
Di dalam kamar, Megan belum bisa memejamkan matanya, masih merasakan dilema dengan kenyataan yang baru ia ketahui, lebih tepatnya baru ia sadari.
"Kenapa aku sedikit merasa senang menyadari Bella bukan adikku?" gumam Megan.
Disisi lain, Bella juga belum bisa memejamkan matanya, ia juga merasakan hal yang sama, ada perasaan lega yang ia rasa, karena Megan bukan kakak kandungnya, seperti terlepas dari sebuah belenggu.
Meskipun ia juga sedih, ternyata Barnest dan Lucia bukanlah orang tua kandungnya, padahal mereka begitu menyayanginya, tidak sedikitpun terlihat jika Bella bukanlah anak kandung mereka.
"Kak Megan, aku bahagia kamu bukan kakak kandungku, karena aku menyadari, ternyata sayangku bukan sayang adik untuk kakaknya, hatiku mengatakan lebih dari itu. Selama ini aku menepisnya, karena aku takut membuat orang tua kita sedih.Tapi takdir berkata lain, ternyata cintaku bukanlah cinta terlarang," gumam Bella tersenyum dalam tangis, sebelum akhirnya menarik selimut dan menutup mata untuk tidur.
***
"Pa, apa masih lama?" tanya Bella karena mereka belum juga sampai ditempat tujuan.
"Sabar nak, ini juga lagi macet, ngak jauh lagi kog, sebentar lagi nyampe," Barnest mencoba memberi pengertian pada Bella, karena ia terlihat tidak sabaran.
Setelah lepas dari macet dan menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah berlantai dua, rumah itu terlihat mewah meski tidak sebesar tempat tinggal Bella selama ini. Tapi halamannya cukup luas dan terdapat berbagai macam pohon hasil cangkokan sehingga pohon itu tidak terlalu tinggi.
Didepan pagar, mereka disambut oleh securiti dan menanyakan apa kepentingan mereka, Barnest menjelaskan jika dia ingin bertemu dengan nyonya Tamara.
"Tunggu sebentar tuan, karena nyonya tidak memperbolehkan sembarang orang masuk, jadi saya juga tidak bisa begitu saja membukakan gerbangnya. Mohon menunggu sebentar, saya akan menyampaikan dan meminta izin dulu," terang satpam itu.
"Baik, katakan Barnest dan Lucia ingin bertemu!"
Setelah mendengar siapa orang yang ingin bertamu, satpam bergegas pergi untuk meminta izin pada majikannya.
Beberapa sa'at menunggu, terdengar gerbang dibuka, perlahan dan semakin lebar, satpam mempersilahkan mereka masuk. Barnest memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus tamu.
Bella keluar dari mobil, kakinya perlahan melangkah mendekati pintu utama rumah itu, hal pertama yang ditangkap netranya adalah, seorang perempuan paruh baya yang duduk dikursi roda sedang memandang kearah Bella dengan sebuahsenyuman. Tapi yang tidak Bella tahu adalah air mata perempuan itu yang sudah menggenang, karena jarak mereka cukup jauh, sehingga Bella tidak melihatnya.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu mengusap sudut matanya, membuat Bella menyadari sesuatu, bahwa perempuan itu sedang menahan tangis, tapi air matanya tidak mampu ia tahan.
Seperti ada yang telah menarik dan menuntun Bella, dengan perlahan tapi pasti, kakinya melangkah mendekati perempuan yang sedang dikursi roda itu.
Semakin dekat dia dapat melihat senyum diwajah perempuan yang telah melahirkannya, yang tidak pernah ia lihat belasan tahun ini.
Tamara merentangkan tangannya, berharap sang anak datang untuk memeluk tubuhnya.
Karena ikatan batin mereka sebagai anak dan ibu, Bella semakin mendekat dengan mata yang sudah basah, dia pun tidak dapat menahan lagi, dia mendekat kemudian menumpukan kedua lututnya di lantai, dan dengan cepatnya Bella memeluk tubuh itu.
