
"Apakah semua ini adalah kebenaran yang sebenarnya? apa anda tidak sedang mencoba membohongi saya?" tanya Bella mencoba meyakini dirinya bahwa semua yang dikatakan Jefry tidaklah benar.
"Benar nyonya Arabella Hernandez."
"Jadi benar saya bukan keluarga kandung Stewart?" tanya Bella kembali meyakinkan.
"Benar nona," Jefry berucap dengan senyuman seakan dia sedang bertatapan muka dengan lawan bicaranya.
Bella luruh kelantai. Setelah mematikan sambungan telepon, dia menangisi nasibnya. Dapat ia rasakan kesedihan seorang ibu yang merindukan anaknya.
Bagaimana tidak, Tamara tidak mengetahui dima anaknya, tapi jika dia mengetahui jika putri nya telah meninggal,mungkin dia bisa lebih mengikhlaskan kepergian sang anak, tapi ini tidak, Bella entah dimana, dan harapan untuk pertemuan dengan anaknya selalu menghantui Tamara.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lucia yang tiba-tiba telah berada didekat Bella, dia membelai rambut anaknya, tapi sang anak malah membuang muka, mengusap kasar air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Kamu kenapa nak? ada yang sakit?" tanya Lucia lagi terlihat cemas.
Bella kemudian menatap ibunya, seketika air matanya kembali berjatuhan, membuat Lucia semakin panik.
"Bella kenapa nak? bilang sama mama apa ada yang sakit."
Melihat kecemasan diwajah Lucia, hati Bella dilanda keraguan, apa benar orang yang selama ini yang sangat menyayanginya ternyata orang yang telah memisahkannya dengan ibu kandungnya.
"Ma, Bella ingin bertanya, tapi tolong jawab dengan jujur, jangan membohongi Bella!" ucap Bella dengan lirih menahan kesedihan hatinya.
"Iya sayang, ada apa? kamu ingin menanyakan apa?"
Bella kemudian menunduk, menatap kertas yang berserakan dilantai yang tidak disadari oleh Lucia yang sedari tadi.berada disebelah anaknya.
Bella memungut kertas itu, kemudian menyerahkannya pada Lucia.
__ADS_1
Lucia terkejut ketika hal pertama yang dilihatnya adalah foto Bella kecil, persis seumuran ketika mereka membawa Bella pergi, dan menjadikan Bella anak mereka.
Melihat ekspresi dari wajah sang mama, Bella menjadi yakin kalau yang diucapkan Jefry bukanlah sebuah kebohongan.
Lembar demi lembar dilihat Lucia, dan tiba sa'at dia melihat akta lahir Bella, Lucia menangis, karena dia merasa putrinya telah mengetahui sesuatu yang selama ini ia dan suaminya sembunyikan.
"Jadi benar ma, Bella bukanlah anak kandung mama?" tanya Bella beruraian air mata.
Lucia menggeleng, menepis kenyataan yang ada, tapi air matanya tak dapat menutupi kenyataan itu.
"Kamu adalah anak mama sama papa, selamanya akan menjadi anak kami" ucap Lucia menangis kemudian memeluk erat putrinya seakan tidak rela kalau Bella akan meninggalkan nya.
Bella mencoba melepas pelukan sang ibu, sa'at ini dia benar-benar ingin mendengar kenyataan dari mulut mamanya.
"Bukan itu maksud Bella, apakah benar Bella bukan anak kandung kalian?"
Lucia tidak dapat menjawab pertanyaan Bella, karena dia juga tidak ingin Bella membencinya dan juga suaminya, karena telah memisak kan Bella dan ibu kandungnya.
"Siapa yang memberikanmu ini nak?"
"Tidak penting siapa yang memberikannya, yang terpenting adalah kenyataan yang sesungguhnya, Kenyataan bahwa orang yang selama ini Bella sanjung, ternya mereka penjahat, penjahat yang telah dengan rela memisahkan anak dan ibunya."
"Bella, jangan ngomong gitu sayang, mama sama papa terpaksa membawa kamu, karena waktu itu ibumu dalam keadaan koma" Lucia mencoba menjelaskan agar Bella tidak salah salah faham padanya.
