(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
28. Kembali Ke Tanah Air


__ADS_3

"Pa, Bella sudah mengetahui semuanya," ucap Lucia pada suaminya ketika mereka hendak tidur, karena hari memang sudah malam.


"Siapa yang memberi tau ma?" tanya Barnest terkejut, kemudian kembali mendudukkan badannya yang semula sudah berbaring, begitu juga Lucia.


"Entahlah, mungkin suruhan ibunya, karena Bella memiliki data dirinya yang asli juga foto-foto masa kecilnya, mama sih yakin suruhan nyonya Tamar" ungkap Lucia lemah.


"Kalau menurut papa, sebaiknya biarkan mereka bertemu! karena nyonya Tamara pasti sangat tersiksa selama belasan tahun terpisah dengan anaknya."


"Iya papa benar, sebenarnya kita sudah sangat jahat memisahkan mereka, padahal mama sangat tau gimana tersiksanya kehilangan anak yang kita lahirkan," Lucia mencoba mengikhlaskan.dan mencoba menempatkan dirinya diposisi Tamara.


"Tapi mama ngak pa-pa kan?" tanya Barnest meyakinkan istrinya.


"Iya pa, rasanya sudah cukup kita memisahkan mereka, dan semoga Bella tidak membenci kita" dan lagi air mata Lucia kembali luruh. Dengan sigap Barnest memeluk dan menenangkan istrinya.


"Bella tidak akan membenci kita, papa yakin itu, dia akan memahami kita, dia anak cerdas"


"Jika kondisi Bella sudah benar-benar pulih dan fit kembali, kita akan terbang ke Indonesia, kita akan mempertemukan mereka."


Lucia hanya mengangguk kan kepalanya yang disandarkan pada bahu sang suami. Kesedihan masih belum pergi, malahan semakin ia rasakan.


"Ya sudah, sekarang tidur!" Barnest membaringkan istrinya di atas kasur empuk mereka, kemudian ia pun ikut berbaring.


"Mau ibadah dulu ngak?" tanya Barnest menaik-turunkan alisnya.


"Apaan sih pa?" Lucia mencubit pinggang suaminya sedikit keras, tapi tak begitu berarti bagi Barnest. "Lagi sedih gini masih juga mikirin yang begituan."


"Hehehe, ya mana tau mama mau melepaskan hormon stresnya gitu" jawab Barnest cengengesan, kemudian mencubit-cubit kecil pinggang istrinya.


"Apaan sih pa? mama mau tidur nih."


"Mau ngak? biar stres nya hilang," goda Barnest dengan senyum jahilnya.


"Ngak ah, ma'af ya pa, kali ini mama ngak patuh, lagi ngak bernafsu buat begituan," Lucia kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut termasuk wajah cantiknya.


"Iya papa ma'afin, ngak usah ditutup wajahnya! pengap."

__ADS_1


Lucia pun membuka selimut yang menutup wajahnya. Merekapun akhirnya tidur dengan kepala Lucia diatas lengan Barnest, sementara sebelah tangan Barnest memeluk tubuh Lucia. Malam ini terasa dingin bagi Barnest dan Lucia, entahlah, mungkin saja hati mereka yang merasa dingin.


***


Hari pun berganti, Bella juga sudah benar-benar pulih, dan tubuhnya juga sudah fit.


Bella sudah sangat ingin bertemu dengan ibunya, meskipun tidak ingat dengan wajah sang ibu, tapi ia yakin bahwa ibunya wanita yang cantik bukan hanya fisiknya, tapi juga hatinya, terbukti dengan ia tidak mengambil paksa Bella dari orang tua angkatnya.


Hari ini mereka akan ke tanah air, tujuannya tidak lain adalah ingin bertemu dengan Tamara.


"Apa semua sudah beres?" tanya Barnest pada Lucia dan Bella, mereka akan berangkat ketanah air hari ini. Bella benar-benar sangat ingin bertemu dengan ibu kandungnya.


"Sudah pa," jawab Bella.


Mereka pun berangkat setelah berpamitan pada Aaron dan Alice. Nenek dan kakek Bella itu juga merasakan kesedihan, membayangkan Bella akan diambil ibunya, dan takut Bella akan melupakannya, karena Bella adalah cucu satu-satunya keluarga mereka.


Beberapa jam berlalu, dan akhirnya mereka tiba di tanah air.


"Bella...," Megan melambaikan tangan sa'at melihat adik dan kedua orang tuanya telah melangkah keluar dari bandara.


