(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
25. Seorang Megan Menangis


__ADS_3

"Jangan sedih lagi kak! kan Bella udah sadar sekarang" ucapnya tersenyum. Membalas genggaman tangan Megan, dia dapat merasakan kecemasan yang dirasakan sang kakak.


"Lagian kalau Bella ngak bangun-bangun lagi, berarti sudah takdir Bella namanya itu, kakak ngak boleh menyalahi takdir, bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, dan setiap pertemuan itu ada perpisahan?" Bella mengingatkan Megan agar jangan terlalu bersedih karena apapun yang terjadi pada diri kita sudah digariskan semenjak dalam kandungan.


"Iya kamu benar, setiap pertemuan ada perpisahan, tapi kakak tidak mau berpisah denganmu, dan kamu harus tau, jika kamu benar-benar pergi untuk selamanya, maka kakak pasti akan menyusulmu hari itu juga" tegas Megan dalam kesedihan.


Air mata Bella pun jatuh mendengar ucapan Megan, dia merasa sangat tersentuh dan juga merasa bahagia, kakaknya benar-benar sangat menyayangi, dia tidak peduli sayang itu sebagai apa, yang dia butuhkan hanya kasih sayang dari kakaknya itu. Dan berharap selamanya kasih sayang itu ia rasakan.


Sementara Lucia juga merasa sedih, dia sedih membayangkan bagaimana jika nanti Bella dibawa ibu kandungnya, apa yang akan diperbuat Megan jika dia dipisahkan dengan adiknya, itulah yang menjadi salah satu beban pikiran Lucia.


***


Disebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, tidak ada perabotan pengisi ruangan itu kecuali dua buah kursi yang ditengahnya dibatasi satu meja persegi empat.


Seorang pria duduk di salah satu kursi, dimana kedua tangannya terikat tali dan mulutnya berlumuran darah, sepertinya dia korban penculikan.


"Ck..., masih belum bangun juga bajingan ini," gumam seseorang. "Siram!" perintahnya pada para pengawal.


Mendengar perintah tuannya, bawahan langsung bergegas keluar mencari air, tak butuh waktu lama, dia kembali membawa seember air.


Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, si bawahan langsung mengguyurkan seember air ke kepala sanderaan mereka.


Mendapat guyuran air dingin yang secara tiba-tiba, si pria yang semula tidak sadarkan diri perlahan membuka mata, dan meringis merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, terutama bagian rahang. Karena memang sebelum pingsan, dia mendapatkan banyak pukulan, hingga kesadaran nya tidak dapat lagi ia pertahankan.


"Tu- tuan Barnest?" ucapnya terbata karena merasa ketakutan dengan tatapan membunuh manusia yang ada didepannya.

__ADS_1


"Ma'af, apa saya ada salah kepada tuan? ma'afkan saya jika ada kesalahan saya yang telah membuat anda terganggu," ucapnya kembali mengingat-ingat kira-kira apa kesalahan yang telah ia perbuat pada orang terpandang itu.


"Kesalahmu sangat fatal!" bentak Barnest yang membuat orang yang ada dihadapannya merasa sangat ketakutan. Mendengar bentakannya saja, si pria sudah seperti akan kehilangan nyawanya.


"Jika kamu mengenal saya, harusnya kamu juga mengenal keluarga saya!" si tawanan mulai merasa was-was, seperti nya dia mulai merasa akan ada sesuatu hal benar yang akan menimpanya.


"Ma-maksud tuan?"


"Dengar Takana! kamu telah membuat kesalahan ter fatal karena telah berani mencelakai putri saya, dan kamu pasti tau, apa konsekuensinya jika kamu mengganggu kelurga saya," ucapnya menatap tajam seakan ingin menelan pria yang ada dihadapannya.


Benar dugaan Takana, keserakahannya membuat hatinya tertutup sehingga tidak dapat berfikir apa konsekuensi dengan semua tindakannya.


"Ma'af tuan, bukan saya yang menabrak putri tuan, mungkin anda salah orang," ucap Takana tidak tau lagi harus menjawab apa, tapi sayang, ucapannya telah membuka tabirnya sendiri bahwa dialah dalang dibalik tragedi yang menimpa putri Barnest.


