(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
38. Siapa mereka?


__ADS_3

Waktu semakin berjalan, hari pun sudah berganti minggu, mereka sudah beberapa kali bertemu. Berharap akan tumbuh cinta dihati Bella, akan tetapi tetap saja tidak ada perubahan di dasar hatinya.


malam ini mereka kembali bertemu, janjian disebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari kediaman Bella.


Baru saja keluar dari mobil, dan melangkah menyusul Bella yang sudah lebih dulu masuk kedalam, si pria menabrak seorang perempuan.


"Kamu!" Seru perempuan itu yang juga membawa anaknya.


Dia menarik lengan sang pria yang hendak pergi meninggalkan nya.


"Dasar pria brengsek, kemana saja kamu selama ini hah? lihat ini!" Dia menunjuk seorang anak kecil yang ada disebelahnya.


"Lihat ini! anak yang tidak kamu akui. Memang dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, laki-laki bajingan kamu." Makinya melampiaskan kemarahan yang selama ini ia rasakan pada si pria.


Melihat wajah imut nan polos itu, si pria seperti merasa bersalah karena tidak mau mengakui dan tidak mau mempertanggung jawab kan benih yang ia tanam di rahim seorang perempuan yang ia janjikan akan menikahinya.


Hatinya seperti ingin meminta maaf dan memeluk serta mencium si kecil yang ada dihadapannya.


Hatinya mengatakan, kalau anak itu adalah darah dagingnya. Karena memang, wajah kecil itu sangat lah mirip dengan wajahnya di waktu kecil dulu.


"Siapa namanya." Dia bertanya pada si wanita, tapi matanya terus memandang wajah tanpa dosa itu.


"Kenzi," sahut si perempuan. Hatinya masih merasakan sakit ditinggalkan di saat dia telah menyerahkan segalanya ke pada si pria.


"Om ini siapa ma?" tanya si kecil yang umurnya berkisar tiga tahun lebih itu.


"Ini papa nya Kenzi, Sayang," jawab si wanita dengan senyuman.


Meskipun tanpa suami, tapi dia tetap menyayangi sang anak. Awalnya dia memang tidak mau menerima kehadiran anak tanpa ayah itu.


Tapi makin hari, keaktifan dan kecerdasan sang buah hati membuat cinta dan kasih sayang itu tumbuh subur. Hingga dia bisa menerima dan mengikhlaskan takdirnya.


Tapi pertemuannya dengan sang mantan, membuat luka dan benci serta marah itu kembali hadir.


"Papa ... Papa kemana aja, Enji pengen peluk Papa," serunya dengan riang. Kenzi pun memeluk pria yang katanya adalah ayahnya.


Karena dia masih kecil, pelukan Kenzi hanya sebatas kaki sang pria, lebih tepatnya sebatas pinggang kebawah yang dapat ia jangkau.

__ADS_1


Si pria tidak menolak pelukan itu, dan juga tidak membalas nya. Dia hanya diam memandang makhluk kecil yang sedang memeluknya dengan erat. Dapat ia rasakan, pelukan rindu si kecil itu.


"Mas ... kamu ngapain?" Panggilan seseorang mengejutkan nya. Dengan refleks dia melepas pelukan sang anak.


"Eh Bell ... kamu ngapain balik kesini?" tanya nya dengan gugup. Bukan nya menjawab, si pria malah balik bertanya.


"Ini ... handphone ku ketinggalan di mobil. Siapa mereka?" tanya Bella memandang si wanita dan anaknya dengan bergantian. Hatinya mulai berkata bahwa ada yang tidak beres.


"Papa ... papa ayok kita pulang. Enji mau tidul sama Papa," ucapnya lugu.


"Papa ...?" Bella terkejut mendengar panggilan sang anak kepada calon suaminya.


"Jadi sekarang ini sasaran mu? eh dengar ya ... siapa namamu tadi, Bella ya?" ucap si wanita memandang Bella. "Tidak usah kamu menjalin hubungan dengan dia, dia ini pria brengsek." Tunjuk nya pada wajah si pria.


"Apa maksudmu? Mas ... tolong jelaskan siapa mereka?" Bella memandang wajah yang ada di sampingnya, meminta penjelasan.


