(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
09. Tower Bridge


__ADS_3

"Apa...?" Ucap Megan dan Bella serentak, mereka saling lirik. Berbeda denga Clara, dia merasa senang, karena hasutannya tadi akan membuahkan hasil.


"Jangan kayak zaman Siti Nurbaya deh gradma, sekarang udah modern, ngak ada main jodoh-jodohan !" Omel Megan, dia memang tidak pernah serius jika berbicara dengan Alice, tapi Megan sangan menyayangi neneknya itu. "Grandma tau kan kisah Siti Nurbaya?"


"Kamu itu ngak becus urusan hati dan perempuan Megan, biar grandma jodohkan saja kamu sama cucu temannya grandma ini, Clara, lagian kalian udah pernah dekat juga" Ucap Alice tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Bella yang mendengar perjodohan itu, merasa ada yang lain dihatinya, merasa tidak ikhlas dengan perjodohan tersebut.


"Tidak usah grandma, aku sudah punya calon"


"Kalau memang kamu sudah punya calon, kenalin sama grandma, dan secepatnya kalian menikah" Alice terus memaksa


"Apa kamu tidak kasihan dengan kami yang sudah tua ini? aku juga pengen menggendong cicit Megan" Ucapnya lagi dengan wajah dibuat sendu.


"Iya, iya, aku tahu, kami akan menikah satu tahun lagi, dia masih kuliah, jadi aku harus menunggu nya selesai kuliah" Ucapan Megan kali ini benar-benar membuat Bella serasa kebakaran, hatinya panas mendengarnya.


"Bella kekamar dulu, capek, mau istirahat."


Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Bella beranjak meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.


"Udah ya grandma, aku juga mau istirahat, capek" Megan pun berdiri hendak meninggalkan ruang tamu.


"Ya sudah, ingat ya Megan, jika satu tahun lagi kamu tidak juga menikah, maka kamu harus terima perjodohan dari kami!"


Megan hanya mengangguk dan pegi menuju kamarnya dan meninggalkan Clara dengan rasa kecewa.


"Aku benar-benar minta ma'af pada kalian, seperti nya Megan sudah punya pilihan sendiri, aku pikir tadi, dia masih menjomblo" Alice benar-benar merasa tidak enak hati pada sahabatnya.


"Tidak apa, hati memang tidak bisa dipaksakan, dan jika Megan bukan jodohnya Clara, dia harus mengikhlaskan nya" Ucap Akaylee mengusap bahu cucunya.


Meskipun kecewa, tapi Clara tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Megan sudah menentukan pilihannya, dia hanya mengangguk kan kepalanya ketika disuruh megikhlaskan.


Setelah kepergian Megan dan Bella,mereka berbincang-bincang membahas kehidupan Alice dan Akaylee sa'at muda, dan tidak lagi membahas tentang rencana perjodohan cucu mereka.


Mereka menikmati kebersamaan yang telah lama tidak terjadi dengan canda dan tawa dan juga makan bersama hanya dengan mereka bertiga, setelah merasa puas, Akaylee dan cucunya berpamitan untuk pulang.


***


Di dalam kamar, Bella benar-benar merasa aneh dengan dirinya, apakah dia cemburu pada kakaknya sendiri, bahkan air matanya tanda disadari telah terjatuh di sudut matanya, membayangkan kakaknya akan menikah dengan perempuan lain.


"Apa aku sudah gila, apa karna aku tidak juga memiliki kekasih di usiaku yang udah segini, membuat aku sedikit....." lirih Bella frustasi. "aahh"


"Oh hati, jangan bodoh, jangan menentang takdir, "


Dengan perasaan kacau, Bella memilih menulis, menuangkan kegelisahan hatinya di buku diary kesayangan.


"aku pikir setelah jauh darimu, bisa membunuh perasan aneh dihati ini, nyatanya, semakin jauh darimu, membuat aku semakin rindu padamu, hadirmu sa'at ini membuat rindu ini terobati, aku seperti wanita bodoh, menaruh hati pada kakak sendiri, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan nya, mengendalikan hatiku ini, semoga ada jalan untuk ku, entah untuk ku bersamamu, atau mengikhlaskan mu, kakakku tersayang, terkadang aku bertanya, mengapa aku harus menjadi adikmu, dan mengapa harus aku menyukaimu?, hanya saja aku tak tahu jawabannya, tapi terkadang hati ini berkata, perasaan mu tidak salah, entahlah aku tidak mengerti, semoga aku tidak menentang takdir".


Setelah selesai mencurahkan isi hatinya, Bellapun menyimpan diary nya dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


drrttt, drrttt, drrttt

__ADS_1


Baru saja mendudukkan dirinya di atas kasur, handphone Bella tiba-tiba berdering.


"Ya kak"


"jalan-jalan keluar yuk!" ajak Megan.


"kemana?"


"Tower Bridge, kakak rindu pengen kesana, kita pergi nanti malam, sekarang kamu istirahat aja dulu!"


Tanpa bisa mengelak, dengan terpaksa, Bella mengiyakan saja ajakan kakaknya.


Untuk sa'at ini, dia akan mengistirahatkan tubuh dan hatinya dulu, karna dia merasa lelah, terutama hati dan fikirannya.


Jam enam sore, Bella dibangunkan dengan suara ponsel nya, ternyata Megan yang menghubungi, menyuruh dia untuk bersiap-siap.Sebelum jam tujuh mereka sudah berangkat ketempat tujuan.


"Mau kemana sayang?" Tanya Lucia, dia yang baru pulang sore tadi dari urusan bisnis bersama suami, duduk diruang keluarga besama dengan suami dan mertuanya.


"Kak Megan ngajak jalan-jalan ma, besokkan dia mau balik"


"Ya sudah, hati-hati, jangan terlalu larut pulangnya!"


