(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
44.


__ADS_3

"Ah ... Mama ini ada-ada saja, masa ngirim foto orang yang mau ngambil cintaku, Ck, apa dia ngak mikirin perasaan ku?" gumamnya kesal, tapi dia merasa tidak asing dengan sosok yang ada di foto itu.


"Astagaaa ... Dia kan ... pria bajingan itu. Ini tidak bisa dibiarkan." Geram Megan setelah mengetahui siapa pria yang akan menjadi? suami adiknya kelak.


Bergegas Megan menghubungi Mamanya.


"Hallo, Ma. Mama kenapa biarkan Bella nikah sama bajingan ... " ucapan Megan terhenti karena di potong oleh Mama nya.


"Kamu ini kok ngak ada sopan-sopan nya sih Megaaan, kayak ngak punya sopan santun aja kamu ini." Kesal Lucia, karena Megan langsung saja nyelonong tanpa salam.


"Ya maaf, Ma. Aku cuma mau nanya, kenapa kalian izinkan adik ku menikah dengan seorang bajingan." Setelah mendapat teguran dari Mama nya, barulah Megan memelankan suaranya.


"Siapa yang kamu maksud bajingan? si Putra calon suami Bella?" tanya Lucia merasa heran, karena dia tidak mengetahui bagaimana sifat calon menantu dari anak angkatnya itu.


"Nama nya Azward, bukan Putra. Kalian semua sudah dibohongi sama bajingan itu." Megan benar-benar kesal karena bisa-bisa nya semua orang tidak mengetahui siapa si Azward itu.


"Azward siapa maksudmu, Mama ngak ngerti."


"Pria yang akan menjadi suami Bella itu nama nya Azward, Ma, bukan Putra. Dia itu selingkuhan Jessica, mantan aku dulu. Dia yang telah membuat Jessica berpaling dariku, dan dia sudah membuat Jessica hamil, tapi bajingan itu tidak mau bertanggung jawab dan malah mencampakkan Jessica begitu saja," jelas Megan panjang lebar.


Lucia pun terkejut mendengar penjelasan sang anak.


"Apa benar begitu Megan?" tanya Lucia seakan tidak percaya.


"Iya benar, Ma. Mama tolong bilang sama semua orang tentang sia pria itu. Apa mama mau, anak gadis Mama menderita bersama pria itu, terlebih Bella sama sekali tidak mencintainya," terang Megan pada Mamanya.


"Mama ngak bisa Megan, Mama ngak punya bukti. Bisa-bisa Mama yang di tuntut dengan kasus pencemaran nama baik.'' Lucia menarik nafas dalam, karena merasa tidak bisa melakukan apapun.


"Dan lagi ... pernikahan itu akan di adakan lusa, semua sudah di persiapkan dengan matang."


"Kalau begitu ... aku yang akan menghentikan nya."


"Apa maksudmu menghentikan nya? dan bagaiman caranya kamu menghentikan pernikahan itu, sementara kamu jauh di Pulau sana." Lucia tidak mengerti apa yang di fikirkan Putra nya itu.


"Aku akan pulang, Ma. Aku tidak mau Bella dinikahi pria itu, aku tau siapa dia. Dan aku tidak mau Bella bersedih nantinya. Aku sudah berjanji melindungi nya, dan itu termasuk dari para pria bajingan yang akan memanfaatkan nya." Tegas Megan pada Lucia.


"Tapi bagaimana mungkin, kamu saja masih di sana, sementara pernikahan nya besok lusa. Perjalan dari sana saja tiga hari, Mama rasa tidak akan sempat Megan," terang Lucia meragukan rencana Megan.


"Aku akan berangkat sekarang, Ma. Mama doakan aku agar selamat. Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Megan memutus sambungan telepon nya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam," sahut Lucia. Meskipun ia tau, bahwa Megan tidak akan mendengar Jawaban salamnya lagi.


"Ya ALLAH. Lindungi lah anak hamba." doa Lucia dalam hati.


Sementara Megan bersiap berangkat.


"Barry ... Kita kembali !" perintah Megan pada sang asisten.


"Baik Tuan." Dengan sigap, Barry naik ke atas motor, menghidupkan mesin nya dan melajukan motor berisik itu.


