opa Leon.
''Iya Opa.'' jawab Mikha.
Opa Leon dan oma Lidya mengusap puncak kepala cucunya itu sebelum masuk ke dalam mobil.
''Hati-hati ya, Ar.'' ucap Leon.
''Iya Pa. Ya sudah, aku jalan dulu.'' ujar Arkha berpamitan dengan kedua orangtuanya.
''Ya." balasnya kedua orangtua Arkha bersamaan.
__ADS_1
Mikhael yang sudah berada di dalam mobil melambaikan tangannya ke arah opa dan omanya. Sampai keluar dari gerbang baru ia hentikan karena permintaan Arkha. Setelah itu, kaca mobil di tutup.