(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
42. Kecemasan


__ADS_3

"Percayalah Bella, saya tidak berbohong. Jangan kamu lanjutkan perjodohan ini. Kamu akan menderita bersama nya."


"Saya masih belum mengerti, mengapa Mbak berbicara seperti itu? Kenapa Mbak begitu yakin dengan apa yang Mbak ucapkan?"


"Jika kamu masih tidak percaya dengan saya, kamu bisa menanyakannya sama kakak kamu , Bella," pasrah Jessica.


Dia tidak tau lagi bagaiman meyakinkan Bella. Dan dia juga paham, kenapa Bella tidak mempercayainya, karena Bella tidak begitu mengenal nya, dan juga tidak ada bukti tentang ucapannya itu.


"Tapi ... dari mana Mbak tau kalau calon suami saya seperti itu?" tanya Bella mulai mempercayai ucapan Jessica.


Jessica pun tersenyum, itu artinya Bella mulai mempercayainya. Bukan apa, Jessica hanya ingin menyelamatkan Bella, dia tidak ingin adik orang yang masih dicintainya bernasib sama seperti nya.


"Saya memang mengetahui semua tentang dia, apalagi keburukannya, karena saya adalah man- "


"Bella ... kamu ngapain disini. Aku tungguin dari dari tadi, ternyata kamu disini?" Putra datang menghampiri mereka yang sedang bicara, wajahnya tampak masam, seperti akan marah, tapi dia tidak mau kemarahan nya di lihat Bella.


"Eh, Mas. Ini ... perempuan yang malam itu, yang bersama seorang anak kecil yang menangis itu," terang Bella menunjuk Jessica.


Tentu saja Putra mengetahuinya, tapi tetap berpura-pura tidak tau.


"Perempuan yang mana?" tanyanya seakan tidak mengingat.


"Itu loh ... yang anaknya nangis di kaki kamu, yang di parkiran cafe malam itu."


"Owh ... iya Mas baru ingat. Perempuan ini yang Mas pecat waktu lalu, tapi dia tidak mau di pecat, jadilah dia seperti hantu yang seperti menguntit Mas."


"Hantu katamu. Kau itu yang Hantu, kelakuan mu sangat buruk dan mengerikan, lebih mengerikan dan lebih menakutkan dari hantu." batin Jessica.


"Tapi Mas tidak mau lagi menerima karyawan yang tidak jujur seperti dia. Kamu tau sayang, dia ini telah menggelapkan uang perusahaan, meskipun tidak banyak, tapi hal itu sangat tidak layak di maafkan, karena jika dimaafkan, orang seperti itu akan ngelunjak."


"Aneh kamu Mas, kemarin bilang kalau dia orang yang menyukai mu, dan begitu terobsesi padamu, sekarang bilang kayak gini. Apa jangan-jangan kamu memang pembohong dan seorang penjahat ... penjahat kelamin." batin Bella mulai mencurigai calon suaminya.


"Ayo masuk Sayang. Jangan sampai kamu dihasut sama dia, dia itu bukan perempuan baik-baik." Putra menarik tangan Bella agar beranjak dari hadapan Jessica.


"Bella ... " Jessica menahan tangan Bella, tapi di tepis oleh Putra.


"Eh anda... saya sebentar lagi akan menikah, dan tolong jangan ganggu saya, saya tidak punya waktu melayani anda," tekan putra pada Jessica. Diapun menarik tangan Bella.

__ADS_1


"Bella ... percaya sama ucapan saya. Dia bukan laki-laki yang baik, sebelum terlambat, akhiri semuanya!" teriak Jessica saat Bella semakin jauh.


Bella hanya mampu memandang Jessica dengan kaki yang terus di langkahkan nya karena Putra terus menarik tangannya.


"Apa yang telah di ucapkan perempuan itu, jangan sampai dia mengatakan siapa aku. Bisa gagal pernikahan ini jika Bella mengetahui bagaimana aku selama ini." Putra merasa cemas.


Dia tidak ingin gagal menikahi Bella, karena dia sudah tau siapa Bella dan kekayaan yang akan di milikinya setelah mereka menikah.


