(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
34. Dirumah Lucia


__ADS_3

"Diary Bella ketinggalan kak, apa kakak melihatnya?" tanya Bella menatap mata Megan.


"Hmm ... tidak," jawab Megan sedikit salah tingkah. "Mungkin kamu lupa dimana menaruhnya." Megan kembali berusaha menstabilkan dirinya.


"Yang benar? tapi tadi Bella cari di semua laci dan lemari kok ngak ketemu? dikoper yang dijemput kemaren juga ngak ada."


"Ya mana kakak tau, lagian kalau kakak menemukannya, pastilah kakak kasih ke kamu, buat apa coba kakak menyimpannya." Dalih Megan.


"Ya kali aja kakak menemukannya, trus lupa mengembalikannya sama Bella," ucap Bella lagi mencoba mencari kebenaran yang diucapkan kakaknya.


Bella merasa jikalau kakaknya berbohong, terlihat dari caranya menjawab yang sedikit agak gugup.


"Ngak lah, kakak kakak kan ngak suka yang begituan," elak Megan. Keukuh dengan kebohongannya.


"Aneh, masa iya hilang gitu aja, apa jangan-jangan diambil setan," ucap Bella mencoba memancing sang kakak.


"Enak saja bilang kakak setan." Dan benar saja Megan terpancing.


"Loh Bella kan ngak bilang kakak setan, yang Bella bilang jangan-jangan yang ngambil Diary Bella itu setan, bukan bilang kak Megan setan. Apa jangan-jangan kakak yang ngambil?" tanya Bella penuh selidik.


"Ya ngak lah, tadi kan sudah kakak bilang, coba cari lagi, siapa tau ada tempat yang terlewatkan." Megan memberi saran agar tidak dituduh lagi.


"Ya sudahlah kalau memang bukan kakak." Bella tidak berhasil membuat sang kakak buka suara.


Bella benar-benar yakin kalau kakak nya lah dalang dibalik hilangnya buku keramatnya itu.


"Ya sudah, kakak kekamar dulu, mau mandi." Megan bangkit dan melangkah menuju kamar.


"Kamu nginap disini?" tanya Megan menghentikan langkahnya.


"Ngak kak, bentar lagi Bella balik, mandi gih, bauk tau." Bella menutup hidungnya seakan Megan benar-benar bau, padahal baunya tetap wangi membahana.


"Iya, tunggu kakak selesai mandi baru boleh berangkat, awas kalau sampai pergi sebelum kakak selesai."


"Elleeh ... ngancam-ngancam, memang kakak mau apa kalau Bella ngak nurut." Tantang Bella dengan kedua tangan dipinggang nya.


"Udah ah, berdebat sama kamu itu ngak bakalan selesai-selesai." Megan meneruskan langkahnya menuju kamar.


"Aku yakin, pasti kak Megan yang ngambil, tapi kenapa harus bohong segala sih?" gumamnya kembali mendudukkan tubuhnya.


"Bell, ini jeruk peras nya." Lucia datang dengan nampan berisi tiga gelas jeruk peras panas ditangannya. "Megan mana?" tanyanya seraya menaruh nampan berisi tiga gelas itu di atas meja.


"Waahhh, segar nih, tapi mama kog bikin jeruk peras dingin-dingin begini, kak Megan lagi mandi ma," sahut Bella.


"iya, ngak dingin kog, ini jeruk peras panas, cocok buat cuaca dingin begini," sahut Lucia kemudian menyerahkan segelas untuk Bella dan mengambil lagi untuk dirinya.


"Makasih maaa." Bella menerima nya kemudian dia menyeruput jeruk peras itu hingga setengah.

__ADS_1


"Seger ..."


"Kamu haus apa gimana?"


"Hehehe, habis enak ma," Jawab Bella cengengesan.


sedang asik becengkrama, bunyi ponsel Bella menghentikan obrolan mereka.


"Hallo ma." ternya mama Tamara yang menelpon.


"Assalamu'alaikum, Nak," ucap orang diseberang sana.


"Eh iya lupa baca salam, hehehe. Wa'alaikum salam ma."


"Bella dimana sekarang?" tanya Tamara.


"Masih ditempat mama Lucia ma."


"Owh... Bella nginap disana, Nak?"


"Tidak ma, bentar lagi Bella balik."


"Ya sudah, mama cuma mau nanya itu, hati-hati ya sayang."


"Iya ma."


"Wa'alaikum salam."


Sambungan pun terputus.


"Ma, Bella balik sekarang ya, takut kemalaman dijalan."


"Ya sudah, hati-hati dijalan. Eh tapi kakak mu gimana? nanti dia nyariin," Lucia mengingatkan.


"O iya, hampir aja lupa sama pria aneh satu itu," ucap Bella membuat Lucia tertawa.


