(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
32. Cemas


__ADS_3

Bella kembali memeriksa koper yang dikhususkan untuk menyimpan buku, dikeluarkan nya semua isinya, di obrak-abriknya semua barang itu, tapi tetap saja tidak ia temukan apa yang dicarinya.


"Gawat." Bella merasa cemas. "Dimana ya, apa jangan-jangan ketinggalan ya, mungkin kak Megan tidak melihatnya, karena kan tu buku di laci paling bawah," monolognya pada diri sendiri.


"Jangan sampai kak Megan menemukannya, apalagi membaca isinya, mau ditaruh dimana muka ku kalau dia sampai menemukan nya."


Suara pintu dibuka mengalihkan fokus Bella, dia melihat ternyata Tamara yang datang.


"Ada apa ,Nak? mama dengar kamu teriak, kenapa?" tanya Tamara yang semakin melangkahkan kakinya memasuki kamar. Karena kamar Bella berada dilantai dua, Tamara tidak bisa menggunakan kursi roda untuk menaiki tangga, jadilah ia memakai tongkat untuk membantunya berjalan, dan juga disampingnya seorang asisten yang selalu menemaninya.


"Ini Ma, ada barang Bella yang ketinggalan," sahut Bella yang terlihat sedikit enggan mengatakannya pada sang mama, tapi mau bagaimana lagi, Tamara sudah sudah melihat barangnya yang berserakan dilantai, mau tidak mau terpaksa ia katakan.


"Barang apa memang? kenapa sepanik itu?" tanya Tamara melihat ada raut kecemasan diwajah Bella. Kemudian duduk ditepi ranjang dekat Bella.


"Ini Ma, ada barang kesukaan Bella yang ketinggalan."


"Iya barang apa? kan memang tidak semua pakaian Bella yang dibawa kesini, bukankah mama Lucia sudah bilang jika sebagian pakai Bella ditinggal disana, jadi kalau Bella mau nginap di tempat mama Lucia, Bella tidak perlu repot-repot membawa pakaian lagi," terang Tamara mencoba mengingatkan anaknya, dia berpikir mungkin Bella melupakan hal itu.

__ADS_1


"Kalau itu Bella ingat kok."


"Lalu barang apa lagi?" tanya Tamara penasaran. Sepertinya barang itu sangat penting bagi Bella, hingga ia terlihat panik ketika tidak menemukannya.


"Hmm ... itu Ma, Diary Bella," jawab Bella pada akhirnya, dia menunduk kan wajahnya seakan merasa malu, padahal Tamara tidak mengetahui buku itu, apalagi isinya, tapi Bella tetap saja merasa malu.


"Owalaaah ... Diary, mama kira apaan. Besok coba Bella cari ke sana, mana tau Megan tidak melihatnya, jadinya tidak kebawa deh. Atau coba telpon kakak mu itu, tanyakan sama dia, apa dia melihat Diary nya atau tidak." Tamara memberikan usulnya.


"Iya Ma, nanti Bella coba tanyain," sahut Bella menyetujui saran mamanya.


"Ngak usah Ma, biar Bella aja yang beresiin. Mama tidurlah, udah malam."


"Iya, mama kebawah ya, kamu juga, jangan terlalu larut tidurnya, jangan begadang." Tamara memperingati anak gadisnya.


"Iya Maaa," saut Bella manja, dia mencium pipi Tamara sebelum perempuan paruh baya itu pergi meninggalkan kamarnya.


"Misi Non." Sang asisten Tamarapun izin undur diri, maksudnya izin keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Iya Mbak."


Setelah kedua orang itu keluar, Bella segera mengunci pintu kamarnya.


"Bagaimana ini, sebenarnya dimana sih? masa iya ketinggalan?" gerutunya.


"Ah ... lebih baik aku coba tanya sama kak Megan." Bella mengambil handphone nya, berniat menghubungi sang kakak.


"Ah ... tidak ... tidak .... bagaimana kalau memang kak Megan tidak melihatnya? dan karena mendengar ada barangku yang ketinggalan, kak Megan mencarinya. Ah tidak ... jangan sampai itu terjadi, biarlah besok aku sendiri yang akan mencarinya kesana, kalau sampai kak Megan menemukannya, aku tidak punya muka lagi untuk bertemu dia lagi." Bella berbicara sendiri sambil mondar mandir.


Dia benar-benar cemas kalau sampai ada orang yang menemukan barang keramatnya itu.


Bella tidak tau, kalau Megan bukan saja telah menemukan Diary nya, tapi sudah membaca tulisan yang ada didalam buku itu. Apa yang akan terjadi jika Bella mengetahui bahwa, Megan telah membaca isi hatinya yang dia curahkan pada lembaran buku itu?


"Ah ... dasar konyol, ngapain juga aku harus curhat sama buku, kalau begini ceritanya, kan aku juga yang jadi ngak tenang," gerutu Bella merutuki kebodohannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2