(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
57. Semua Bersedih


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, mereka segera membawa Megan ke UGD.


Niat Bella ingin memasuki ruangan tindakan darurat itu, tapi langkahnya terhenti saat Dokter memperingati nya.


"Maaf ... semuanya tolong tunggu di luar."


Dengan terpaksa, Bella harus menunggu di luar bersama Barry - Asisten kakaknya.


Dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sana, dengan suara isakan, Bella terus memanggil nama sang kakak.


"Kak Megan."


*Hiks


Hiks


Hiks*


Perasaan ketakutan menyelimuti hati Bella, ketakutan akan kehilangan sang kakak yang sangat ia sayangi, dan ternyata juga di cintainya dalam diam selama ini.


Sementara Barry yang melihat adik Tuannya begitu bersedih, juga ikut merasakannya.


"Tuan, saya tau Anda orang nya begitu kuat, bertahanlah Tuan. Semua sangat menyayangi ,Tuan" batin Barry juga merasakan kesedihan.


Dia juga telah menganggap Megan sebagai kakak laki-laki nya, jadi melihat Megan seperti itu, dia juga sangat terpukul, terlebih lagi, menjaga Megan adalah kewajibannya.

__ADS_1


"Maaf kan saya Tuan. Hukumlah saya jika Tuan sadar nanti, saya tidak akan membantah ataupun menolak hukuman apapun yang akan Tuan berikan pada saya nantinya." Barry pun menyeka sudut matanya.


Suara langkah kaki yang terdengar begitu tergesa, membuat Bella mengalihkan pandangannya yang sebelumnya menunduk dengan deraian air mata.


"Mamaaa ...!"


Ternyata Lucia juga telah tiba bersama suaminya-Barnest yang tadinya menyusul di belakang.


Bella segera menghambur kedalam pelukan mama angkat nya itu.


"Mama ... Kak Megan, Ma." Adunya dengan terisak.


"Bagaimana keadaan kakak mu Bella?"


Lucia pun tak mampu menahan laju air matanya. Tapi dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak terisak.


Pikiran yang seharusnya tidak ia pikirkan, melintas begitu saja di benaknya.


Ketakutan akan kehilangan sang putra pun datang menghantui.


"Kak Megan masih di dalam, Ma. Bella takut kak Megan kenapa-kenapa, Ma. Tolongin kak Megan, Ma."


Dia terus saja menangis meski sang Mama telah mencoba menenangkan nya dengan terus mengusap punggungnya.


"Kita doakan semoga dia tidak kenapa-kenapa." Barnest mendekat dan mendekap kedua perempuan yang sedang berpelukan itu.

__ADS_1


Kedua perempuan yang begitu saling menyayangi meski mereka tidak dalam ikatan sedarah.


Meskipun tidak menangis, Barnest tentu juga merasakan kesedihan seperti kedua wanita yang di peluknya itu.


Megan adalah anak kandung satu-satunya, dan juga putra tersayangnya, meskipun selama ini dia tidak memanjakan Megan, tapi Megan adalah kesayangan nya.


Barnest tidak memanjakan Megan, namun justru mendidiknya dengan tegas dan disiplin, karena Megan akan menjadi pewaris harta nya.


Tapi melihat kondisi saat ini, Barnest benar-benar merasa sedih dan menyesal. Dia sangat takut kehilangan putra satu-satunya itu.


Ceklek


Suara pintu dibuka membuat ketiga manusia itu melepas pelukan, dan dengan sangat antusias nya, mereka mendekati Dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan anak kami Dokter?" tanya Lucia sangat tidak sabar mendengar kabar anaknya.


"Anak anda kondisi nya sangat lemah. Jahitan di lukanya kembali sobek dan dia kehilangan banyak darah, untuk itu, kami membutuh donor darah sesegera mungkin karena stok rumah sakit ini sedang kosong." Dokter menjelaskan tentang kondisi Megan saat itu.


Bertambah lah kesedihan mereka mendengar penuturan sang Dokter.


"Ambil darah Saya saja Dokter. Darah kami sama," ucap Barnest dengan segera.


"Syukurlah kalau begitu, jadi tidak perlu mencari pendonor lain lagi. Suster, segera lakukan pengecekan pada kesehatan Tuan ini," ucap sang Dokter pada seorang suster yang ada disampingnya, dan dia menunjukkan Tuan Barnest.


"Jika semuanya aman, segera lakukan pengambilan darah."

__ADS_1


"Baik Dokter. Mari Tuan." Suster menentun dan membawa Barnest kesebuah ruangan, guna memeriksa kesehatan Tuan Barnest.


*****


__ADS_2