
"Apa? nyonya?" lelaki berjas rapi tersebut tersenyum mengangguk.
"Jangan bercanda anda! saya tinggal bersama ibu saya, bagaimana bisa anda bilang kalau ibu saya merindukan saya?" Tak habis pikir dengan lelaki yang ada dihadapannya, bagaiman bisa dia bicara seperti itu.
"Bukan nyonya Lucia nona, tapi nyonya Tamara, ibu kandung nyonya!" ucapnya lagi.
Sontak saja Bella terkejut dengan pertanyaan pria tersebut.
"Mungkin anda lupa, tapi saya tidak berbohong, nona bisa melihat semua data dan informasi yang ada didalam map ini" ucapnya menyerahkan sebuah map besar.
"Anda juga bisa menanyakannya langsung pada nyonya Lucia, ibu nyonya yang sa'at ini!"
"Saya Jefri, orang kepercayaan nyonya Tamara, silahkan anda lihat dan baca informasi yang ada didalamnya, jika anda sudah membacanya, dan sudah meyakininya, segera hubungi saya!, kartu nama saya juga ada disana"
Pria yang bernama Jefri tersebut mundur beberapa langkah, dan sedikit membungkukkan badannya "Saya permisi nona" tanpa menungu respon dari Bella, kemudian dia berbalik dan berlalu dari hadapan perempuan itu.
"Tania, apa kamu mendengar ucapan pria itu?"
"Dengar nona"
"Apa maksud nya mengatakan seperti itu?
"saya tidak tahu nona, mungkin dia benar, anda bisa menanyakan nya langsung pada orang tua nona!" sahut Tania dengan menunduk, layaknya seorang pengawal.
"Baiklah" Dia pun masuk mobil, dan memasukkan map tersebut kedalam tasnya.
"Kita kekampus, ada jadwal hari ini"
"Baik nona" tanpa banyak bicara, Tania langsung melajukan mobil menuju kampus majikannya.
Jam dua belas Bella pun selesai dengan kelasnya. Dia menyuruh sang ajudan segera pulang saja, karna dia merasa lelah hari ini.
*****
Di sebuah jalan daerah pedesaan, dimana daerah itu merupakan salah satu tempat wisata. Terdapat satu keluarga sedang asik besenda gurau didalam mobilnya, mereka akan berwisata di daerah tersebut.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, didepan sana, ada sebuah truk melaju dengan sangat kencang dan tak tentu arah. Sepertinya pengendaranya sedang mabuk.
Karna truk itu sangat cepat, dan mobil yang membawa satu keluarga itu juga sedikit kencang, untuk menghindari tabrakan, sang sopir sedan memilih membanting stir kekiri.
"aaaaa..."
"mamaaaaaa...."
Seseorang terbangun dari mimpinya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"kamu kenapa sayang?" Lucia yang baru memasuki kamar Bella, berniat untuk mengajaknya makan siang, terkejut melihat putrinya terduduk dengan nafas ngos-ngosan dan keringat membasahi wajahnya. Dengan sigap, diapun langsung memeluk sang anak.
"Bella mimpi ma, kita kecelakaan waktu mau pergi berwisata, tapi anehnya, di dalam mimpi Bella masih anak-anak" ucapnya dengan nafas yang masih sedikit memburu.
Ucapan Bella membuat Lucia sesa'at terdiam,
"ngak apa-apa sayang,namanya juga mimpi, ya pasti aneh-aneh ajalah" ucap Lucia menenangkan sambil mengusap lembut rambut putri nya.
"Ya sudah, kamu mandi dulu, trus kebawah, kita makan siang, kamu kan belum makan dari tadi, pulang dari kampus langsung tidur, mungkin karna perutmu kosong, makanya mimpi buruk" Jelas Lucia lagi.
"Sudah belasan tahun kamu tidak mengalami mimpi itu lagi, kenapa sekarang mimpi itu hadir lagi dalam tidurmu nak?"
"mama kenapa?" Barnest yang melihat raut khawatir di wajah istrinya langsung bertanya.