"Aku Je - "


"Ah ... bukan siapa-siapa kok Bell. Aku rasa anak ini merindukan ayah nya. Dan perempuan ini, seperti perempuan-perempuan lain yang suka mengejar-ngejar aku. Kamu kan tau sendiri, selama ini para perempuan banyak yang mengejar-ngejar aku, tapi aku tidak mudah tertarik pada mereka. Cuma kamu yang bisa membuat aku jatuh hati," terangnya berbohong, mencoba membuat Bella perceya dengan ucapannya.


"Ayo masuk." Dia menarik tangan Bella yang masih berdiri disana. Seperti ingin bertanya banyak tentang apa yang diucapkan wanita itu tadi.


Kenzi menggapai tangan kekar itu dengan kedua tangannya, tapi tangan kekar menepis kedua tangan mungil itu. Tangisnya pun pecah, tapi sang ibu dengan sigap memeluk dan menenangkan nya.


mendengar tangis sang anak, si pria ikut merasakan perih dihatinya. Hanya saja dia tidak mau mengakui semua nya, mengakui itu darah daging nya, karena dia tidak ingin kehilangan Bella.


"Ayo Bell." Dia kembali menarik tangan Bella yang terlihat memandang wajah si kecil yang sedang menangis itu.


Tarikan si pria pada tangannya, membuat Bella harus membalikkan badan dan melangkah masuk.


Sebelum menjauh, dia sempat kembali menatap wajah si wanita, ada kesedihan dan juga kekecewaan di wajah itu. Bella kemudian memandang wajah mungil tanpa dosa itu, dia menyadari satu hal.


"Bell ... kok diam, ayok pesan. kok melamun? si mbaknya udah nungguin tuh." Ucapan si pria membuyarkan lamunan dan kecurigaan yang mulai mengganggu hatinya.


"Eh iya, maaf, aku pesan ...." Bella mencari-cari menu yang pas untuk nya malam ini. Dan setelah beberapa saat menelusuri buku menu, Bella menentukan pilihannya.


"Samain aja sama kamu mas," ucapnya pada akhirnya, kemudian meletakkan kembali bulu menu di atas meja.

__ADS_1


"Apa?" Si pelayan terkejut. Dari tadi dia menunggu pelanggan nya memilih menu, eh tau nya malah disamain sama pacarnya, seperti itu lah kira-kira ungkapan hati si pelayan.


Si pria hanya tertawa melihat tingkah Bella yang menurutnya konyol itu.


"Kamu kenapa ketawa mas?" tanya Bella tanpa dosa.


"Kamu itu lucu deh Bella."


"Lucu kenapa mas?"


"Kamu tau ngak? dari tadi si mbak ini nungguin kamu milih menu, eh taunya setelah ditunggu beberapa menit, kamu malah bilang samain aja sama Mas. Harusnya, kalau memang pengen samaan dengan pesanan Mas, kamu bilang aja dari awal, ngak perlu kamu pilih-pilih menunya," terang si pria dengan tertawa.


"Oh iya ya, hehehe ... maaf ya mbak." Bella pun akhirnya menyadari kekonyolan nya.


"Ini semua gara-gara kejadian tadi, bikin aku kepikirann dibuatnya," gumam Bella merasa kesal karena malu.


"Iya mbak, ngak pa-pa. Tunggu sebentar ya, kami siap kan pesanan nya dulu," ucap si pelayan kemudian berlalu dari hadapan pelanggan nya.


"untung aja mereka kaya, dan sudah menjadi langganan disini, kalau tidak, aku tidak akan menunggu mereka memilih menu pesanan selama itu." si pelayan ternyata merasa kesal dengan sikap Bella tadi.


"Kamu kenapa melamun Bella?" tanya si pria melihat Bella kembali termenung.


"Eh ... ngak kok mas. Mungkin aku kecapekan," dusta Bella.


"Owh ... memang nya tadi siang kamu ngapain.?


"Hmmm ..." Bella sedang berfikir, mencari ide untuk jawaban dari pertanyaan itu.


"O iya ... aku tadi bantu mama membersihkan taman bunga."


"Owh."


"Mas ... aku mau nanya boleh?"


"Nanya apa? tanya aja."


"Perempuan dan anak kecil tadi itu siapa?"

__ADS_1


*****


__ADS_2