
"Ma, Bella hari ini mau ke rumah mama Lucia ya," ucap Bella pada Tamara sesaat setelah mereka selesai sarapan pagi.
"Iya sayang, memangnya bener buku Bella itu ketinggalan disana?"
"Ngak tau Ma, mungkin iya, karena semalam Bella cari memang tidak ketemu," jawab Bella seraya menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada diruang keluarga.
"Ya sudah, pergilah, nanti mama minta tolong sama Mang Tono buat anterin Bella," sahut Tamara ikut duduk dikursi sebelah Bella. Dia capek kalau harus dikursi roda terus.
Sesekali Tamara memang tidak menggunakan kursi roda, terkadang dia lebih suka berjalan dibantu tongkat untuk penyeimbang tubuhnya, katanya sekalian olah raga menggerakkan tubuhnya. Kalau terus di kursi roda, badannya terasa kaku karena tidak bergerak.
"Ya Ma, Mama mau ikut ngak?" tawar Bella.
"Lain kali ya, hari ini Mama mau ketemu sama teman. Maksud mama, teman mama mau datang kesini, jadi mama ngak bisa pergi," tolak Tamara.
"Memang jam berapa mau berangkat?"
"Jam sepuluhan lah Ma," jawab Bella sembari melihat jam di HP nya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, dan Bella sudah bersiap untuk berangkat.
"Ma Bella berangkat ya," ucap Bella seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Iya sayang, hati-hati ya." Tamara pun balas mencium kedua pipi sang anak.
"Assalamu'alaikum," ucap Bella. Semenjak bersama Tamara, Bella sedikit lebih religius, karena Tamara orangnya juga religius. Dia selalu memakai hijab kemanapun ia pergi.
"Wa'alaikum salam."
***
Tiba dirumah lamanya, lebih tepatnya tempat ia tinggal selama ini jika berada di Indonesia, Bella segera memasuki rumahnya.
"Assalamu'alaikum," salam Bella memasuki rumah itu.
"Wa'alaikum salam, siapa sih yang datang?" Lucia mengerutu sambil melangkah kedepan. "Kog iya orang minta sumbangan di biarkan ma ... "
"Bellaa," pekik Lucia kegirangan. dia merentangkan tangan sembari terus melangkahkan kakinya begitu juga Bella.
Mereka berpelukan melepas rindu seakan sudah bertahun tidak bertemu.
"Mamaa ... Bella kangen sama Mama," ungkap Bella bermanja di pelukan Lucia.
"Mama juga sayang, Mama pikif Bella udah lupa sama Mama dan Papa." Mata Lucia pun mulai berembun.
"Ya ngak lah ma, mana mungkin Bella lupain Mama sama Papa." Mereka melangkah menuju ruang keluarga.
__ADS_1
"Bella udah sarapan sayang?"
"Udah tadi di rumah Ma, o iya, Papa sama kak Megan kemana Ma?" tanya Bella karena tidak menemukan dua sosok itu.
"Megan ke kantor, sedangkan Papa keluar pulau tadi subuh. Katanya ingin memantau lokasi buat pembangunan perusahaan yang baru disana. Rencana Papa sama Megan mau buka cabang disana."
Bella hanya mengangguk mendengar penuturan sang Mama angkat.
"O iya Ma, Bella mau ngambil sesuatu, ada barang Bella yang ketinggalan," ungkapnya.
"Barang apa, Nak? ya kalau mau diambil, ambil aja sayang, rumah ini masih rumah Bella kok, jangan kayak orang asing gitu." Lucia mengingatkan Bella agar jangan pernah merasa asing dirumah itu.
"Iya Ma, cuma buku kok." Bella pun tersenyum.
"Ya sudah, mau diambil sekarang?"
"Iya ma." Bella pun bangkit dari duduk hendak menuju kamar.
"Mama ngak usah ikut, tunggu aja disini, nanti kita ngobrol lagi. Bella sebentar kok," larang Bella saat melihat Lucia juga ikut berdiri.
"Ya sudah, Mama tunggu disini."
Bella pun melangkahkan kakinya menuju kamar, tempat ia tidur selama tinggal dirumah itu.
Dia langsung mencari apa yang ingin ia cari. Membuka laci paling bawah dimana dia meletakkan Diary nya selama ini, tapi ternyata laci itu kosong.