Mendengar penjelasan Takana, Barnest semakin murka.


Satu pukulan kembali melayang di rahangnya, yang membuat darah segar merembes keluar dari mulutnya.


"Dari mana kamu mengetahui putri saya ditabrak?"


Takana benar-benar buntu, dia tidak dapat lagi menjawab, Takana telah terkecoh dengan pertanyaan Barnest,sehingga jawabannya menyiratkan kalau dialah pelaku dibalik kecelakaan Bella.


"Ma-maksud saya." Takana masih ingin mengelak, tapi tak tahu lagi apa yang akan diucapkannya.


"Dengar kalian! kalian sudah tau apa yang harus dilakukan?" Perintah Barnest dengan nada pertanyaan kepada dua orang suruhannya.

__ADS_1


"Mengerti tuan." Keduanya mendekat dan menarik paksa tubuh Takana yang sudah sangat lemah. Dan Takana tidak dapat melawan pria kekar tersebut.


"Tuan Barnest, ma'afkan saya! saya mengaku bersalah, tolong lepaskan saya tuan, saya benar-benar khilaf!" Takana memohon, sedang tubuh lemahnya terus diseret oleh dua pria berbadan besar itu.


"Saya tau kamu pelakunya Takana, dari tadi saya sudah memberi kamu kesempatan untuk kamu mengakui kesalahanmu, tapi memang dasar jiwamu jiwa pecundang, sehingga tidak mau mengakui kesalahanmu itu," ucap Barnest menghentikan sejenak langkah para pengawal menyeret tubuh Takana.


"Bawa dia!" perintah Barnest pada kedua suruhannya itu yang sempat berhenti karena tuannya bicara tadi.


"Buat semua seakan seperti murni kecelakaan, kalau perlu, hilangkan dia tanpa jejak!" Barnest benar-benar geram dengan kelakuan Takana, jiwa pembunuhnya kembali dibangkitkan oleh kelakuan Takan yang telah berani mengusik keluarga nya.


Dulu Barnest merupakan pria kejam, dia tidak akan berfikir dua kali untuk menghabisi lawannya, termasuk lawan bisnisnya. Jika mereka berlaku curang, maka Barnest akan bertindak diluar batas.


Semenjak kehadiran Bella, Barnest memang sudah tidak lagi menggunakan kekerasan dalam urusan apapun, apalagi sampai membunuh, tapi kejadian yang dialami Bella benar-benar membuat Barnest murka.


"Baik tuan."


Kedua pria itu kembali menyeret tubuh Takana, sementara yang diseret masih terus bicara dan memohon agar dima'af kan dan mencoba berontak dari pegangan tangan kekar itu, tapi tentu saja usahanya tidak akan berhasil, karena kekuatan dua pria kekar itu tidak dapat dibandingi dengan kekuatan seorang pria apalagi sudah tidak berdaya.


"Tuan Barnest, ma'afkan saya, tolong ma'afkan saya!" dia terus bicara minta ma'af agar Barnest mau mengampuninya, tapi sa'at ini hati Barnest sudah tertutup mendengar kata ma'af, sampai suaranya tak terdengar lagi oleh Barnest karena sudah dimasukkan kedalam mobil oleh para pengawal.


Dua kali klason berbunyi pertanda minta pamit pada Barnest, setelah itu mobil bergerak maju entah kemana.


"Seharusnya kamu tau akibat dari tindakanmu itu Takana, tidak ada yang berani mengusik keluarga Barnest, tapi kamu melakukan itu, maka terimalah balasan dari perbuatan keji mu itu!" gumam Barnest.


Barnest Kemudian keluar dari ruangan yang terasa pengap itu menuju mobilnya bersama dua ajudannya yang lain. Besok dia akan kembali ke Inggris. Dia juga tidak mau terlalu lama berpisah dengan istri dan anaknya, apalagi Bella sedang dalam keadaan yang tidak baik.

__ADS_1


Tapi malam ini, Barnest akan mengistirahatkan dirinya terlebih dahulu di kediamannya, dan esok pagi barulah dia akan terbang ke Inggris.


*****


__ADS_2