"Mama," tangis Bella pun pecah, begitu juga Tamara yang tidak sanggup lagi menahan tangisnya, bukan lagi tangis kesedihan karena merindukan sang anak, tapi tangis haru dan bahagia karena akhirnya dia bisa kembali memeluk putri tercinta yang sudah sangat lama ia rindukan.
Pelukan Tamara terasa begitu erat, seakan melampiaskan perasaannya yang selama belasan tahun ini tidak dapat memeluk putrinya.
"Mama," hanya itu yang bisa ia ucapkan, dia tetap memeluk sang ibu dengan kedua kaki bertumpu pada lantai.
"Ma'afkan mama sayang, mama tidak bisa menjaga Bella, hingga kita terpisah begitu lama, ma'af kan mama yang begitu lama menemukanmu." Pelukan Tamara semakin erat, seakan menandakan kalau ia benar-benar sangat merindukan Bella.
"Tidak mama, ini semua bukan salah mama, Bella yang bodoh hingga melupakan mam."
Tamara melepas pelukannya, kemudian menyentuh dan menangkup kedua pipi Bella.
"Mama sangat bahagia bisa kembali bertemu kamu nak, mama begitu bersyukur masih diberikan umur yang panjang dan kesempatan untuk memelukmu lagi."
"Lebih baik sekarang kita masuk," ajak Tamara
nyonya Tamara, tuan Barnest, nak Megan, mari silahkan."
Merekapun memasuki ruangan, disana Bella masih bergelayut pada sang ibu, terlihat sekali jikalau dia begitu sayang dan begitu merindukan ibunya.
__ADS_1
Sesa'at setelah memasuki rumah, Bella melihat sebuah foto keluarga yang berukuran besar. Didalam foto terlihat seorang gadis kecil dicium pipinya oleh kedua orang tuanya, senyuman si gadis begitu lebar, seperti ia sangat bahagia kala itu.
Mata Bella berhenti pada gambar seorang pria yang umurnya kira-kira tiga puluh limaan, air matanya kembali berlinang.
"Ma... papa," ucapnya terisak.
"Iya sayang, itu papamu mu, sekarang dia sudah tenang, pasti papamu bahagia kerena mama sudah menemukanmu," ucap Tamara tersenyum kearah Bella yang ada disampingnya.
Tidak begitu lama, ART pun datang membawa minuman dan juga cemilan untuk tamu. "Silahkan nyonya dan tuan!"
"Terimakasih," ucap mereka bersamaan.
"Mama sendirian selama ini?" tanya Bella. Hatinya kembali merasakan sedih membayangkan seorang perempuan yang duduk dikursi roda tinggal sendirian, tanpa suami, tanpa anak, tanpa saudara.
"Iya," jawab Tamara tersenyum. "Ngak sendirian sih sebenarnya, mama masih punya teman kog di rumah ini, ada asisten mama, ada bibi, ada bodyguard, ada security," Terang Tamara, agar anaknya tidak perlu mencemaskan yang sudah berlalu, karena kenyataannya, memang selama ini Tamara merasa kesepian hidup dirumah yang besar itu.
"Kasihan sekali mama, ma'afin Bella ya ma, harusnya Bella ada disamping mama." Bella kembali memeluk Tamara.
"Tidak sayang, ini bukan salah kamu, ini takdir kita." Tamara masih tersenyum.
"Kita makan siang dulu yuk." Tamara mengajak tamunya untuk makan karena memang makanan sudah selesai dihidangkan.
Bella kembali merasakan seperti gadis kecil. Bagaimana tidak, ibunya bersikeras untuk menyuapinya, dan tidak memperbolehkan Bella makan sendiri, tentu saja Bella merasa sangat senang. Mereka yang melihat pun juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan Bella dan ibunya.
Selesai makan siang, mereka kembali ke ruang keluarga, merek akan membahas tentang Bella dan Tamara.
"Jadi bagaimana nak, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama mama kan?"
*****
__ADS_1