
"Kak Megan, Bella balik sekarang ya." Bella mengirim pesan pada Megan, dia sa'at ini sudah berada didalam mobil.
Dia terus kepikiran akan hal yang baru saja di alami, dirinya merasa sangat malu jika mengingat hal itu.
"Ih dasar ... otak mesum, ngapain juga pake merem segala." Bella memukul kepalanya merasa telah melakukan hal bodoh.
"Nona Bella kenapa? apakah nona sakit kepala?" tanya sang sopir karena sa'at matanya melirik kaca spion, dia melihat Bella memukul-mukul kepalanya.
"Eh ... ngak mang, ngak kenapa-kenapa kok," sahut Bella gelagapan.
"Dasar nih, otak mesum, ngapain juga pake merem segala, ntar kak Megan mikir yang nggak-nggak gimana, kalau dia mikir aku mau dicium sama dia gimana," Batinnya.
***
"Syukurlah dia sudah balik kerumah mamanya," gumam Megan sa'at dia membaca pesan dari Megan.
Dan jujur saja, dia juga merasa sangat malu dengan apa yang dilakukannya pada sang adik.
"Dasar bodoh, ngapain juga aku berhasrat mencium Bella." Megan pun merutuki kebodohan.
***
Sudah sebulan dari kejadian itu, mereka tidak pernah lagi bertemu, selain karena malu mengingat kejadian itu, Megan juga sangat sibuk dikantornya.
Tapi hari ini Handphone Bella berbunyi, dan ternyata Megan yang menghubungi.
"Tumben dia nelpon," gumam Bella. Kemudian menjawab telepon dari Megan.
"Hallo kak."
"Bell, kakak mau ngomong."
"Ya ngomong aja dong kak, ngapain pake kasih tau segala kayak gitu. Kakak aneh deh."
"Loh ... kok kamu sensi amat, lagi PMS?" ledek Megan.
Bella pun terdiam sesaat.
"Benar juga, ngapain aku sensi gini ya?" batin Bella.
"Kangen ya sama kakak? kalo kangen bilang aja, ngak usah jadi sensi gitu."
"Yee ... siapa juga yang kangen, udah ah ... katanya mau ngomong, ngomong apaan?"
"Kakak mau ke luar pulau. Ada pembangunan cabang perusahaan disana," ungkap Megan yang membuat Bella terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Berapa lama?" Dia seakan berat untuk melepas kakaknya kesana. Entah apa alasannya, yang pasti Bella tidak mau berpisah terlalu jauh dengan kakak nya lagi.
"Paling lama enam bulan."
"Lama banget. Lagian kenapa kakak yang harus kesana, kakak kan punya anak buah, buat apa punya anak buah kalau boa harus turun tangan?"
"Ini papa yang memberi mandat. Pembangunan ini memakan biaya yang besar, jadi papa tidak mau ada kesalahan. Semuanya harus selesai paling lama enam bulan. Kalau bisa sebelum enam bulan agar keuntungan juga besar," jelas Megan.
"Ya sudah lah. Semoga semuanya lancar dan cepat selesai," ujar Bella terdengar lemah setelah menghembuskan nafasnya kasar.
"Kapan kakak berangkat nya?"
"Besok kakak berangkat. Kamu jaga diri, karena kakak ngak ada disamping mu."
"Iya," ucapnya lemah.
"Ingat, jangan sembarang dekat laki-laki!" tegas Megan.
"Kakak ini, slalu aja ngomong kayak gitu, slalu aja larang Bella dekat laki-laki. Kalau begini terus, Bella bakalan jadi perawan tua," sungut nya mulai kesal.
"Ngak bakalan jadi perawan tua kamu, jangan khawatir. Selesai proyek ini, kakak bakalan ngelamar kamu, eh maksud kakak, kakak akan carikan suami buat kamu." Megan menepuk jidatnya karena sempat salah ngomong.
"Ya sudahlah, terserah kakak. Nasib aku punya kakak posesif."
"Iya ... iya.. terserah kakak." Bella selalu mengalah jika sudah bicara laki-laki dengan kakaknya.
"Kamu udah makan?"
"Udah."
"Ya sudah, kakak matiin ya. I Love You."
