(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
23. Kedatangan Tamara


__ADS_3

"Kak Megan, jangan tinggalin Bella, kak Megan, Bella sayang kakak." Dia kembali berteriak histeris sambil menggenggam tangan dingin Megan setelah sebelumnya sedikit tenang.


"Kakaaak...."


Bella tersentak, matanya pun terbuka dengan spontan.


"Bell, kamu udah sadar? kakak sangat mengkhawatirkan kamu, kamu tidurnya kenapa lama sekali?" Megan bangkit dan mengecup kening sang adik.


"Sebentar, kakak panggilkan dokter" Megan hendak keluar, tapi Bella tidak melepas genggaman tangannya.


"Kak, ja-ngan tinggalin Bel-la!" Ucapnya sangat lirih.


"Tidak sayang, kakak hanya memanggilkan dokter" Megan tersenyum, membuat Bella bisa melepaskan genggaman nya.


Begitu Megan berlalu, Lucia keluar dari toilet, hatinya begitu bahagia mendapati Bella sudah membuka matanya.


Sementara Barnest sedang melakukan meeting virtual atau rapat online di sebuah ruangan kerja yang ada diruang rawat Bella, mereka memang memilih kamar president suite untuk kenyamanan mereka juga.


Aaron dan Alice disuruh pulang agar dapat beristirahat dengan baik, Barnest dan Lucia kasihan pada kedua lansia itu.


"Sayang, kamu udah siuman" dia memeluk dan mencium wajah serta kening Bella yang masih dibalut perban.


Bella tersenyum dan mengangguk kan sedikit kepalanya.


"Kakakmu kemana ya?" Lucia celingukan mencari Megan, detik berikutnya pintu ruangan itu terbuka, dan masuklah dokter yang disusul dua orang suster dan setelahnya Megan.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa Bella sudah mulai stabil, hanya saja semua alat yang masih menempel belum bisa dilepas.


"Haus" Ucap Bella masih terdengar lemah.


"Apakah sudah boleh minum dokter?" Tanya Lucia.


"Sudah boleh nyonya, silahkan berikan minumnya."


Bellapun minum dengan perlahan mengunakan sedotan, sementara Megan memegang gelasnya. Dokter dan suster pun kembali keluar setelah menjelaskan apa yang perlu dijelaskan.

__ADS_1


"Kakak gimana? baik-baik aja kan?" Dia tetap berusaha menanyakan keadaan sang kakak. Meskipun dirinya masih sangat lemas.


"Kakak baik-baik aja, kamu lihat kan?" Megan memamerkan tubuhnya yang dibalut kaos oblong itu yang memang terlihat baik-baik saja.


"Sudah jangan banyak bicara dulu! kami istirahat saja, masih sangat lemas itu"


Bella hanya mengangguk dan tak banyak bicara lagi, hingga pintu kamar rawat diketuk tapi tidak kunjung dibuka.


Karena belum juga dibuka, Megan melangkah untuk melihat kira-kira siapa orang yang ada dibalik pintu itu.


"Ma'af, anda siapa ya?" Bertanya pada seorang perempuan yang ada dihadapannya, perempuan yang duduk dikursi roda dengan seorang pria kekar di sampingnya.


"Bisa saya bicara dengan nyonya Lucia?" Tanya Tamara tersenyum.


"Tunggu sebentar!" Megan berbalik dan melangkah lagi, setelah sampai didekat Lucia, Megan mengatakan bahwa ada seorang perempuan paruh baya yang duduk di kursi roda ingin bertemu dengannya.


Mendengar perempuan dikursi roda, hati Lucia kembali cemas, karena dia teringat dengan seorang perempuan yang telah menyelamatkan Bella dengan mendonorkan darahnya, tapi dengan persyaratan.


Setelah melakukan donor darah, Tamara memang tidak menemui Barnest dan Lucia, dia juga tidak tega jika hari itu langsung mengungkapkan keinginannya, sementara mereka masih dalam keadaan panik dan berduka.


"Aku tidak akan mengatakan persyratannya sa'at ini, nikmatilah dulu kebersamaan kalian dengan Bella, anakku yang menjadi anak kalian selama ini" Gumam Tamara kala itu, dia yang melihat dari kejauhan keresahan dan kesedihan orang tua angkat anaknya, menjadi tidak tega meminta kembali haknya yang selama ini hilang begitu saja.


