
"Bell, Bella." Megan yang wajahnya berlumuran darah, dengan lirihnya mencoba memanggil nama adiknya, setelah itu matanya tak sanggup lagi untuk terbuka dan akhirnya Megan pun pingsan.
Warga yang melihat, segera membantu Megan dan Bella, salah satu dari mereka menghubungi ambulance, sementara yang lain berusaha mengeluarkan korban yang terjepit di dalam mobil.
Setelah beberapa menit, terdengar bunyi sirine yang menandakan bahwa mobil ambulance telah datang, setelah ambulance itu berhenti tepat disebelah mobil Megan, para medis segera mengangkat tubuh Megan dan Bella kedalam mobil ambulance yang dibantu oleh beberapa warga.
***
"Apa?" Lucia benar-benar syok mendapati kabar yang diinformasikan oleh pihak rumah sakit, jantungnya seakan berhenti berdetak, kekhawatiran yang dirasakannya tadi menjadi kenyataan.
"Ada apa ma?" Barnest pun dibuat panik ketika melihat istrinya luruh setelah menerima telepon, dan ponselnya pun tak sanggup lagi ia pegang hingga jatuh kelantai.
"Pa, anak kita" Ucap Lucia tergagap, tak sanggup rasanya bibirnya itu untuk berucap.
"Iya, ada apa dengan anak kita?" Barnest mencoba menenangkan istrinya, meski dirinya sendiri tak tenang.
"Anak kita kecelakaan," setelah mengucapkan itu, Lucia pun menangis sejadi-jadinya. Puas menangis, ia meminta sang suami kerumah sakit tempat Bella dan Megan dirawat.
Sampai dirumah sakit, Lucia kembali histeris setelah mengetahui keadaan anaknya yang masih diruang operasi. Rasanya ia tak sanggup lagi berdiri, dan akhirnya rubuh lagi, beruntung Barnest sigap menangkapnya, kemudian mendudukkan sang istri di bangku tunggu.
"Ma berdo'a, jangan menangis terus, itu tidak akan mengubah apapun," ucap Barnest menenangkan istrinya dengan masih mengusap-usap bahu sang istri. "Tapi do'a seorang ibu, bisa mengubah takdir,maka perbanyaklah berdoa!"
Bunyi pintu ruangan terbuka mengalihkan mereka berdua, menatap ke arah pintu, dan terlihatlah seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Ma'af tuan Barnest, putri anda akan segera ditangani lebih lanjut, dia harus dioperasi secepatnya, karena terjadi pendarahan di bagian kepala," jelas sang dokter yang bernama Smith itu, dia adalah teman masa sekolah Barnest.
"Segera lakukan dokter." Barnest berusaha tetap tenang, tapi tidak dengan istrinya.
"Sekali lagi ma'af tuan Barnest, kami kekurangan stok darah, sehingga operasi harus ditunda hingga satu jam lagi paling lama, saya minta tuan Barnest segera mencari pendonor, agar nyawa putri anda dapat tertolong. Dan golongan darah Bella adalah AB, anda pasti sudah tau kan? karna diakan putri anda berdua." Setelah mengucapkan itu, dokter pun kembali keruangan operasi.
"Pa, bagaimana ini? dimana kita akan mencari pendonor secepat ini?" Lucia tak sanggup lagi berfikir jernih. Mereka sudah menduga kalau golongan darah Bella tidak sama dengan mereka berdua, Barnest memiliki golongan darah O, sedangkan Lucia A. Itu artinya darah mereka berdua tidak bisa didonorkan pada Bella.
"Jangan khawatir" Seseorang mengagetkan Barnest dan Lucia. "Saya akan membantu kalian, golongan darah saya AB, saya akan mendonorkannya untuk anak kalian," ucapnya tersenyum.
__ADS_1
Barnest dan Lucia memandang perempuan yang duduk di kursi roda tersebut, disebelahnya berdiri seorang pria kekar, seperti nya itu pengawalnya.
"Terimakasih nyonya" Lucia benar-benar merasa bersyukur, ditengah musibah dan kepanikannya, datang seseorang yang akan membantunya.
"Iya, saya akan mendonorkan darah saya untuk anak kalian, tapi saya punya persyaratan."
Lucia memandang Barnest, yang mana suaminya itu juga memandangnya.
