(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
48. Bertarung Di Jalan


__ADS_3

"Apa kamu bisa melawan mereka sebanyak ini?"


Megan sungguh merasa cemas saat itu, bagaimana tidak, mereka yang berpakaian hitam itu berjumlah enam orang, sementara dia hanya berdua dengan Barry.


Dan lagi, mereka tidak memiliki senjata apapun, sementara si lawan semuanya memakai senjata.


"Kita lihat saja Tuan." Barry tersenyum menjawab pertanyaan Tuannya.


"Sepertinya mereka bosan hidup," ucap si Bos. "Habisi mereka berdua!" perintahnya lagi.


Mereka berenam melangkah mendekat kearah Barry dan Megan dengan senjata tajam yang di acungkan kedepan.


"Kamu yakin Barry? atau lebih baik kita putar arah saja?" tawar Megan tetap dengan berbisik.


"Kenapa Tuan jadi pengecut begini?" batin Barry merasa heran dengan Tuannya.


Karena biasanya Megan tidak pernah takut dengan siapapun, tapi sekarang kenapa seperti seorang pengecut.


"Tuan tenang saja, kita akan menghadapi mereka. Ingat tujuan Tuan untuk kembali ke Bandung hingga ngotot untuk melewati jalan ini, meskipun sebelumnya sudah saya peringati."


Seketika Megan teringan dengan nasib yang akan di jalani adiknya. Maka darah Mafia yang di warisi kakeknya seketika hidup kembali.


Meskipun sedikit kesal dengan ucapan Barry, tapi Megan tidak marah, dia tau jika itu hanyalah guyonan agar suasana tidak terlalu tegang untuk mereka berdua.


"Kita akan menghadapi nya, Tuan." Ulang Barry meyakinkannya. "Dan jika tidak memungkinkan kita berdua lolos, maka saya akan memastikan Tuan akan lolos dari mereka, demi tujuan tuan kembali ke Bandung."


Megan sungguh terharu mendengar penuturan orang yang selama ini ia suruh-suruh.


Ternyata Asistennya itu memang orang yang sangat setia, hingga rela menyerahkan nyawanya untuk melindungi sang Tuan.


Srett


Hampir saja mata pisau mengenai leher Barry kalau dia tidak sigap menghindar.


Kemudian dengan tendangan push nya, kakinya melesat mengenai ulu hati anak buah dari si Bos. Seketika tubuh si anak buah terseret kebelakang dan terjatuh seperti pohon pinang yang di tebang.


Setelah terkena tendangan dari Barry, pria itu tidak bergerak lagi. Seperti nya kepalanya membentur aspal dengan keras hingga menyebabkan dia pingsan, entahlah, mungkin saja sudah Innalilahi.


Para penjahat tentu saja terkejut melihat aksi mangsanya, bagaimana tidak, sekali tendang, lawannya tidak bangun lagi.


"Jeno ... Jeno ... bangun! Hei Jeno ... bangun kamu!" teriak si Bos


Dia mencoba membangunkan anak buahnya dengan menggoyangkan tubuh si anak buah menggunakan kaki, sementara tangannya masih terarah kedepan mengacungkan senjata.

__ADS_1


"Hei kalian, kenapa bengong? cepat habisi mereka!" bentak si Bos karena melihat yang lain pada bengong.


"Ayo serang!" seru salah seorang.


Srett


Dengan sigap Barry kembali menghindari tusukan dari lawan yang di arahkan ke perutnya.


Dan dengan sedikit lompatan ke belakang, dia terbebas dari serangan itu.


Secepat kilat, Barry melompat dan mengayunkan lututnya ke arah dagu lawan, detik berikutnya, darah segar mengalir dari mulut sang lawan.


Dia memuntahkan darah yang ada di mulutnya, dan ternyata beberapa giginya juga ikut keluar karena patah akibat tendangan lutut dari Barry.



(Gambaran saat Barry menggunakan lututnya untuk melumpuhkan lawan.)


Tendangan lutut ini sangat efektif jika jarak serang dengan lawan sangat dekat. Dan tendangan ini sering di gunakan petarung bela diri Muaythai.


Si penjahat menangis menyadari sebagian giginya telah patah akibat tendangan Barry.


"Hahaha ... malah nangis. Gitu aja udah nangis, katanya penguasa di wilayah ini," Barry malah sempat menertawakan lawannya yang kesakitan.


