(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
11. Kekhawatiran


__ADS_3

"Tuan, ada berita besar."


Seseorang yang sedang sikuk dengan billiard nya, seketika berhenti dan menoleh sesa'at tapi masih dalam keadaan membungkuk, menatap orang yang barusan bicara, kemudian kembali menatap kedepan. Dengan satu pukulan, dua buah bola masuk kedalam lubangnya.


"Katakan dengan jelas! jika informasi yang kau sampaikan tidak penting menurutku, maka stik ini akan menembus matamu." Seseorang tersebut sangat tidak suka diganggu jika dia sedang bermain billiard, karna billiard adalah permainan yang paling dicintainya.


"Nona Bella sudah ditemukan tuan, dan sepertinya, sebentar lagi dia akan mengambil alih semuanya," Ucap sang ajudan. Dengan suara yang dipaksa terdengar tegas, karna sesungguhnya, dia sudah gemetar, pasalnya, tuannya tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Mendengar berita tersebut, wajah sang majikan menjadi merah padam, ada rasa cemas dan juga benci yang ia rasa, karna sesungguhnya, semua yang ada padanya sa'at ini, memang bukanlah murni miliknya.


Setelah kecelakaan belasan tahun silam, yang menyebabkan tuan Angkasa meninggal, beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Takana, adiknya Angkasa meminta harta peninggalan sang kakak.


"Kakak tolong tanda tangan ini, untuk sementara, perusahaan biar aku yang kelola."


"Tapi ini hasil jerih payah mas Angkasa, bukan harta warisan dari keluarga Stewart." Tamara masih sempat menyela waktu itu, tapi berkat omong-kosong dan bujuk rayu yang diucapkan Takana, akhirnya Tamarapun menyetujuinya.


"Ini hanya sementara, jika kakak sudah pulih, maka semua akan aku kembalikan pada kakak!" ucapnya meyakinkan.


"Aku tidak akan mengembalikannya, walau secuil pun," bathinnya.


Dengan memalsukan semua data, ditambah lagi nyonya Tamara masih dalam keadaan sedih dan terluka, akhirnya, denga mudahnya dia mengambil alih sebagian besar harta Angkasa.


Setelah Tamara sembuh dari sakit dan traumanya, dia datang menagih perjanjian yang pernah mereka sepakati.


Tapi sayang, kedatangannya bukan mendapatkan hak nya, tapi cacian dan hinaan lah yang didapat,


"Hahaha...,Tamara...,Tamara, lihat dirimu! kamu tidak tahu apa-apa tentang perusahaan, dan lagi, lihat dirimu, kamu cacat, bagaimana mungkin kamu menjalankan perusahaan dengan kondisi mu yang seperti ini hah?" Ucap Takana menertawakan kakak iparnya, dan diakhiri kalimat bentakan.


"Tapi itu bukan hakmu Takana! itu milik suamiku!" Tekan Tamara. Meski ia duduk di kursi roda, tapi dia tidak takut dengan siapapun.


"Angkasa itu kakak ku Tamara, kau hanya orang luar, jadi akulah yang berhak atas semuanya."

__ADS_1


"Kau licik Alex, tapi aku akan mengambil kembali semua hakku dan suamiku, semua ini jerih payah aku dan suamiku, tidak ada campur tangan kelurga kalian. Bahkan ketika kami meminta bantuan disa'at kami susah, kalian hanya tuli dan buta terhadap kami!"


"Hahaha..., silahkan Tamara, apapun usaha yang akan kamu lakukan, semua tidak akan berhasil, kamu hanya bisa kembali mengambil semuanya, jika anakmu masih ada, karna dialah pewaris sesungguhnya."


"Mintalah bantuan anakmu sana, cari dia ke alam baka! hahaha...."


***


Tapi kini, Takana diliputi kegelisahan, karna pewaris sesungguhnya telah ditemukan, dan besar kemungkinan,sang pewaris akan mengambil alih semua yang telah dia ambil secara paksa, mengambil hak yang seharusnya menjadi milik Bella.


memang benar, Bella akan mewarisi semua harta Angkasa, semua itu sudah tertulis di surat wasiat sang ayah yang di percayakan pada seseorang, semua akan diserahkan pada Bella, ketika dia berumur dua puluh satu tahun atau sudah mendapatkan sarjananya.