"Duuuh, dimana sih? kok ngak ada," gumamnya. Kemudian membuka lemari pakaiannya, berharap buku itu ada disana.
Di obrak-abriknya semua isi lemari, berharap buku keramat itu ada terselip diantara pakaian yang ada di dalam lemari.
Tetap saja dia tidak menemukannya.
"Apa iya kak Megan mengambilnya? kalau iya kenapa ngak dikasihnya sama aku?"
"Loh, Bella, kamu cari apa? kog di obrak-abriknya isi lemari mu?" tanya Lucia penasaran, karena kamar Bella sudah seperti kapal pecah.
"Loh Mama kesini?" tanya Bella terkejut juga dengan kehadiran Lucia.
"Iya, mama nunggu kamu dibawah, tapi karena kamu ngak turun-turun, ya mama cek ke atas, barang kali kamu ketiduran," jelas Lucia.
"Cari apaan sih?"
"Ini Ma, Bella cari sesuatu, apa mama melihatnya?"
"Ya apa sesuatu itu, kalau kamu ngak bilang namanya mana mama tau melihat atau enggak nya," sahut Lucia.
"Diary Bella Ma," ucap Bella pada akhirnya.
__ADS_1
"Oh Diary, mama pikir apaan."
"Mama lihat?" tanya Bella penuh harap tapi juga was-was.
"Engak, mungkin kakak kamu yang ambil, kan dia yang beresin semua barang Bella," ungkap Lucia.
"Huft ..." Bella menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau memang kak Megan yang ambil, trus kenapa ngak dikasih sama Bella? masa iya dia suka baca Diary, ngak mungkin kan Ma?"
"Hmm ... mending tanya aja sama kakak Bella itu, barang kali dia lupa masukkan nya," hibur Lucia karena melihat wajah Bella terlihat sedih.
"Lama dong Ma, kak Megan kan pulangnya sore."
"Kalau gitu coba ditelvon aja!" usul Lucia.
"Nanti aja lah ma. Yuk kita nonton," ucap Bella bangkit dari duduknya. "Bella kangen nonton bareng sama Mama." Dia merangkul lengan Lucia dan bermanja disana.
"Ayok, nanti suruh aja si Bibi buat beresin kamar ini." Merekapun melangkah keluar menuju ruang keluarga untuk menonton bersama, bukan bersama sihcuma berdua.
Mereka asik menonton dan setelah itu makan siang dan menghabiskan waktu bersama melakukan kegiatan lainnya, membuat Bella melupakan tujuannya datang kerumah itu.
Sore hari, ketika mereka makan bakso diteras, tadi Bella bilang kalau dia pengen makan bakso, jadilah si sopir pergi keluar untuk membelinya, terdengar suara mobil memasuki gerbang.
"Nah itu kak Megan," ucap Bella girang.
"Bella ... " ucap Megan ketika ia telah sampai diteras rumah. Kemudian dia memeluk tubuh ramping sang adik. Bellapun membalas pelukan itu. Terasa beda, tapi mereka mengabaikan rasa itu.
"Kakak kangen banget sama kamu." Bella tertawa mendengar ucapan Bella.
"Kakak ini, kita kan kemarin masih ketemu." Megan menggaruk tengkuknya karena merasa konyol, padahal memang mereka masih ketemu kemaren, tapi entah kenapa Megan merasa sangat merindukan sang adik.
Padahal waktu itu selama dua tahun mereka tidak bertemu, tapi rasanya Megan tidak serindu ini.
"Iya iya, hehehe." Mengan hanya cengengesan. Hilang sudah wibawanya kalau sudah didekat Bella.
"Kakak mau bakso?" tawar Bella.
"Mau banget, cuaca dingin begini memang cocok makan yang panas-panas," sahut Megan seraya duduk di sebuah kursi dekat Bella.
"Sini Bella suapin." Bella mulai menyuapi Megan, setalah itu menyuapi diri sendiri, begitu aja seterusnya hingga bakso itu habis.
"O ya kak, Bella kesini mau cari sesuatu yang ketinggalan, batang kali kakak melihatnya," ucap Bella setelah mereka sudah di ruang kelurga.
"Sesuatu apa?" tanya Megan penasaran.
"Diary kak."
*****
__ADS_1