"Ya sudah ma, Bella bilang kak Megan dulu." Dia melangkah menuju kamar Megan.


***


"Kak Megan ngapain sih kok lama amat." Bella terus mengerutu sambil melangkah kan kakinya menuju kamar Megan.


Sampai didepan pintu, dia mengetuknya dua kali, bukan tiga kali. Karena tidak mendengar jawaban, diapun akhirnya memutuskan untuk masuk.


"Duuhhh, mana sih? kok belum selesai juga, apa jangan-jangan dia tidur di kamar mandi kali ya."


Bella kemudian terus melangkah kan kaki memasuki kamar, dan karena tidak juga melihat Megan, ia memutuskan menunggu di balkon.

__ADS_1


Sambil melangkah, dia mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ruangan itu. Tiba ditengah-tengah kamar, dia menghentikan langkahnya sejenak.


"Tidak ada yang berubah." Bella tersenyum melihat kamar kakaknya. Sudah sangat lama dia tidak memasuki kamar itu, tapi tatanannya tetap tidak berubah, hanya cat dindingnya saja yang diganti.


Sementara foto besar Megan yang sedang memegang gitar masih kokoh bergelantung di dinding, disana terlihat wajah cool sang CEO dingin itu, tapi pesonanya sungguh sangat meresahkan.


Kemudian Bella melihat sebuah figura kecil diatas nakas, dia melangkahkan kakinya semakin dekat menuju nakas itu.


"Sejak kapan kak Megan menaruh foto ini disini," gumamnya dengan tersenyum.


Karena difoto itu terlihat dua manusia yang sangat bahagia, terbukti dari senyuman lebar keduanya, sementara pipi keduanya saling menempel.


"Ini kan waktu di Inggris." Dia meraba foto itu, teringat ketika mereka pergi jalan-jalan, dan sebelum pulang, menyempatkan untuk berfoto berdua.


Bella teringat akan sesuatu, dia meletakkan kembali foto itu.


"Pasti kak Megan menyimpannya disini," gumamnya. Kemudian tangannya bergerak meraih laci nakas, dan perlahan membukanya.


Brak


Tiba-tiba laci yang dipegang Bella ditutup dengan kasar. Bella benar-benar terkejut dibuatnya, untung saja tidak jantungan.


"Bell, kamu ngapain kekamar kakak?" tanya Megan. Dia tidak suka lacinya dibuka orang lain, termasuk Bella untuk sa'at ini, karena di laci itu ada sesuatu yang Megan sembunyikan.


"Duh ... kakak bikin kaget aja." Bella mengusap-usap dadanya. "Ngak ada apa-apa kok, tadi Bella nunggu kakak, tapi kakak kok lama banget, ngapain aja dikamar mandi, tidur?" Sewot Bella.


"Tadi kakak buang hajat, lagian kamu ngapain kesini?" Jawabnya ketus.


"Idiiih, sensi amat, datang bulan ya?" Bella malah mengejek sang kakak. "Tadi tu Bella mau pamitan sama kakak, taunya nyampe sini belum kelas juga kekamar mandinya."


"Ya udah, tunggu kakak dibawah, kakak mau pake baju."


Bella pun berdiri dan melangkah hendak keluar kamar sang kakak. Tapi karena lantai licin akibat air yang berjatuhan dari badan dan rambut Megan membuat kaki Bella kepeleset dan nyaris jatuh.


Untung saja Megan masih berada didekat nya, sehingga bisa menangkap tubuh langsing Bella, tapi sayang, karena lantai yang dipijak Megan juga licin, sehingga menyebabkan Megan tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, alhasil mereka jatuh berdua, dan untung saja jatuhnya ke atas kasur, kalau tidak Bella pasti kesakitan.


Posisi jatuh mereka terasa sangat intim, bagaimana tidak, tubuh Megan menghimpit tubuh mungil Bella, tapi entah pengaruh dari apa, hingga Bella tidak menyadari hal itu.


Sesa'at mereka terdiam dalam posisi itu, dua pasang mata saling tatap, dan jantung keduanya berdetak semakin cepat sangat jelas terdengar oleh mereka, dan suara detakan itu seperti irama yang melenakan.


Hingga keduanya benar-benar terlena oleh situasi dan kondisi.


Perlahan Megan mendekatkan wajahnya, dan entah magnet dari mana, kelopak mata Bella tertarik untuk menutup bola matanya. Seiring wajah Megan yang semakin mendekat, mata indah itu pun semakin menutup.


Semakin dekat dan semakin dekat, hingga jarak hidung mancung mereka tinggal satu centi lagi. Daaan ....


"Astaghfirullah, apa yang kalian lakukan?"

__ADS_1


*****


__ADS_2