"Kamu ini, cuma kangen sama adikmu saja, apa kamu tidak rindu sama orang tuamu?" sungut Lucia. Megan hanya terkekeh mendengar celotehan ibunya.


Megan kemudian beralih merengkuh pundak sang ibu, kemudian mencium kepalanya, karena Lucia hanya setinggi pundak Megan.


"Ayo" ajak Megan sambil merengkuh pundak kedua wanita beda generasi itu hingga kedekat mobil.


"Pengawalmu ngak dibawa?" tanya Megan sa'at mereka sudah berada didalam mobil.


"Tidak, kan kakak yang akan menjadi pengawal Bella mulai sa'at ini," ucap Bella, tapi tidak yakin dengan ucapannya sendiri.


***


Sampai dirumah, mereka langsung berkumpul diruang keluarga. Karena sewaktu didalam mobil, Barnest telah mengatakan ada yang perlu mereka sampaikan pada Megan.


"Jadi mau bahas apa ma, pa?" tanya Megan lansung pada intinya.

__ADS_1


"Megan, Bella ingin bertemu dengan ibu kandungnya," ucap Barnest.


Terkejut, tentu saja Megan terkejut, ibu kandung apa maksud ayahnya, tapi detik berikutnya dia kembali tersadar dan teringat kejadian belasan tahun lalu.


Megan memandang Bella, tidak ada yang tau makna dari pandangan itu.


Megan terdiam, kembali teringat kejadian belasan tahun lalu.


"Ma, adek nya lucu, pintar lagi, kita bawa pulang aja ya ma, jadi teman Megan buat gantiin adek Aurora yang udah disurga," ucap Megan kecil, kala itu mereka masih dirumah sakit.


Melihat binar bahagia dimata Megan, dan terlihatnya cahaya harapan agar Bella menjadi pengganti adiknya yang telah lebih dulu pergi, Lucia menyetujui keinginan Megan. Karena sesungguhnya, Lucia pun menyukai gadis kecil itu.


"Tapi Megan harus berjanji akan menjaga adek Bella nya ya!"


"Terimakasih ma, Megan janji akan selalu menjaga adek Bella agar dia betah sama kita," seru Megan begitu antusias dan bahagianya. Maklum, selama ini Megan tidak mempunyai teman jika dirumah, hanya disekolah dia bisa berteman.


Megan tersadar dari ingatan masa lalu itu, perlahan dia mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk, menatap lekat wajah perempuan yang selama ini ia anggap adik. Tapi anehnya, perasaannya selalu merasakan hal yang berbeda tanpa ia sadari.


"Kenapa aku sebodoh ini? kenapa aku bisa melupakan kenyataan yang sebenarnya? kenapa aku melupakan kalau Bella bukanlah adik kandung ku? kenapa aku harus menepis perasaan yang selama ini aku anggap salah, padahal sama sekali ngak salah, dan ternyata cinta ini sudah benar, ternyata cinta ku bukan cinta terlarang?" gumam Megan sekaligus merutuki kebodohan nya.


Mungkin selama ini Megan begitu menganggap Bella adalah adik kecilnya, sehingga dia melupakan kenyataan yang sesungguhnya, bahwa Bella bukan adik kandungnya.


Megan mengusap wajahnya karena kebodohan itu, andai saja dia menyadari kenyataan ini dari dulu, mungkin dia akan mengungkapkan perasaannya pada Bella, sehingga tidak membuat dia tersiksa dengan perasaan itu.


"Jadi hari ini Bella ingin bertemu dengan ibu yang telah melahirkannya," ungkap Barnest, sementara Lucia hanya terdiam dengan perasaan gelisah dan juga sedih akan berpisah dengan sang putri.


"I-iya pa, sebenarnya aku benar-benar melupakan hal sepenting ini, aku benar-benar lupa kalau Bella bukanlah lah adik kandung ku."


Bella menatap wajah Megan, ada kesedihan, kekecewaan, dan entah perasaan apa lagi yang dirasakan Megan.


"Jadi kapan kita akan kesana?" tanya Megan, karena hanya itu yang mampu ia ucapkan lagi.


"Besok siang, sekarang biarkan Bella istirahat dulu, dia kan baru pulih," ucap Barnest memandang sendu wajah putri angkatnya yang sebentar lagi akan meninggalkan nya.


Mereka semua akhirnya istirahat, karena esok siang akan pergi kekediaman Tamara.

__ADS_1


*****


__ADS_2