(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
47. Di Hadang


__ADS_3

"Kenapa berhenti?" tanya Megan saat Barry menepikan motor nya.


"Tuan ... apa sebaiknya kita istirahat disini dulu, di depan jalannya sangat sepi, karena disekelilingnya adalah kebun sawit. Dan biasa orang yang mau melewati jalan itu akan memilih di siang hari, dan jika malam hari kendaraan mereka pasti lebih dari satu, mereka tidak akan mau melewati jalan itu dengan satu kendaraan, kecuali memiliki senjata api." Terang Barry menjelaskan.


Megan terdiam mendengar ucapan Barry, karena memang jika di lihat dari kejauhan, daerah itu di kelilingi tumbuhan sawit. Dan juga tidak ada lagi kendaraan yang menuju ke daerah itu jika sudah memasuki malam hari.


"Jadi bagaimana, Tuan. Apa kita cari penginapan saja di dekat sini?" Lamunan Megan terhenti mendengar suara Barry.


Tapi dia tidak ingin semuanya terlambat, dia ingin cepat sampai di Bandung dan bertemu adiknya.


"Kita lanjutkan saja perjalanan nya."


"APA?" Tentu saja Barry terkejut mendengar Jawa ban dari Megan.


"Iya. Kita lanjutkan saja perjalanan nya," ucap Megan menjelaskan lagi perintahnya.


"Tapi kita tidak punya senjata Tuan. Disana sangat berbahaya, nyawa kita jadi taruhannya." sungguh Barry merasa takut jika harus melanjutkan perjalanan nya.


"Kita serahkan saja semua uang kita, maka semua akan beres."


"Bagaimana jika mereka juga meminta motor ini, Tuan? masalah akan semakin besar jika motor ini juga diambil mereka." Terang Barry lagi.


Megan pun kembali terdiam. Tapi mengingat jika dia telah menguasai ilmu beladiri, dia bertekat untuk melanjutkan perjalanan.


Ilmu bela diri sudah dia kuasai semenjak masih sekolah, semua berkat paksaan sang Ayah yang menuntut Megan menguasai bela diri.


"Sudah ... jangan terlalu khawatir. Kita lanjutkan saja." Megan tetap ngotot melanjutkan perjalanan.


"Baiklah," jawab Barry lemah.


"Jika kamu takut, tidak usah kamu ikut! biar saya sendiri." Megan berjalan mendekati motor, berniat mengendarainya sendiri tanpa di temani Barry.


"Tunggu, Tuan. Saya kan tidak ada bilang kalau tidak akan ikut, Tuan." Akhirnya Barry kembali menaiki motor. "Hidup saya sudah saya serahkan pada Tuan, jadi, apapun yang terjadi, saya akan selalu di samping Tuan."


"Terimakasih." Megan pun menaiki motor setalah lebih dulu naik sang asisten.


"Tidak perlu berterima kasih Tuan, tapi cukup Anda kasih saya bonus jika kita selamat sampai tujuan." Canda Barry sebelum menyalakan mesin motornya.


"Baiklah ... bulan ini saya kasih kamu bonus dua kali lipat dari yang biasanya."


"Waahhh ... terimakasih, Tuan."


"Dan jika kita tidak terlambat, ada bonus tambahan buat kamu."


"Wah ... serius Tuan?" Barry malah tidak percaya, karena niatnya hanya bercanda.

__ADS_1


"Iya, emang pernah saya bercanda? Ayo jalan!"


"Hehehe. Terimakasih Tuan. Iya, anda tidak pernah bercanda, senyum aja jarang."


Plak


pundak Barry pun kembali kena sasaran tangan Megan.


"Mulai lagi kamu. Ayo cepat jalan!" perintah Megan.


"Aduh. Mohon maaf sebelumnya Tuan, memang nya ada masalah apa sehingga anda begitu ingin tiba di Bandung, dan selalu mengatakan jangan sampai terlambat?" tanya Barry yang mulai tidak tahan untuk bertanya tentang apa yang terjadi pada Tuannya.


"Sudah ... nanti kamu juga bakalan tau. Semakin cepat semakin baik. Kelamaan bicara dengan mu akan semakin membuang-buang waktu."


"Baiklah ... pegangan yang erat Tuan."


"Bismillah, semoga aman sampai tujuan."