"Kurang ajar! cepat serang lagi!" teriak si Bos.


Barry menghindar dengan melangkahkan satu kaki kanan kebelakang sementara kaki kiri tetap di depan, kemudian membalikkan badannya, setelahnya dengan gerakan memutar, dia mengayunkan sikunya ke arah mata lawan.


"Aaaaa... sakiiiitt ... " Hanya teriakan kesakitan yang terdengar dari sang lawan. Dia terus mengaduh kesakitan berjalan tak tentu arah, sementara tangannya menutup matanya yang terkena sikuan Barry.


"Mataku ... mataku ... Maaak ... tolong, mataku tidak bisa melihat." Setelah berteriak dan mengumpat kesakitan, kemudian terdengar suara tangisnya, membuat Barry kembali tertawa.


"Sialan nih anak, jago juga dia," umpat si Bos.


Si Bos berjalan perlahan dan mengendap agar pergerakannya tidak di ketahui oleh Barry dan Megan.


Dan benar saja, dia berhasil lolos. Bukan melarikan diri, tapi...


"Hahaha." Terdengar suara si Bos tertawa.


Barry mengikuti arah suara itu, dan betapa terkejutnya dia setelah melihat, ternyata Tuannya telah di sandera oleh lawannya.


Megan tidak dapat berkutik, karena mata pisau telah menempel di kulit lehernya, dan jika dia berontak maka mata pisau itu akan menggores lehernya.

__ADS_1


"Astagaaa ... Tuan, kenapa se ceroboh ini?" batin Barry kesal.


"Hahaha ... sekarang cepat serahkan harta kalian, jika kalian masih memberontak, maka pisau ini yang akan menghentikan kalian." Perintah si Bos dengan semakin menekankan pisaunya.


"Tuan kenapa jadi bodoh gitu sih? kenapa dia tidak ingat cara melepaskan diri dengan situasi seperti itu," Barry kesal dengan Megan saat ini yang terlihat seperti orang bodoh yang sama sekali tidak mengetahui ilmu bela diri.


Barry pun bingung harus berbuat apa, jika dia serahkan semuanya, belum tentu nyawa mereka akan selamat.


Kemudian dia teringat sesuatu, dia bersikap tenang dan menarik nafasnya kemudian menghembuskan nya perlahan.


Dia mengajak si Bos berbicara dalam bahasa Mandarin, dan beruntung si Bos penjahat tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Barry. Tentu saja dia tidak mengerti, sekolah dasar saja hanya sampai kelas tiga, itupun sering bolos.


"Apa yang kau ucapkan? jangan membawa bahasa kampung mu di sini!" Bentak si Bos.


"Bagus, mereka tidak mengerti," batin Barry merasa senang.


Kemudian dia berbicara agak panjang dalam bahasa Mandarin, dan tentu saja Megan memahaminya.


Megan menarik nafas panjang dan ...


Bhuk


"Aauu ... " Si Bos berteriak kesakitan dengan kedua tangan memegang matanya. Sementara pisau telah terjatuh dari tangannya.


Megan berhasil lepas dari sanderaan si Bos dengan membenturkan kepalanya kuat-kuat kebelakang, dan beruntung tepat mengenai mati si Bos.


"Bos ... Bos ..." teriak kedua anak buahnya memanggil. Mereka hanya tinggal berdua itu segera menghampiri sang Ketua yang terduduk di aspal sembari menutupi matanya yang sakit.


"Ngapain kalian kesini? Cepat serang mereka!" teriak Si Bos memerintah.


Mereka berdua hanya terdiam tanpa menuruti perintah si Bos.


Karena tidak mendapat jawaban, si Bos pun geram dan kembali berteriak.


"Jhony, Johan. Cepat serang!"


"Ba-baik Bos," sahut Jhony terbata. Sementara Johan tidak mampu menjawab.


Dengan perlahan, mereka bangkit dan melangkah mendekati mangsa.


Sebenarnya mereka sudah tidak mempunyai nyali untuk melawan, tapi mendengar perintah, mereka tetap mendekati Barry dan Megan.


Dan dengan keberanian yang di paksakan, mereka berjalan mendekat kearah mangsa dengan tangan mengacungkan pisau kearah Barry dan Megan.

__ADS_1


"Barry ... hati-hati." Megan memperingati.


*****


__ADS_2