
"Ma'af tuan dan nyonya, saya bukan ingin mengambil, saya hanya minta diizinkan bersama lagi dengan putri saya, saya sangat merindukannya" Tanpa terasa, wajahnya pun telah basah dengan air mata.
"Kenapa saya meminta izin? karena bagaimanapun juga anda berdua telah mengasuh putri saya dengan baik, meskipun kalian mengambilnya dengan cara yang tidak benar"
Barnest dan Lucia saling pandang dalam diam, mereka ingat ketika memutuskan mengambil Bella dan tidak mau menyerahkannya pada ibu kandungnya waktu itu.
Ada rasa sesal dihati mereka, karena telah begitu tega memisahkan seorang ibu dengan putrinya, merekapun merasakan betapa tersiksanya seorang ibu harus kehilangan anaknya, apalagi hilang tak tahu rimbanya.
"Tapi Bella sekarang masih belum pulih, dia masih harus dirawat" terang Barnest terdengar lemah.
"Saya tau tuan, saya akan menunggunya hingga benar-benar pulih, agar dia juga siap mendengar kenyataan yang ada nantinya"
"Baiklah, kami akan memberitahukan jika dia benar-benar sudah pulih, seperti yang anda bilang, dia benar-benar harus sehat fisik dan mentalnya, agar dia kuat menerima kenyataan ini."
"Anda tidak perlu memberitahukannya, karena saya akan selalu memantau melalui orang suruhan saya."
Setelah beberapa sa'at mereka berbincang, Tamara pergi meninggalkan dua orang yang diliputi kesedihan akan kehilangan putri mereka, meskipun belum tahu kapan pastinya.
"Mama sama papa ngapain diluar? siapa perempuan yang dikursi roda tadi?" tanya Megan sa'at kedua orang tuanya memasuki kamar rawat.
"Oh itu... teman mama, dia mau menjenguk Bella, tapi katanya mau nungguin suaminya dulu, eh taunya setelah datang, suaminya langsung mengajak balik, katanya dia ada rapat dadakan" Lucia mengarang cerita. Megan hanya mengangguk mendengarnya.
"Adikmu tidur?" tanya Barnest.
"Iya pa, biarkanlah, dia kelihatan sangat lelah. Papa sama mama kenapa terlihat sedih begitu? apa ada sesuatu yang telah terjadi?" Megan bertanya lantaran melihat raut wajah berbeda dari kedua orang tuanya.
"Mungkin mama sama papa kecapekan, kamu kan tau, selama adikmu belum siuman mama sama papa benar-benar tidak bisa istirahat," bohong Lucia lagi.
"Kalau begitu, mama sama papa tidurlah dulu! istirahatlah diri kalian!"
"Iya mama sama papa istirahat dulu."
Lucia dan Barnest melangkah kesebuah ruangan yang ada di kamar rawat Bella, dan membaringkan diri disana.
Akhirnya mereka bisa mengistirahatkan tubuh
mereka berdua beberapa sa'at.
***
__ADS_1
Sore hari, sa'at semua berkumpul termasuk nenek dan kakek Bella, mereka baru sampai di rumah sakit itu. Tiba-tiba ponsel Barnest berdering, dia sedikit menjauh melangkah keruang tamu, dan segera mengangkat panggilan.
Selesai menerima panggilan, aura Barnest seketika berubah, seperti seseorang yang sedang menahan amarah besar.
"Ada apa pa?" Lucia yang menyusul melihat suaminya yang duduk dikursi seperti sedang menahan marah.
"Ma, papa harus ke Indonesia, ada masalah disana." Terang Barnest.
"Masalah apa pa? Perusahaan?"
Barnest mengangguk. "Megan kan belum bisa melakukan perjalanan jauh, jadi biar papa yang urus untuk sa'at ini!"
"O begitu, kapan papa berangkat?"
"Malam ini ma," Lucia hanya mengangguk pertanda mengizinkan. Dia begitu percaya pada Barnest, sehingga ia tidak pernah menaruh curiga pada suaminya itu.
Selama ini Lucia tidak pernah melarang apapun yang akan dikerjakan suaminya. Dan Barnest juga laki-laki yang bisa dipercaya, meskipun mendapat kebebasan dari sang istri, ia tidak pernah menghianati Lucia.