Tapi disisi lain, Tamara juga merasa berterima kasih karena Barnest dan keluarganya telah menjaga putrinya, hingga sekarang dia tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar, tidak kekurangan kasih sayang keluarga, meski kenyataan itu bukanlah keluarga kandungnya.


Pintu kamar rawat inap terdengar dibuka, membuat Tamar menoleh dan tersenyum kearah Lucia.


"Nyonya?"


"Panggil saja saya Tamara" Sahut Tamara. "Duduk lah disini!" Dia menepuk kan tangannya pada sebuah kursi yang ada di samping kursi rodanya, Lucia pun duduk disana.


"Ma'af, kedatangan saya mengganggu anda" Dia menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Saya kesini, mau mengutarakan apa yang pernah kita sepakati kemarin"


"Hah" Lucia menarik nafas dan membuangnya kasar "Iya saya tau, dan apa persyaratan yang anda maksud itu?" Lucia langsung bertanya.


"Aku tau, Bella bukanlah anak kandung kalian" Tamara sekilas menatap Lucia. Lucia pun terkejut, mengapa ada orang lain yang mengetahui hal rahasia ini, itulah yang difikirkannya.

__ADS_1


"Iya saya tau" Ucap Tamara seakan mengetahui isi hati Lucia "Karena saya ibu kandung putri anda."


Lucia seakan tak dapat lagi untuk mengatakan apa, bibirnya serasa kelu, dan hatinya merasakan sebuah kesedihan, kesedihan seakan ia akan berpisah dengan putri yang selama ini ia rawat dan ia sayangi dengan setulus hati.


"Sebenarnya saya ikhlas membantu Bella, karena kenyataannya, memang dia putri saya. Tentang persyaratan yang saya katakan itu, anda jangan khawatir, karena saya tidak benar-benar memberikan persyaratan itu."


Tamara menundukkan kepala, kemudian kembali menatap Lucia.


"Nyonya Lucia, saya memohon dengan sangat kepada anda, tolong izinkan saya bersama putri saya dimasa tua saya!"


Tamara tidak melakukan pemaksaan, dia tidak akan mengambil paksa putrinya, karena ia tahu, bagaimana perasaan seorang ibu bila dipisahkan dengan sang anak.


"Saya tau anda tidak akan merelakannya nyonya Lucia, tapi sebagai seorang ibu, anda tentu tau, bagaimana rasanya dipisahkan dengan anak kita, anak yang kita kandung, anak yang kita lahir kan dan kita susui, anda pasti tau itu."


Mendengar ungkapan hati Tamara, dia kembali teringat masa silam, dimana dia begitu terpukul ketika putri tercintanya pergi untuk selamanya.


"Jadi saya memohon kepada anda, izinkan Bella bersama saya lagi, saya ingin kembali merasakan menjadi seorang ibu, saya hanya memiliki Bella, tolong mengerti lah nyonya!"


"Ada apa ma?" Barnest yang sudah selesai melakukan rapat online mencari keberadaan istrinya setelah berbicara dengan Megan dan Bella.


"Pa"


"Ada apa sayang?" Barnest duduk di samping Lucia.


"Ini pa, kamu pasti ingatkan dengan nyonya ini?"


"Iya ma, papa ingat, memang ada apa?"


"Begini pa, nyonya ini telah menyampaikan persyaratan nya" Lucia menjatuhkan air mata, kemudian menangis.


"Memangnya apa persyaratan nya ma?" Tanya Barnest was-was, bagaimana tidak, pastilah syaratnya tidak mudah sampai membuat istri tercintanya menangis.


"Nyonya ini ingin mengambil Bella."


"Apa? ini tidak masuk akal, kenapa putri kami yang anda mau? kenapa bukan uang yang anda minta pada kami? kami tidak akan memberikan putri kami" Barnest sedikit emosi mendengarnya.

__ADS_1


Lucia yang masih menangis mencoba berbicara, menjelaskan semua yang telah di katakan oleh nyonya Tamara padanya tadi, tentang Bella dan tentang keinginannya ingin bersama Bella.


*****


__ADS_2