Sebenarnya Putra mencintai Bella, akan tetapi, obsesi nya pada harta juga sangat besar. Hal itu juga lah yang membuat Jessica begitu bersikukuh agar Bella menghentikan semuanya, dia takut jika nanti Bella akan di tinggal kan setelah semua hartanya diambil Putra.


***


Sementara di Pulau terpencil, Megan yang merindukan adik dan kedua orang tuanya, berusaha menghubungi mereka.


Bella yang sedang berbicara dengan calon suami di ruang tamu, tidak mengetahui kalau handphone nya berbunyi, tentu saja dia tidak mengetahuinya, karena handphone nya tertinggal di kamarnya di lantai atas.


"Bella kemana sih? apa dia tidak tau kalau kakak nya ini sangat merindukan nya. Mana mencari sinyal sejauh ini lagi," gerutu Megan, karena Bella tidak mengangkat telpon nya.


Megan merasa kesal karena sudah beberapa kali mencoba menghubungi nya, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Tentu saja Megan kesal, karena untuk mendapatkan sinyal, Megan harus keluar dari pulau yang jaraknya sangat jauh dengan jalan yang sangat tidak layak di lalui. Dia harus ke perbatasan jika ingin mendapatkan sinyal jika ingin menggunakan handphone nya.


"Assalamu'alaikum, Nak," ucap salam Lucia setelah mengangkat panggilan sang anak.


Sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan sang anak, Lucia tentu saja sangat merindukan anaknya.


"Wa'alaikum salam, Ma. Mama apa kabar?" sahut Megan yang juga merindukan sang ibu.


"Alhamdulillaah sehat, Sayang. Kamu apa kabar Nak? bagaimana pekerjaan kamu, apa udah selesai?"


"Aku juga sehat, Ma. Masih belum selesai, Ma, mungkin dua bulan lagi." Terang Megan.


"O iya ... Bella apa kabar Ma, kenapa dia tidak mengangkat telpon aku?" tanyanya penasaran.


"Nah ... itu dia, ada yang mau Mama sampaikan sama kamu Megan."


"Ada masalah apa Ma?" tanya Megan memotong ucapan ibunya.

__ADS_1


"Ini tentang Bella."


"Bella kenapa Ma? apa yang terjadi padanya?"


tanya Megan sudah merasa khawatir pada sang adik.


"Ya kamu dengerin Mama ngomong dong. Mama kan belum selesai bicara."


"Maaf, Ma. Baiklah aku dengar. Sekarang bicaralah."


"Bella di jodohkan sama Mama nya."


"APA?" semua yang mendengar suara keterkejutan Megan juga ikut terkejut dibuatnya, termasuk sang asisten, Barry.


Dia yang berada tidak terlalu jauh dari Megan, benar-benar terkejut mendengar suara Tuannya.


"Astaghfirullaah, hampir aja copot jantung ku," batin Barry mengurut dadanya.


"Suara kamu bisa pelan dikit ngak sih kalau terkejut. Ngak usah teriak gitu, telinga Mama yang jadi korban nya."


"Maaf Ma. Aku benar-benar kaget mendengar nya. Bercanda nya jangan kayak gitu dong Ma. Jangan mentang-mentang aku ngak pulang beberapa bulan ini, Mama malah mengerjaiku begini. Pasti mama menyuruh ku pulang kan?"


Megan berharap yang diucapkan Mamanya hanyalah candaan semata agar dirinya segera pulang.


"Mama tidak bercanda Megan, ini kenyataan. Bella dijodohkan ibunya dengan anak temannya."


"Tapi kenapa harus di jodohkan, bukankah Bella masih Muda. Aku aja yang udah tua ngak mau di jodoh-jodohkan," ungkap Megan lemah.


"Jadi sekarang kamu sudah mengakui kalau kamu sudah tua ya." Lucia malah meledek sang anak.


"Mama kok malah ngeledek aku? sekarang ngak usah bahas soal aku, kita sekarang sedang membahas masalah Bella." Megan malah sewot jadinya.


"Malah sewot kamu, pantasan ngak laku-laku." Lucia kembali meledek Megan.


"Udah, Ma. aku serius nih, Mama jangan bercanda. Jangan-jangan Mama bener membohongi ku."


"Mama tidak berbohong tentang Bella. Dia akan menikah besok lusa."

__ADS_1


"APA?"


*****


__ADS_2