"Apa syarat nya?" Tanya mereka berdua.
"Nanti setelah melakukan pendonoran, saya akan menyampaikan syaratnya, bukankah kata dokter, operasi itu akan segera dilakukan?"
Mendengar hal itu, Barnest dan Lucia sedikit curiga. "Jangan berfikiran buruk, saya tidak akan meminta harta kalian, saya hanya ingin meminta bantuan kalian nanti."
Barnest dan Lucia sedikit lega mendengarnya, dan juga merasa penasaran, bantuan apa yang akan dimintanya pada mereka.
"Baiklah, segeralah lakukan pendonoran nya," Barnest tak bisa berfikir lagi, dia hanya mengkhawatirkan keselamatan anaknya.
Pada akhirnya, perempuan yang duduk dikursi roda itu, yang tak lain adalah Tamara, ibu kandungnya Bella dibawa kesebuah ruangan khusus bagi pendonor yang ingin mendonorkan darahnya.
"Papa juga tidak tau ma, yang terpenting sekarang adalah keselamatan putri kita." Merekapun tak lagi membahas persyaratan yang diberikan Tamara tadi. Mereka hanya fokus berdo'a agar operasi nya lancar dan Bella segera siuman.
Setelah menunggu lebih kurang Tiga jam, pintu ruangan kembali terbuka, dan terlihat dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Alhamdulillaah operasi nya berjalan lancar," ucap sang dokter yang ternyata beragama Islam.
Barnest dan Lucia merasa sangat senang dan mengucapkan rasa syukur mereka, karena operasi nya berjalan lancar.
"Tapi pasien masih belum sadarkan diri, tak perlu khawatir, karena dia sudah lepas dari masa kritisnya. Silahkan masuk, tapi bergantian ya."
"Baik dokter."
"Mama aja yang duluan ya pa!"
__ADS_1
"Iya ma."
Lucia pun memasuki ruangan operasi, setelah di sterilkan, dan dipakaikan baju khusus, kemudian suster mengarahkannya pada tempat Bella berbaring.
Hatinya begitu teriris melihat begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya, seketika air matanya luruh tak dapat lagi di bendung.
"Bella, sayang mama, kamu yang kuat ya naak! cepat pulih! tidurnya jangan lama yang sayang" Lucia menggenggam tangan putrinya, dengan air mata yang terus mengalir.
Tidak begitu lama, suster mengingatkan bahwa tidak boleh terlalu lama di ruangan itu. Dengan berat hati, Lucia mencium kening sang putri yang terbalit perban, kemudian keluar dan meninggalkan anaknya bersama suster.
"Pa." Lucia menangis lagi setelah berada diluar, dengan sigap Barnest memeluk kemudian menuntunnya untuk kembali duduk.
"Lebih baik mama istirahat dulu! mama kelihatan sangat pucat, mama bisa istirahat diruang rawat inap Bella, disana kan ada ruang keluarga."
"Tapi gimana dengan anak kita? mama ngak mau ninggalin dia pa."
"Kan ada suster ma, Bella ngak sendirian kog" Barnest terus membujuk Lucia agar mau beristirahat.
"Baiklah," karena merasa tubuhnya lemas, dan butuh istirahat, Lucia menuruti perintah suaminya.
***
Seseorang sangat terpukul, dia menangis histeris di ruang jenazah. Mencoba membangunkan jasad yang tak lagi bernyawa.
"Kak, bangun kak! jangan tinggalin Bella, kakak janji ngak bakalan ninggalin Bella," Bella meraung-raung dan mengguncang tubuh kaku dan dingin itu.
"Ma, pa, bangunin kak Megan! kenapa kalian diam aja? kakak ayo bangun, kakak udah janji buat cariin Bella laki-laki yang baik, ayo bangun kaaak!" Dia terus menangis dan menguncang jasad Megan.
"Sudah nak, jangan seperti itu! kasihan kakak kamu, biarkan dia tenang di alam sana, jangan meratapinya seperti itu. Dia akan sedih jika kamu seperti ini nak!" Barnest mengusap punggung Bella untuk menenangkannya.
"Kak Megan, jangan tinggalin Bella, kak Megan, Bella sayang kakak." Dia kembali berteriak histeris setelah sebelumnya sedikit tenang.
"Kakaaak...."
__ADS_1
*****