"ngak ada pa, oya, Bella lagi mandi,sebentar lagi kebawah"
Merekapun menunggu Bella di kursi masing-masing di meja makan, tak lama setelahnya, yang ditunggu pun datang.Merekapun menikmati makan siang bersama, tapi sedikit berbeda seperti biasanya, lebih tepatnya Lucia yang merasa tak karuan.
***
Jefry yang baru tiba di tanah air, langsung menuju kediaman majikannya, nyonya Tamara Hernandez.
"saya sudah bertemu dengan nona Bella, nyonya" Ucap Jefry menunduk "saya juga sudah memberikan semua datanya, nona Bella kemungkinan sudah lupa dengan masa lalunya termasuk dengan nyonya dan tuan Angkasa"
Tamara mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
"Putri sudah tumbuh besar, pasti dia sangat cantik"
"Iya nyonya, putri anda sangat cantik, persis seperti anda waktu muda" Ucap Jeffry teringat wajah cantik nan ayu, dengan mata bulat dan hidung mancung serta bibir tipisnya.
"Dia juga diasuh oleh keluar yang sangat menyayangi nya, meskipun nona Bella tidak bersama dengan orang tua kandungnya, tapi nona tidak kekurangan kasih sayang, mereka benar-benar menganggapnya seperti anak"
"Sa'at ini, nona Bella berkuliah di kampus terbaik di kota itu, mungkin satu tahun lagi, nona akan wisuda"
Tamara kembali mengangguk dan tersenyum dengan mata yang berkaca, bersyukur anaknya berada di keluarga yang baik dan menyayanginya.
"Semoga Bella kembali mengingat masa lalunya, dan mau kembali pada ibunya ini" Ucap Tamara mengusap sudut matanya.
"Akan ada sa'at nyonya, tapi menurut saya, lebih baik biarkan nona Bella menyelesaikan kuliah nya dulu!" Saran Jefry.
"Iya, kamu benar, biarkan dia fokus dengan kuliahnya dulu! tolong pantau terus putriku,!
"pasti nyonya" Ucap Jefry dengan kepastian yang pasti.
"Kita kekamar!" perintah Tamara pada Diska, asisten sekaligus perwat pribadinya. Tanpa banyak bicara, Diska mendorong kursi roda itu menuju kamar sang majikan.
Semenjak kecelakaan beberapa tahun silam, yang merenggut nyawa sang suami, Tamara pun harus kehilangan satu kakinya, karna tulang di salah satu kakinya telah hancur tidak dapat diobati lagi, kecuali diamputasi,sungguh menyedihkan, bahkan dia juga harus kehilangan putri semata wayangnya.
Mengingat kembali, betapa bahagianya Bella diajak pergi wisata ketempat yang tak biasa ia kunjungi, yaitu daerah pedesaan, hamparan sawah yang luas, dikelilingi bukit yang menjulang tinggi, serta udara yang begitu sejuknya.
Tanpa sadar, air mata Tamara telah membasahi pipinya, seperti biasa, dia akan selalu menangis bila melihat foto dirinya dan suami, beserta Bella kecil, mereka yang tersenyum begitu indah.
"Nyonya" Diska yang melihat majikannya menangis, merasa begitu prihatin dengan keadaan sang majikan.
Tamara mengangkat tangannya, pertanda bahwa dia baik-baik saja, memang seperti itulah dia selama ini, jika tidak mengingat Bella, mungkin dia juga akan, entah lah.
"Mas Angkasa" dia tersenyum mengusap wajah suaminya yang ada di album foto "Putri kita sudah ditemukan, tapi mungkin sekarang dia masih lupa sama kita"
Kemudian beralih menatap dan membelai pipi sang anak, meski hanya fotonya "tapi kita tak perlu khawatir, mungkin ALLAH akan memberikan Bella pada kita lagi, diwaktu yang tepat"
"kamu berbahagia lah disana, aku selalu mendo'a kan kamu setiap sa'at, tunggu aku dan Bella mu!" Kemudian dia memeluk erat foto tersebut.
__ADS_1
"Jangan khawatir mas, Bellamu akan segera datang, dia akan mengambil kembali hak kita yang telah dirampas, waktu itu akan segera tiba!"