Tapi sayang, takdir berkata lain, dia menghilang tanpa jejak, yang membuat ambisi sang paman timbul untuk menguasai harta keluarganya karna menganggap Tamara takkan mampu mengurus semuanya.


"Dimana dia sekarang?" Keangkuhan yang selama ini dia tampakkan, sekarang sedikit berkurang karna kecemasan sedang melanda nya.


"Di Inggris tuan, dia sedang kuliah disana, disana dia tinggal di rumah nenek angkatnya."


"Sepertinya iya tuan, karna utusan keluarganya telah menemuinya, kemungkinan mereka akan meminta Bella untuk kembali!"


"Awasi! Jika dia ingin mengambil semuanya, maka lenyapkan!" Kekhawatiran Takana bukan tanpa alasan, dia khawatir, jika semua kembali pada pemilik sahnya, maka dia tidak punya apa-apa lagi, dan semua orang tidak akan mau lagi mendengarnya, apalagi tunduk dan patuh padanya seperti sa'at ini.


"Baik tuan."


***


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Barnest pada sang istri yang duduk melamun di depan maja riasnya, mereka memang tidak ada acara dan kepentingan diluar, jadi memutuskan tetap dirumah "kenapa kamu tampak khawatir seperti itu?"


"Pa, apa Bella akan kembali mengingat masa lalunya?"


"Memangnya kenapa?" tanyanya mencium pucuk kepala sang istri dengan mesra,berharap kekhawatiran sang istri berkurang.

__ADS_1


"Mimpi itu datang lagi padanya," ucapnya berbalik dan mendongak menatap wajah suaminya yang memang tetap tampan meski di usia tak muda lagi, dan tanpa terasa cairan bening itu telah membasahi pipi mulusnya.


"Bagaimana kalau dia mengingat keluarga nya? bagaimana jika dia ingin kembali bersam keluarga? bagaimana mungkin mama bisa melepaskan?" akhirnya dia pun terisak.


"Ssstt..., tenang lah, Bella akan tetap jadi anak kita, apapun yang terjadi, dia tidak akan meninggalkan kita."


Barnest pun sedikit khawatir, dia khawatir dengan istrinya. Dia takut istrinya kembali murung seperti waktu silam, ketika mereka kehilangan anak perempuan satu-satunya di keluarga mereka.


Tak ada gairah dalam diri Lucia dalam menjalani kehidupan, setelah kepergian putri tercinta, dia bagai raga tak bernyawa, menyendiri dan menyepi, seakan hidupnya telah pergi bersama perginya sang putri.


Aurora Adena Stewart, gadis kecil yng masih berumur delapan tahun, tidak sanggup lagi melawan penyakit yang menyerangnya, kanker darah telah membuatnya lemah, dan akhirnya merenggut nyawanya.


kepergian Aurora benar-benar membuat hidup Lucia terasa hancur, putri yang selama ini mereka harapkan, nyatanya hanya beberapa tahun menemani mereka.


Tapi sang pencipta masih menyayangi mereka, mengganti yang telah pergi dengan yang lain, meskipun bukan darah daging mereka.


Bella, sikecil cantik nan imut, telah mengubah kembali hidup keluarga Stewart, kehadirannya kembali membawa warna di keluar tersebut.


Bella ditemukan di dalam mobil yang sudah hancur bagian depannya, terlebih bagian sopir, karna bagian kanan mobil tersebut tepat menghantam pohon besar di depannya. Beruntung Bella duduk di bangku bagian belakang, sehingga dia bisa selamat tanpa cidera yang berarti.


Ketika mengunjungi perkampungan wisata tersebut, yang mana keluar Stewart menanam saham terbesar disana, mereka berniat mengunjungi tempat tersebut. Tapi di perjalanan, mereka melihat mobil yang berhenti secara tidak wajar, bagaiman tidak, mobil itu parkir sudah tidak di tepi jalan dan bagian depan sudah ringsek.


"Astaghfirullah, mobilnya kenapa itu?" tanya Lucia pada sang suami. Lucia yana dari semula memperhatikan mobil tersebut, sesa'at terkejut,mendapati mobil itu bukan parkir, tetapi kecelakaan.


Dengan cepat Barnest menghentikan mobilnya dan menepi, merekapun keluar berniat mengecek para penumpang.


"Mama..., papa..., mama..., huhuhu...."


Mereka saling pandang, sepertinya ada anak kecil didalam sana.


*****

__ADS_1


__ADS_2