"Jika memang waktu itu mama terpaksa membawa Bella karena keadaan ibu kandung Bella, seharusnya kalian tetap harus memantau keadaan nya, dan minta izin padanya atau keluarga nya jiga ingin merawat Bella. Selama bertahun-tahun dia mencari dan merindukan anaknya, setiap hari hanya meratapi kesedian, kehilangan suami, kehilangan anak, ditambah kehilangan kakinya. Apa mama tidak berfikir bagaimana gelisah nya dia sa'at mengetahui anaknya telah hilang? apa mama tidak memahami kesedihan seorang ibu? harusnya mama paham itu!" ucap Bella yang diakhiri kalimat bentakan.
"Iya, mama akui mama sama papa memang salah, saat pertama melihatmu, mama seperti kembali menemukan putri kecil mama yang telah meninggalkan dunia ini" Jujur Lucia.
"Apa maksud mama, putri siapa yang mama bilang?"
__ADS_1
Bella tentu saja terkejut mendengar perkataan Lucia, selama ini dia tidak pernah mengetahui kalau Lucia memiliki seorang putri, dia juga tidak pernah melihat foto atau apapun yang bersangkutan dengan putri Lucia itu.
Lucia dan Barnest benar-benar telah menghapuskan semua tentang putri kecil mereka dimasa lalu dan menggantikannya dengan Bella.
Lucia menceritakan bagaimana keadaan anaknya waktu itu yang memiliki penyakit berat dan pada akhirnya tidak sanggup lagi melawan penyakit itu.
Sampai pada akhirnya Lucia dan Barnest menemukan Bella dan berniat mengadopsi nya, tapi niat adopsi secara sah tidak terwujud lantaran mereka harus ke Inggris, dan juga prasangka bahwa keluarga nya tidak mungkin mengizinkan mereka membawa Bella, serta tekad dan keinginan Lucia yang bulat untuk memiliki gadis kecil itu, dengan tanpa persetujuan keluarga Bella, mereka membawanya begitu saja dan menjadikan Bella anak mereka.
"Maaf kan mama sayang, karena begitu bahagia, hingga waktu itu mama tidak terfikir kan akibat dari tindakan kami" Lucia kembali memeluk dan menciumi wajah putrinya yang pada kenyataannya memang tidak ada kemiripan dengan dirinya.
"Ibu mu memang sudah menemui mama."
Bella kembali terkejut," jadi mama sudah bertemu dengan ibu Bella?"
"Iya sayang, selama kamu dirumah sakit, dia sering mengawasi kamu, terkadang juga menanyakan keadaan mu nak. Dan juga... darahnya lah yang telah menyelamatkan nyawamu."
Bella mengangkat kepala, menoleh dan menatap wajah Lucia, meminta penjelasan padanya.
"Iya nak, ibumu telah menolongmu, dia lah yang telah mendonorkan darahnya padamu."
Hati Bella semakin merasakan kesedihan, betapa begitu tulus cinta dan kasih seorang ibu yang telah melahirkannya, hingga dia masih rela memberikan darahnya untuk menolong putrinya, meskipun selama ini mereka telah dipisahkan ruang dan waktu, tapi cinta dan kasih itu tidak pernah luntur.
"Bella ingin bertemu dengannya!"
"Iya sayang, kita akan menemui ibumu, tapi kamu harus bersabar hingga kamu benar-benar fit, dokter kan sudah bilang, Bella belum boleh bepergian jauh, sementara ibumu sekarang sudah di Indonesia" Lucia mencoba memberi pengertian pada Bella.
"Tapi mama bilang beliau yang sudah mendonorkan darahnya dan juga sering mengawasi Bella, itu artinya beliau di negri ini kan?"
"Iya betul, tapi setelah mengetahui kamu sudah kembali kerumah, tidak lagi dirumah sakit, dia juga memutuskan kembali ke tanah air."
__ADS_1
Lucia kembali merasakan kesedihan, perpisahan nya dengan sang anak terasa semakin dekat, dia seperti tidak rela harus kehilangan putri nya untuk kedua kali, apa yang harus dilakukannya. Dan pada akhirnya, hanya Air mata lah yang mempu keluar.
*****