Plak


Pukulan yang dirasa Barry di kepalanya, membuat ia seketika menghentikan motornya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Barry tidak mengerti kenapa dirinya di pukul.


"Bukan ke Pulau, tapi ke Bandung!" bentak Megan.


"Hah?" Tentu saja Barry terkejut mendengarnya.


"Maksud Tuan, kita pulang ke Bandung?" tanya Barry masih tidak mengerti.


"Baik Tuan. Berarti kita ke hotel dulu ya Tuan, untuk mengambil mobil."


"Hmm. Cepatan!"


"Baik, Tuan."


"Sebentar, Tuan. Saya kasih tau dulu sama Ardo." Barry turun dari motor dan menemui pria yang bernama Ardo.


"Do ... kamu kembalilah ke Pulau, lakukan apa yang harus kamu lakukan. Jangan kecewakan saya dan Tuan Megan." Perintah Barry pada bawahannya.


Sebagai seorang yang selalu mendapat kan perintah tapi harus selalu bersama Tuannya, Barry tentu mempunyai bawahan.


"Baik, Pak. Tapi bapak mau kemana?"


"Kami mau ke Bandung."


"Kenapa mendadak sekali Tuan?" tanya Ardo penasaran.

__ADS_1


"Sepertinya Tuan Megan sedang dalam masalah. Dan aku rasa masalahnya sangat serius, karena tidak biasanya Beliau seperti ini, maksud saya .. tidak biasanya Tuan meninggal kan pekerjaan jika masalah itu tidak terlalu penting menurut Tuan. Kamu doa kan saja semoga masalah tuan Megan dapat diatasi dengan baik. Bagaimana pun juga, Tuan Megan itu orangnya baik, hanya saja dia di tuntut tegar oleh kepemimpinan nya," Terang Barry.


"Kamu doakan juga agar kami selamat." Tambah Barry.


"Aamiin. Baik Tuan. Semoga selamat sampai tujuan, dan masalah dapat diatasi dengan baik," sahut Ardo mengangguk kan kepalanya dengan sedikit menunduk.


"Barry ... Ayo cepat!" teriak Megan.


"Kami berangkat." Barry menepuk pundak Ardo, kemudian berbalik dan melangkah menuju Tuannya dengan langkah yang cepat.


"Sepertinya ini memang masalah yang besar. Tidak biasanya Tuan Megan meninggalkan pekerjaan, apa lagi dengan tergesa seperti ini." Batin Barry.


Barry kembali menaiki motor trail pinjamannya, di susul Megan yang duduk di belakang. Setelah nya terdengar suara yang memekakkan telinga, pertanda kuda besi itu telah menyala, detik berikutnya dia melaju hingga suara motor itu semakin kencang.


Barry melesat dengan kecepatan yang sangat cepat.


"Buset dah." Ardo yang masih memandangi Barry, terkejut melihat bagaimana cara Barry membawa motor.


Balapan Motor Trail sesungguhnya adalah kegemaran Barry, hanya saja, setelah bekerja dengan Megan, kegemaran itu seakan menghilang karena tidak adanya waktu Barry untuk melakukan nya kembali.


Dengan adanya kesempatan seperti ini, tentu saja Barry tidak menyia-nyiakan. Dia menggunakan keahliannya yang selama ini terpendam, hingga mampu melewati jalan yang terjal dan berlubang dengan begitu mudahnya.


"Barry." Megan memanggil Barry.


"BARRY ... " Teriak nya lagi. Tapi tetap saja teriakan Megan kalah saing dengan suara berisik motor yang di kendarai Barry. Alhasil, si pengendara sama sekali tidak mendengar teriakkan itu.


Plak


Karena merasa teriakan nya percuma, Megan pun memukul bahu Barry. Seandainya saja Barry tidak memakai helm, pastilah Megan akan memukul kepala asistennya itu.


Ciiiitt ...


Motor berhenti seketika karena Barry terkejut mendapat pukulan yang cukup keras di pundaknya. Hampir saja motor berisik itu terbalik, karena bagian belakang sudah berada di atas. Sedikit lagi sejajar antara ban depan dengan ban belakang, untung saja Barry jago.


"Ada apa Tuan?"


"Kita pake motor ini saja kembali ke Bandung."


"APA?"

__ADS_1


*****


__ADS_2