***
Malam pun tiba, Bella dan Megan merasakan ada yang kurang.
"Oh iya mama lupa bilang, papa ke Indonesia, katanya ada masalah disana."
"Masalah apa ma?" tanya Megan penasaran.
"Kayaknya perusahaan, memangnya ada masalah apa dengan perusahaan Megan?" Lucia balik bertanya.
"Tidak ada ma, selama ini masih kondusif," terang Megan. Mereka terdiam beberapa saat.
Megan merasakan ada sesuatu hal yang penting, tapi hatinya berkata bahwa perginya papanya ke Indonesia bukan masalah pekerjaan, tapi ada hal lain yang lebih penting.
"Sudahlah, mungkin ada hal yang benar-benar harus diatasi papa kalian, ayo makan!" mereka yang memang ingin makan malam, melanjutkan aktifitas itu.
"Mama makan aja, biar Bella makan sendiri!"
"Sudah biar mama saja, kamu lagi sakit!"
Bellapun tak dapat menolak, suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya, hingga tinggal separuh nya.
__ADS_1
"Udah ma, Bella udah kenyang, sekarang mama makan ya!"
"Baiklah, Megan, kamu juga udah selesai?"
"Udah ma."
Lucia pun makan seorang diri, bukan seorang diri sih, karena masih bersama Bella dan Megan, hanya saja mereka sudah selesai makannya.
"Kak, ceritain donk gimana keadaan kakak habis kecelakaan itu! apa kakak sempat pingsan juga?"
Bella penasaran dengan keadaan kakaknya setelah peristiwa yang menimpa mereka. Mereka memang sudah selesai makan termasuk sang mama yang tadi ketinggalan makannya.
"Iya kakak juga sempat pingsan, waktu masih didalam mobil kakak masih sempat memanggil namamu, tak lama setelah itu, semua terasa berputar, dan akhirnya menggelap," terang Megan.
"Tapi untungnya kakak ngak sampai terluka parah, hanya luka bagian luar, ini," dia menunjuk keningnya yang masih diperban.
"Kamu tau ngak sayang?" ucap Lucia melirik Megan, Dia ingin bicara dengan Bella, tapi matanya melirik Megan.
"Tau apa ma?" tanya Bella penasaran.
"Kakak kamu ini, sangat frustasi mengetahui kamu kritis, dia menangis meraung-raung tak peduli tatapan orang padanya. Dia juga membanting apa aja yang ada didekatnya, sampai mama yang harus bersusah payah menenangkannya" jelas Lucia.
"Oh ya?" tanya Bella seakan tak percaya kakaknya yang terlihat garang bisa juga menangis. "Memangnya kakak juga bisa menangis?" ledek Bella yang membuat Lucia tertawa tapi Megan hanya mencebik kesal.
"Iya sayang, mama juga ngak nyangka kakak mu sampe kayak gitu. Dan kamu tau? dia juga meninju dinding sampai tangannya terluka."
"Ish kakak, ngak boleh kayak gitu ah, kalau tangannya kenapa-kenapa gimana? kakak harus kontrol emosi!"
"Iya tau, waktu itu kakak benar-benar kalap, entahlah, hati dan fikiran kakak sudah sangat diliputi kesedihan dan juga kecemasan," terang Megan seraya mengelus punggung tangan adiknya yang terpasang selang infus, sementara mamanya di sebelahnya lagi.
"Cemas kenapa?"
"Cemas kamu ngak bangun-bangun lagi." Matanya sudah terasa panas, seakan ada yang akan keluar dari sudut matanya, tapi dis segera menepisnya dengan jari jempol.
"Jangan sedih lagi kak! kan Bella udah sadar sekarang," ucapnya tersenyum.
"Lagian kalau Bella ngak bangun-bangun lagi, berarti sudah takdir Bella namanya itu, kakak ngak boleh menyalahi takdir! bukankah setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, dan setiap pertemuan itu ada perpisahan?"
Mendengar ucapan Bella, Lucia menitikkan air matanya, mengingat masa lalu, dimana putri kecilnya dipanggil sang pemilik, dan sebentar lagi Bellapun akan meninggalkannya, kembali pada orang yang telah melahirkannya.
__ADS_1
*****