
"Pikirkan lah tiga bulan ini sayang. Kamu bisa mengenalnya selama tiga bulan ini, dan semoga Bella suka sama dia," ungkap Tamara membelai lembut rambut sang anak.
Sejujurnya dia tidak tega pada sang anak, tapi dia juga tidak punya pilihan. Jika saja Bella sudah memiliki kekasih, tentu saja Tamara tidak akan melakukan perjodohan ini.
"Iya ma, Bella akan coba," ucapnya lirih.
"Tapi jika Bella sudah punya kekasih, maka mama tidak akan menjodohkan Bella. Dan jika belum memilikinya, dan Bella ingin mencari pilihan Bella sendiri, maka mama akan menyetujuinya. Jika dua bulan sebelum perjodohan ini Bella sudah menemukan pilihan, Bella bilang sama mama agar perjodohan nya dibatalkan.''
"Baik ma.'' Hanya kata itu saja yang dapat terlontar saat ini.
Dia juga merasa otaknya sedang buntu, tidak dapat memikirkan solusi yang lain lagi saat ini.
Maka mengiyakan adalah cara Bella memutus percakapan mereka pagi itu, sebelum dia beranjak meninggalkan Tamara yang masih ditaman, melangkahkan kaki dengan gontai menuju kamarnya.
"Maafkan mama sayang, pertemuan kita kembali malah membuat kamu masuk dalam masalah seperti ini, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan. Mama sayang kamu, Nak." Batin Tamara memandang punggung sang anak yang dilihatnya seperti memikul beban yang berat.
***
Dua bulan sudah berlalu, dan benar saja, kecemasan Bella tentang perjodohan itu segera terjadi. Dua bulan ini dia telah mencoba mencari yang sesuai hatinya, tapi sayang, tak dapat ia temukan apa yang ia inginkan.
Dua bulan ini juga dia sudah mengenal sang calon suami pilihan sang mama. Berharap hatinya bisa menuliskan nama sang calon suami walau hanya sedikit.
Tidak ada yang aneh, tidak ada juga prilakunya yang membuat Bella tidak menyukainya, dia baik juga romantis. Hingga seakan tak ada alasan bagi Bella untuk menolaknya.
"Kamu cantik sekali. Aku sangat beruntung diberi calon istri yang seperti bidadari yang diturunkan langsung lari surga."
Seperti itulah kira-kira gombalan sang pria, dan masih banyak lagi yang lain. Tapi dimata Bella, semua seperti orang yang sedang melakukan stand up komedi, yang hanya perlu di tertawa kan.
Bella menyukai sifat dan perilaku sang calon, hanya saja Bella tidak mencintainya lebih tepatnya belum ada benih cinta itu, entah esok nanti, entah lah. Cinta tak dapat dipaksa, karena dia akan menemukan labuhan nya sendiri.
Sebagian hati menyukai, sebagai lagi menolak, karena sang hati seakan berkata, bahwa dia bukan lah jodoh mu.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" ucapnya cemas. "Kak Megan juga ... di telvon juga ngak bisa, heran deh, apa se terpencil itu tempat ia saat ini, hingga sinyal aja tidak ada disana," gerutunya marah seakan Megan ada di hadapannya.
Berulang kali ia mencoba menghubungi sang kakak, akan tetapi, tetap saja tidak tersambung.
Niat hati ingin mengadu pada sang kakak tentang masalah yang dihadapinya, barang kali Megan punya solusi. Tapi Megan benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali. Sungguh membuat Bella merasa jengkel di buatnya.
Akan tetapi, ketika sedang bermenung, dia teringat dengan Lucia, sang mama angkat yang sudah seperti orang tua kandung.
"Coba telvon mama Lucia, mana tau dia punya solusi untuk masalah ini," gumamnya sambil mencari kontak dengan nama mama Lucia di handphone nya. Bergegas dia menghubungi.
"Assalamu'alaikum ma." Sepertinya kebiasaan mengucap salam sudah sedikit dibiasakan Bella.
"Wa'alaikum salam, Sayang, apa kabar?" sahut Lucia di seberang telepon.
"Kurang baik ma," jawab Bella jujur.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Lucia cemas.
"Tidak ma, Bella tidak sakit. Hanya saja ..."
Bella menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya nafas kasar. Seakan ketika menghembuskan nya, beban yang sedang dipikulnya bisa terlepas. "Bella akan dijodohkan ma."
"Kenapa sampai dijodohkan sayang, kamu kan masih muda?" tanya Lucia terkejut sekaligus penasaran.
Dia juga merasa kesal pada Tamara yang mau menjodohkan Bella, karena Bella kan masih dua puluh satu tahun. Lucia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bella sekarang menjadi tanggung jawab Tamara sebagai ibu kandungnya.
"Ini semua demi perusahaan ma. Bella sama mama Tamara mau mengambil kembali perusahaan papa yang dirampas sama om nya Bella itu. Walaupun dia sekarang sudah tiada, tapi semuanya diambil alih sama anaknya," ungkap Bella menarik nafas dalam.
Bella sudah pernah menceritakan tentang perusahaan itu kepada Lucia. Tapi dia lupa menceritakan tentang perjodohan itu. Dan saat ini dia menceritakan yang sedang ia alami.
Selama dua bulan ini Bella tetap bertemu dengan Lucia, kalau tidak Bella yang kerumah Lucia, maka Lucia yang akan nyamperin Bella.
__ADS_1
"Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Bella sekarang menjadi tanggung jawab nya mama Tamara. Dan mama cuma berharap dan berdoa, semoga pilihan mama Tamara yang terbaik untuk Bella." Lucia benar-benar tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Lucia juga tidak memiliki teman yang punya anak lelaki yang mau dijodohkan.
"Iya ma, semoga ini menjadi yang terbaik buat semua."
"Aamiin," sahut Lucia mengaminkan doa sang anak, bagaimana pun, Bella adalah anak yang ditawarkannya selama belasan tahun lama. Jadi dia pun sangat menginginkan yang terbaik untuk sang putri angkat.
"Kak Megan kenapa ngak bisa dihubungi ya ma?" dia yang penasaran langsung menanyakan perihal Megan yang tak bisa dihubungi.
"Megan memang berada di pulau terpencil, disana memang belum ada sinyal, jadi memang tidak bisa dihubungi jika dia berada di Pulau. Tapi jika dia ke perbatasan, maka Megan akan menghubungi mama," terang Lucia.
"Rencana Megan akan mediri kan tower disana, agar masyarakat yang berada di dekat sana tidak susah lagi jika ingin menghubungi saudara nya yang jauh," terang Lucia lagi menjelaskan sedikit keadaan ditempat Megan membuka cabang usahanya.
"O gitu, pantas ngak bisa dihubungi."
"Ia, papa bilang gitu. Dan sekarang papa lagi ke Inggris. Grandma katanya sakit."
"Ya ampun, sakit apa ma, kapan kita kesana buat nengokin grand ma? Bella juga kangen sama mereka," Bella sangat menyayangi sang nenek, maka dari itu, dia akan merasa sangat sedih jika mendengar orang yang disayanginya mengalami sakit.
"Kita tunggu kabar dari papa ya."
"Baik ma. Ya sudah, Bella matiin ya."
"Ya sayang. Terus berdoa dan bersabar ya."
"Iya ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Sepertinya memang aku harus menerima perjodohan ini. Mungkin ini memang lah takdirku," batin Bella. Kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskan nya.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita jalani takdir ini," serunya lagi, untuk menyemangati diri sendiri agar kuat menjalani semua, termasuk jalan takdir dan jodohnya.
*****