"Ya ma" merekapun pamit, Bella mencium semua yang ada di ruang keluarga, sedangkan Megan hanya pamitan saja.


***


Tiba di tempat tujuan, mereka memarkirkan mobil ditempat yang seharusnya, kemudian keluar dan duduk di sebuah bangku yang menghadap kesungai.


Disana terlihat jelas ada jembatan yang membentang di atas sungai, dimana jembatannya menggabungkan dua desain jembatan yaitu angkat dan gantung, Jembatan bawah akan terangkat jika ada kapal yang akan melewati nya.


"kak!"


"heum"


"Bener kamu mau nikah? sama siapa?" Akhirnya terlontar juga pertanyaan yang mengganggu dihatinya.


Megan melirik Bella sekilas, lalu tersenyum "Iya, dia masih kuliah, kakak harus sabar nunggu dia selesai wisuda"


Menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, "Tapi kakak ngak tau, apakah dia mau sama kakak atau tidak"


"Memangnya siapa perempuan itu?" menarik nafas, menahan rasa kecewa, karna dia berharap apa yang diucapkan Megan di siang tadi hanyalah kebohongan, tapi kenyataannya, itu memang nyata.


"Nanti kamu juga akan tahu"


"Kalau kakak nikah, pasti ngak sayang lagi sama Bella, dan bisa jadi lupa sama adiknya" Tanpa disadari, air matanya menetes begitu saja, dengan sigap dia mengusapnya dari pipinya, agar Megan tidak melihat kesedihan nya.


Mendengar suara adikya sedikit parau, Megan pun menoleh dan menatap wajah Bella, dibawah cahaya lampu yang temaran, tapi masih bisa terlihat jelas cairan bening menetes disudut wajah sang adik.


"Hey, kenapa nangis?" Megan menangkup pipi Bella dengan kedua telapak tangannya, membuat mereka saling bertatapan, membuat Bella semakin tersedu.


"Udah jangan nangis! kakak akan menikahi perempuan yang kamu sukai, dan kakak ngak akan menikah jika kamu tidak menyukai perempuan yang akan jadi ipar mu itu!"

__ADS_1


Megan memeluk sang adik dari samping, menyandarkan kepala Bella dibahunya, membuat bajunya sedikit basah oleh air mata Bella.


"Kakak janji akan selalu menyayangi mu, dengan siapapun kakak menikah, tak akan pernah kakak mengabaikan apalagi sampai melupakan mu, adik ku yang cengeng"


Sontak Bella mengangkat kepala karna di bilang cengeng "enak aja bilang cengeng, huh" Bella memanyunkan bibirnya, dan suasana pun sedikit mencair.


"Ngak mau ngaku lagi, lihat baju kakak, basah karna ingusmu" Megan pun menunjukkan bajunya yang memang basah, dan kemudian tertawa.


"ish, itu bukan ingus, tapi air mata" Bella merajuk dengan melipat tangannya didada seperti anak kecil. membuat Megan gemas melihatnya.


"Nah kan?, ngaku juga nangis, berarti cengeng namanya itu" Megan pun menyapukan telunjuknya di hidung Bella.


"Jajan yuk!" Megan menarik tangan Bella ketika mendapat anggukan dari Bella, dan pada akhirnya, mereka menghabiskan waktu seperti dahulu kala, dengan canda tawa, bahkan saling kejar-kejaran diatas jembatan,dan melupakan sejenak perasaan masing-masing.


jika orang-orang memperhatikan, maka akan menganggap mereka pasangan yang sangat romantis.


"Kak, udah larut, pulang yuk! kelamaan, nanti mama marah!"


Dan benar saja, ketika menengok jam tangan mewah nya, Megan sedikit terkejut karna jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Meskipun sama-sama berat hati, tapi pada akhirnya mereka sepakat untuk pulang.


"Besok kakak balik, dan ngak akan bertemu lagi dalam waktu lama, pasti Bella sangat merindukan kakak"


"Memang kamu rindu kakak?"


"Iya lah, memang kakak, yang ngak rindu sama adiknya?"


"Kakak memang ngak merindukan mu, tapi sangat merindukanmu, lebih dari yang kamu rasa" Ucap Megan jujur.


Mereka tetap berbincang hingga tanpa terasa mobil telah memasuki kawasan perumahan elit.


***


"Kakak balik ya, kamu hati-hati sini, dan jangan terlalu percaya dengan orang lain" Megan mencium kening adiknya kemudian memeluknya erat.


"Tania, tolong jaga adik saya dengan baik!" Ucap Megan pada seorang perempuan yang berada dibelakang Bella, Dia adalah pengawal untuk Bella.


"Baik tuan"


Megan melambaikan tangan dan berbalik meninggalkan Bella dan ajudannya.


"Kita balik nona?" Bella pun hanya mengangguk.


Sa'at berjalan menuju mobil, seseorang memanggilnya.


"Nona Bella?" Seseorang mengulurkan tangannya. "Apa kabar Nona Arabella Hernandez?"


"Iya" Dengan perasaan bingung, karna ia tak mengenal orang tersebut, Bella tetap menyambut uluran tangan itu. "Saya Arabella Stewart, ma'af, mungkin anda salah orang!" Ucap Bella.


"Saya tidak salah, sudah lama kami mencari anda nona, tapi kamu baru menemukan nona sa'at ini" Ucap seseorang itu mengangguk sopan. "nyonya sangat merindukan anda nona Bella".

__ADS_1


"Apa? nyonya?" Bella mengernyitkan alis tak mengerti, bagaimana mungkin ibunya merindukannya, sedangkan sang ibu bersamanya selama ini


*****


__ADS_2