Barry pun menyalakan motor dan lansung menarik gasnya, sehingga motor balap itu meleset dan meninggalkan rumah makan tempat istirahat mereka sejenak.


*


*


*


Di tepi jalan kiri dan kanannya di tumbuhi pohon-pohon besar, sehingga menambah suasana semakin terasa mencekam.


"Ya ALLAH ... lindungi hamba Mu ini," batin Barry meminta perlindungan pada yang Maha Kuasa, begitu juga Megan.


Sesungguhnya ada rasa takut dihati mereka, tapi mau bagaimana lagi, balik arah pun tidak mungkin.


Maka dengan tekat dan keberanian yang di beranikan, merekapun menepis rasa takut yang hinggap di hati masing-masing.


"Apaan tu?" Barry bertanya pada dirinya sendiri saat melihat sesuatu membentang menghalangi jalannya.


"Ada Barry?" tanya Megan cemas.


Barry pun memelankan motor nya, dan setelah dekat, dia baru mengetahui bahwa itu adalah batang kayu, perasaannya mulai tidak enak.


Dia menyadari bahwa kayu itu bukan pohon tumbang melainkan di sengaja di letakkan di tengah jalan.


"Kenapa berhenti. Hei ... kenapa kamu turun?" tanya Megan mulai cemas.


"Sebentar Tuan, saya harus menepikan kayu itu dulu," ucap Barry. Kemudian dia melangkah mendekati kayu, dan berusaha mengangkatnya, cukup susah, tapi Barry tetap berusaha.

__ADS_1


Megan yang merasa kasihan melihat usaha Barry, berniat membantu agar kayu yang cukup besar itu segera di singkirkan dari jalan. Dan kayu itu bukan cuma satu, tapi ada dua.


Saat sedang berusaha mengangkat kayu besar itu, beberapa orang berpakaian hitam menghadang, mereka semua menggunakan penutup kepala yang juga berwarna gelap.


"Waaah ... ada mangsa ini," seru seseorang di antara mereka. Sepertinya dia adalah ketua di kelompok itu.


Barry tetap melanjutkan usahanya menyingkirkan kayu yang melintang itu. Dan dia berhasil.


Mereka yang berpakaian serba hitam itu pun mengeluarkan senjata tajam dari balik pakaian mereka dan menodongkannya ke arah Barry dan Megan.


"Serahkan harta benda kalian!" perintah si ketua.


Barry menepuk-nepuk kan kedua tangannya untuk menghilangkan tanah atau kotoran yang menempel di telapak tangannya.


"Kenapa kami harus menyerahkan harta benda kami?" tanya Barry santai.


"Karena ini daerah kekuasaan gue!" bentak si Bos.


"Apa buktinya kalau ini daerah kekuasaan kalian? memang nya kalian aparat di daerah ini?"


"Waaah ... nantangin dia Bos. Cari mati nih bocah," seru salah satu anak buah si Bos.


"Nih anak ngapain berdebat sih? di kiranya lagi berhadapan sama klain apa?" batin Megan semakin cemas.


"Udah ... jangan banyak bacot kamu! sekarang serahkan semua yang kalian punya jika kalian menyayangi nyawa kalian!" bentak si Bos.


Dia geram merasa di permainkan.


Biasanya tidak ada yang berani menjawabnya. Mereka yang menjadi korban, akan dengan suka rela menyerahkan semua harta benda yang mereka punya asal tidak disakiti.


Tapi kali ini berbeda, mangsanya malah dengan berani menjawab dan menantang nya.


"Kami tidak akan menyerahkan apapun pada kalian, jika kami masih bernyawa," tegas Barry pasti. Tidak ada ketakutan yang terlihat di wajah tampan nya itu.


"Apa-apa nih anak? cari mati dia. mereka sebanyak ini mau di lawan," batin Megan lagi merasa kesal dengan tingkah Asistennya.


"Kamu apa-apaan sih? mereka semua pakai senjata. Kasih saja apa yang mereka mau," ucap Megan berbisik.


"Jangan terlalu khawatir, Tuan. Mereka hanya memakai senjata tajam, tidak memakai senjata api," bisik Barry juga.


"Apa kamu bisa melawan mereka sebanyak ini?"


"Kita lihat saja Tuan." Barry tersenyum menjawab pertanyaan Tuannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2