"APA?" pekik Bella mendengar ucapan Megan. Dia ingin bertanya apa maksud sebenarnya dari ucapan Megan itu.
Tut ... tut ... tut ...
Sayang nya, sambungan pun di putus sepihak oleh Megan.
"Dasar ... tapi apa benar kak Megan mencintaiku? semoga saja benar, agar cintaku tidak bertepuk sebelah tangan," gumamnya kemudian meletakkan handphone nya di atas meja dekat kasurnya.
Setelah itu, Bella melangkah keluar kamar, berniat menemani sang mama yang sedang bersantai ditaman.
Mereka bercerita dengan bahagia, sampai pada saat Tamara ingin berbicara serius dengan Bella.
"Bella, mama mau bicara sama Bella," ucap Tamara sa'at mereka duduk berdua ditaman. Menikmati indahnya matahari pagi dan sejuknya udara di pagi itu.
__ADS_1
"Mau bicara apa ma?" tanya Bella penasaran.
"Kemarin kan mama sudah bilang, kalau perusahaan yang dirintih sama papa Bella, diambil sama saudaranya papa, yang tak lain adalah paman kandung Bella sendiri."
Bella mendengarkan dengan baik yang diucapkan sang mama.
"Perusahaan itu sebenarnya adalah hasil jerih papa sama mama, bukanlah perusahaan warisan dari keluarga, itu murni milik papa dan mama dan akan kami wariskan sama Bella, tapi orang tamak telah mengambilnya begitu saja," ucap Tamara.
Dia seakan menerawang kemasa lalu, mengingat perjuangannya dengan sang suami merintis perusahaan yang telah diambil oleh orang.
"Sebenarnya paman mu itu sudah meninggal, tapi perusahaan itu diambil alih oleh anaknya."
"Lalu ... apakah ada cara agar perusahaan itu kembali pada mama?" tanya Bella. Dia juga merasa iba dengan kondisi yang dialami sang ibu, dia yang bersusah payah, tapi orang lain seenaknya mengambil alih.
"Ada sayang, tapi apakah Bella mau melakukan nya?" tanya Lucia membuat Bella penasaran apa yang harus ia lakukan.
"Bella akan membatu mengambilnya ma, itu hak mama sama papa. Apapun akan Bella lakukan selagi Bella mampu," terang Bella begitu bersemangat.
Dia ingin yang menjadi hak mamanya kembali pada mamanya. Orang lain tidak berhak mengambilnya.
"Dari surat kuasa yang dibuat papa mu dulu, Bella bisa mengambil semuanya jika Bella sudah berumur lebih dari 20 tahun dan ... " Ucapannya terhenti. Kemudian dia memandang lekat wajah Bella yang terlihat penasaran.
"Dan apa ma?" tanyanya sungguh penasaran.
"Dan Bella harus sudah mempunyai suami."
Terkejut. Tentu saja Bella terkejut, bagaiman mungkin dia akan mengambil alih perusahaan itu, sementara dia belum menikah. Jangankan punya suami, punya pacar saja dia tidak, begitulah batin Bella berbicara.
"Tapi mama kan tau, kalau Bella belum menikah, bagaimana Bella mau punya suami, pacaran saja tidak." Bella mencoba bernegosiasi dengan sang mama.
Dia berharap jika dia tetap bisa mengambil perusahaan itu tanpa harus menikah.
"Iya ... mama tau, maka dari itu ... mama berniat menjodohkan Bella."
Hening, keduanya sesaat terdiam. Tamara berharap Bella mau menerima perjodohan itu. Sementara Bella, entah apa yang difikirkannya.
"Tapi Bella kan masih dua puluh satu tahun ma," ungkapnya berusaha menolak tapi sebisa mungkin agar Tamara tidak tersinggung.
"Iya sayang, mama tau kamu masih sangat muda. Tapi hanya ini yang bisa kita lakukan agar perusahaan itu bisa kembali pada kita."
Tamara mencoba membujuk dan memberi pengertian pada Bella.
"Pikirkan lah tiga bulan ini sayang. Kamu bisa mengenalnya selama tiga bulan ini, dan semoga Bella suka sama dia," ungkap Tamara setelah melihat Bella hanya diam menunduk.
*****
__ADS_1